Rabu, 16 Mei 2012

Ditegur, Menegur dan Saling Mendewasakan


Galatia 2:11-14

Ketika saya bertobat dan menerima Yesus, saya mulai mengikuti sebuah pembinaan dalam kelompok kecil. Saya masuk kedalam komunitas orang-orang percaya. Saya merasakan sebuah kekuatan persekutuan. Saya kembali dapat mempercayai orang lain. Bahkan saya sangat percaya pada orang-orang yang ada dalam persekutuan.  Aku melihat kesungguhan dan kehidupan yang apa adanya sehingga aku menaruh percaya pada mereka. Sampai suatu hari, dalam sebuah pertemuan, saya berbicara mengevaluasi kinerja pelayanan seorang saudara di dalam Tuhan. Tidak ada niatan apapun, bahkan saya benar-benar berbicara karena saya tahu kami adalah saudara. Tetapi di akhir acara, secara tiba-tiba dia berkata bahwa aku telah menghakiminya. Aku terkejut dan menjadi lemas. Sepanjang malam aku dilanda krisis. Semua kesanku dalam komunitas di defenisi ulang. Aku tidak dapat percaya bahwa ketulusanku disalah arti. Masihkah sesama orang percaya saling mencurigai? Ternyata tahapan ini merupakan tahapan pendewasaan dalam iman.

Petrus ditegur keras oleh Paulus. Persoalannya, Petrus bukan secara sengaja melakukan kemunafikan tetapi karena menjaga perasaan orang jahudi terhadap dia, akhirnya Petrus menjadi berdua muka dan itu sama dengan kemunafikan. Sebagai saudara seiman, Paulus tentu harus menegur Petrus. Paulus menegur Petrus sesuai dengan Firman Tuhan, bukan bermaksud menjatuhkan atau mempermalukan Petrus. Paulus sungguh-sungguh menegurnya di dalam Tuhan.  Dalam perikop ini, tidak diberitahukan bagaimana kelanjutan hubungan Petrus dan Paulus tetapi di kemudian hari, pelayanan Petrus akhirnya semakin terbuka dan dapat menerima orang-orang bukan Yahudi.

Untuk mendewasakan kita, kita perlu mendapat teguran dari saudara seiman dan dalam Tuhan kita harus menegur saudara kita untuk pertumbuhannya. Mungkin pada awalnya kita tidak siap dan seringkali hubungan menjadi tidak nyaman tetapi di dalam kasih Yesus yang mempersatukan kita, kita akan semakin bertumbuh dan saling mendewasakan.

Keesokan harinya, aku pergi ke sekretariat dan menjumpainya dan mengajaknya berbicara berdua. Aku meminta maaf kalau ternyata aku telah menyinggungnya dan aku memulihkan hubunganku dengannya. Dan aku tahu dia tetap menjadi saudaraku di dalam Yesus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar