Sabtu, 05 Mei 2012

Doa vs Curhat


Matius 6:5-17
Roro berjalan dengan terburu-buru dan langsung masuk ke rumah Riri. Sesampainya dia melihat Riri lagi duduk sendiri. Roro duduk di samping Riri dan langsung mencurahkan semua kepenatan hatinya. Bukan sekali ini saja Roro melakukannya. Roro tidka perduli apa yang dirasakan oleh Riri, setiap kali dia ingin bercerita dia akan mencari Riri dan langsung menumpahkan semua kepenatan hatinya. Sebenarnya, ketika Roro bercerita, dia tidak tahu kondisi Riri yang juga ingin berbicara. Artinya Roro tidak mengenal Riri, dia hanya perlu didengar bukan dialog.

Seringkali dalam berdoa juga kita melakukan apa yang dilakukan oleh Roro. Ketika kita merasakan pergumulan, kita datang pada Tuhan dan membukakan secara panjang lebar kondisi kita seakan Tuhan tidak tahu kondisi kita. Kita menyampaikan semua keinginan kita seakan Tuhan alpa dari kehidupan kita dan tidak tahu kebutuhan kita. Bahkan ada sebahagian orang yang merasa kalau berdoa harus sampai menangis, berteriak atau semua isi hatinya ditumpahkan. Apakah doa adalah sebuah cara memuaskan kita secara psikologi.

Ketika kita berdoa, apakah kita sungguh-sungguh membutuhkan dialog dengan Tuhan atau sekedar curhat. Hanya orang yang curhat yang akan bertele-tele dan berkepanjangan sepuas hatinya. Doa adalah sarana bagi kita berdialog kepada Tuhan sang Khalik. Kita yang adalah ciptaan diperkenan datang berkomunikasi dengan Pencipta. Dalam Matius 6: 5-17 ada 2 hal yang diajarkan. Pertama, fokus doa kita adalah Tuhan bukan manusia(5-6). Jadi ketika berdoa kita seharusnya berfokus pada Tuhan bukan pada manusia. Kedua, Doa lahir berdasarkan pengenalan akan Allah (ay 7-17). Jadi berdoa bukan demi kepuasan hati kita tapi sebuah dialog oleh pengenalan akan Dia. Yesus dengan tegas mengingatkan agar kita tidak berdoa berkepanjangan dan bertele-tele seakan Tuhan tidak tahu apa yang kita butuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar