Galatia 2:11-14
Ketika saya
bertobat dan menerima Yesus, saya mulai mengikuti sebuah pembinaan dalam
kelompok kecil. Saya masuk kedalam komunitas orang-orang percaya. Saya merasakan
sebuah kekuatan persekutuan. Saya kembali dapat mempercayai orang lain. Bahkan saya
sangat percaya pada orang-orang yang ada dalam persekutuan. Aku melihat kesungguhan dan kehidupan yang apa
adanya sehingga aku menaruh percaya pada mereka. Sampai suatu hari, dalam
sebuah pertemuan, saya berbicara mengevaluasi kinerja pelayanan seorang saudara
di dalam Tuhan. Tidak ada niatan apapun, bahkan saya benar-benar berbicara
karena saya tahu kami adalah saudara. Tetapi di akhir acara, secara tiba-tiba
dia berkata bahwa aku telah menghakiminya. Aku terkejut dan menjadi lemas. Sepanjang
malam aku dilanda krisis. Semua kesanku dalam komunitas di defenisi ulang. Aku tidak
dapat percaya bahwa ketulusanku disalah arti. Masihkah sesama orang percaya
saling mencurigai? Ternyata tahapan ini merupakan tahapan pendewasaan dalam
iman.
Petrus ditegur
keras oleh Paulus. Persoalannya, Petrus bukan secara sengaja melakukan
kemunafikan tetapi karena menjaga perasaan orang jahudi terhadap dia, akhirnya
Petrus menjadi berdua muka dan itu sama dengan kemunafikan. Sebagai saudara
seiman, Paulus tentu harus menegur Petrus. Paulus menegur Petrus sesuai dengan
Firman Tuhan, bukan bermaksud menjatuhkan atau mempermalukan Petrus. Paulus sungguh-sungguh
menegurnya di dalam Tuhan. Dalam perikop
ini, tidak diberitahukan bagaimana kelanjutan hubungan Petrus dan Paulus tetapi
di kemudian hari, pelayanan Petrus akhirnya semakin terbuka dan dapat menerima
orang-orang bukan Yahudi.
Untuk mendewasakan
kita, kita perlu mendapat teguran dari saudara seiman dan dalam Tuhan kita
harus menegur saudara kita untuk pertumbuhannya. Mungkin pada awalnya kita
tidak siap dan seringkali hubungan menjadi tidak nyaman tetapi di dalam kasih
Yesus yang mempersatukan kita, kita akan semakin bertumbuh dan saling
mendewasakan.
Keesokan harinya,
aku pergi ke sekretariat dan menjumpainya dan mengajaknya berbicara berdua. Aku
meminta maaf kalau ternyata aku telah menyinggungnya dan aku memulihkan
hubunganku dengannya. Dan aku tahu dia tetap menjadi saudaraku di dalam Yesus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar