Matius
26:57-64
Ketika kita diperhadapkan dengan fitnah dan saksi-saksi dusta apa yang
akan kita lakukan? Tidak sedikit bahkan hampir semua diantara kita akan
menjawab dan melakukan pembelaan diri. Bahkan belakangan ini kita banyak
menyaksikan para tersangka kasus korupsi melakukan pembelaan diri dengan
memanipulasi fakta untuk sedapat mungkin meringankan hukuman atau bebas. Sehari-hari
kita juga akan sangat rektif terhadap orang yang salah mengerti dengan kita. Kebebasan
tak terbatas dalam mengutarakan pendapat di media atau jejaring sosial
menunjukkannya. Lihat saja dalam jejaring-jejaring sosial, begitu banyaknya
orang latah dalam membuat komentar atas sebuah pernyataan seseorang. Bahkan perang
kata seakan tidak masalah di ruang publik. Berbicara menjadi sedemikian
subjektif seolah tidak ada tanggungjawab moral dan etika bagi seseorang.
Setelah Yesus ditangkap, Dia dibawa ke hadapan imam besar Kayafas. Maka
pada Yesus dihadapkan saksi-saksi dusta untuk mencari kesalahan Yesus agar
dijatuhi hukuman mati. Tetapi Yesus tidak melakukan pembelaan diri. Dalam perikop
yang kita baca dikatakan Yesus diam. Apakah Yesus tidak dapat membela diri?
Bisa saja, tetapi Yesus tahu, bagimanapun ia membela diri, itu hanya akan
membuat Imam Besar semakin emosional karena semua pembelaan diri Yesus
menyangkut harga diri Kayafas sebagai imam besar. Hal ini nampak ketika dua
orang bersaksi tentang pernyataan Yesus yang akan membangun bait Allah dalam
tiga hari. Imam Besar itu memaksa Yesus berespon dan bertanya benarkah Yesus
Mesias. Yesus menjawab bahwa kayafaslah yang mengetakannya dan bahkan
orang-orang itu akan melihat Yesus dipermuliakan. Maka Kayafas menjadi sangat
marah.
Yesus tahu siapa yang sedang dihadapi-Nya. Iman Besar dan ahli-ahli
taurat telah mempunyai kesimpulan dalam diri mereka tentang Yesus. Jadi apapun
pembelaan diri Yesus hanya akan menyulut emosi dan amarah mereka. Yesus tahu
persis apa yang harus dikatakannya dan saat kapan. Kita adalah saksi Kristus
dan harus menyaksikan Iman kita kepada banyak orang. Tetapi kita memerlukan
hikmat dalam bersaksi. Kepekaan kita akan pimpinan Roh Kudus akan membuat kita peka kapan
harus berbicara dan apa yang harus diucapkan.
Ditengah derasnya arus informasi
dan ketika kata-kata berubah menjadi bentuk digital dalam dunia maya kita di
dorong untuk begitu rekatif dalam berkomentar. Kita tidak sempat diam dan
berpikir secara dalam. Sehingga dalam percakapan kita sehari-hari kita terbawa untuk begitu reaktif. Menggunakan bahasa-bahasa singkat atau kalimat-kalimat pendek yang cendrung refleks serta mudah terbawa emosi kepada sesuatu yang mengusik perasaan. Secara praktis kita harus mengenal siapa lawan bicara kita dan
kira-kira apa yang dia pikirkan dan apa reasinya terhadap kita. Jika misalkan
kita sedang berbicara pada seorang yang sejak awal ingin mendebat kita dan
menjatuhkan kita, sebaiknya kita minta Roh Kudus menolong kita menahan diri dan
berhikmat mengalihkan pembicaraan pada hal-hal yang menyenangkan. Terkadang yang
diperlukan orang lain bukan kata-kata tetapi ungkapan perhatian dan kasih
melalui tindakan. Atau mungkin orang itu hanya perlu didengar lebih dahulu.
Dari setiap kata-kata kita hendaknya terpancar siapa kita. sebagai orang yang telah hidup dalam Kristus , iman kita harus terpancara dari kata-kata kita saat berbicara baik langsung maupun dalam dunia maya. Hari ini kita belajar satu prinsip kebenaran Firman Tuhan, kita harus tetap memohon hikmat dan pimpinan Roh Kudus menuntun kita untuk berbicara sehingga kita dapat berbicara atau memberi komentar dengan tepat dan waktu yang tepat.
Kesaksian kita adalah kesaksian Roh.
Roh Kudus yang akan menuntun kita
untuk bersaksi dan berkata-kata.