1 Korintus 13:4-7
Sepanjang hari kemarin, umat Kristiani memperingati hari kematian
Yesus dengan sangat khusuk. Beberapa gereja memanfaatkan momen ini untuk
melakukan kebaktian kebangunan rohani. Sepanjang dinding FB tentu begitu banyak
ekspresi dan ucapan peringatan kematian Yesus di kayu salib. Begitu banyaknya
dan pada dasarnya semua mengakui kasih Kristus yang sedemikian besar. Tentu
kita semua setuju akan kasih Yesus sebagai kasih terbesar di dalam dunia. Banyak
yang menyatakan rasa syukur atas kasih Yesus yang mendatangkan keselamatan
melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Tetapi kemudian saya mulai berpikir
sedemikian tampak sangat rohanilah orang-orang Kristen dalam ibadah maupun
dalam ekspresi peringatan kematian Yesus, lantas apa dampaknya dan apakah itu
melahirkan komitmen yang semakin dalam untuk mengasihi Tuhan.
Paulus dalam 1 korintus 13:4-7 menuliskan apa itu kasih. Bagian ini
terletak dalam konteks panjang. Paulus telah lebih dulu membahas kekayaan
gereja yang penuh dengan karunia-karunia dan apa tujuannya karunia jemaat dalam
gereja (12:1-31). Setelah bagian ini nantinya Paulus akan membahas lebih
terperinci karunia-karunia sebagai pemberian Tuhan bagi gereja (14:1-25). Gereja
dapat menjadi sedemikian berkembang oleh kekayaan karunia yang ada dalam gereja
itu tetapi seperti jemaat di korintus kekayaan karunia dalam gereja dapat pula
memecah jemaat dan cendrung membuat gereja sombong. Karena itu Paulus memberi
sebuah reffrein di antara pembahasan kekayaan gereja ini (13:1-13). Paulus
berkata jika ia tidak memiliki kasih maka sama sekali ia tidak berguna. Apakah
penanda utama gereja adalah kasih.
Dalam bagian ini Paulus menyatakan arti kasih itu sendiri. Dalam pengertian
kasih yang dipaparkan ini maka kasih itu adalah Yesus sendiri. Hanya ketika
kita ada di dalam Kristus maka kita dapat mampu sabar sebagaimana Yesus sabar
atas keadaan manusia, di dalam Yesus kita akan mampu mengakui kelebihan orang
lain bukan mencemburuinya dan tidak melebih-lebihkan karunia dalam diri atau
menyombongkannya. Kasih di dalam Yesus akan mendorong kita untuk teratur bukan
melakukan yang tidak sopan, mengutamakan orang lain bukan mencari keuntungan
diri. Kasih di dalam Yesus memapukan kita menahan diri dan tidak merasa berhak
marah atau sakit hati sehingga kita senantiasa dapat mengampuni dan melupakan
kesalahan orang lain karena kita menyadari kita telah menerima pengampunan dari
Yesus secara cuma-Cuma. Kasih di dalam
Kristus akan membuat kita berduka atas setiap ketidakadilan dan tidak akan mau mendukung
bahkan melakukan ketidakadilan tetapi dengan menegakkan kebenaran dan kasih
mendorong kita untuk banyak menolong dengan demikian kita bisa banyak menutupi
kekurangan orang-orang di sekitar kita, kasih kita di dalam Yesus memampukan
kita melihat kebenaran hingga kita dapat berharap atas kasih yang menyentuh
banyak orang. Dengan demikian kita dapat sabar menanggung segala sesuatu
sebagaimana Yesus telah melakukannya.
Gereja dapat melakukan perayaan dengan berbagai kekayaan karunia yan
dimilikinya atau setiap orang Kristen dapat merayakan dan megekspresikan Kasih
Yesus di Golgota tetapi semua itu dapat berlalu dan tidak mempengaruhi apa pun
dalam diri kita karena kita hanya merefleksikan, menghayati dan merayakannya
tanpa diikuti menerima kasih itu dan menyatakannya bagi banyak orang.
Biarlah peringatan kematian dan kebangkitan Yesus bukan hanya perayaan
kasih terbesar di kayu salib tetapi
menjadi penanda utama dalam hidup kita bahawa kita semakin hidup di dalam kasih
itu. Dengan demikian kita dapat berkata tetapi jika aku tidak memiliki kasih
aku sama sekali tidak berguna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar