Yohanes 15:1-16
Pada bagian pertama perikop ini yaitu ayat 1-8 merupakan sebuah
pengandaian langsung oleh Yesus bahwa Dia adalah pokok anggur yang benar dan
murid adalah ranting-rantingnya. Bagian ini menunjukkan sebuah hubungan organis
antara Yesus dan murid. Ada sebuah persekutuan. Hubungan organis ini menurut
Yesus adalah tinggal di dalam Dia. Yesus mengulang sampai beberapa kali agar
murid-murid tinggal di dalam Dia karena hanya tinggal di dalam Yesus murid akan
tumbuh dan berbuah banyak.
Bagian kedua perikop ini yaitu ayat 9-10 menjelaskan pernyataan
tinggal di dalam Yesus. Yesus berkata, sama seperti Yesus mengasihi Bapa,
demikianlah Yesus telah megasihi murid-murid-Nya, maka murid harus tinggal di
dalam Yesus. Jadi, tinggal di dalam Yesus berarti tinggal di dalam Kasih-Nya.
Bagian ketiga perikop ini yaitu ayat 11-16 menjelaskan arti dari
tinggal di dalam Kasih Yesus. Yesus berkata bahwa tidak ada kasih yang lebih
besar daripada kasih yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya dan Yesus
berkata dengan jelas bahwa murid-murid adalah sahabat-Nya. Jadi tinggal di
dalam kasih Yesus berarti tinggal di dalam kasih pengorbanan Yesus yang membawa
keselamatan. Dan bukan murid yang memilih Yesus tetapi Yesuslah yang memilih
murid. Jadi Yesuslah yang memilih murid sebagai sahabat yang menerima kasih
pengorbanan-Nya yang menyelamatkan untuk dapat bersekutu kembali dengan Allah
agar murid-murid berbuah banyak. Buah itu adalah kasih kepada sesama. Sebagai perintah
Yesus berkata agar murid saling mengasihi.
Kita bersyukur untuk kasih Yesus yang membawa keselamatn manusia. Apakah
kita telah menikmati kasih-Nya itu secara pribadi dan telah mengalami pemulihan
hubungan dengan Allah? Hanya ketika datang kepada Yesus dan menerima-Nya secara
pribadi maka kita akan dipulihkan di dalam kasih-Nya dan kita kembali mengalami
persekutuan dengan Dia seperti ranting yang di cangkokkan kepada batang yakni
Yesus sebagai pokok anggur yang benar.
Hari ini, sebagai orang Kristen kita pasti mengikuti berbagai ibadah
peringatan kematian Yesus. Semua itu tidak akan berarti dan tidak menghasilkan
buah jika kita belum menerima kasih Yesus yang berkorban itu secara pribadi dan
jika kita belum mengizinkan kasih-Nya itu memulihkan hubungan kita dengan
Allah, kita hanya ranting-ranting yang tidak terhubung dengan Allah. Mungkin kita
menangis, tersentuh atau terharu saat mengikuti ibadah tetapi itu hanya
sementara. Karena itu, mari memeriksa diri kita. Mari menerima Yesus secara
pribadi dan izinkan kasih-Nya memulihkan kita dengan demikian kita kembali
dicangkokan kepada pokok kebenaran yaitu Yesus sendiri, sehingga Jumat agung
bukan hanya rutinitas tahunan tetapi sebuah peringatan pemulihan hubungan kita
dengan Allah melalui darah Yesus . Hanya dengan demikian juga kita dapat
berbuah yakni membagikan kasih yang kita terima kepada sesama kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar