Matius 6:5-17
Roro berjalan
dengan terburu-buru dan langsung masuk ke rumah Riri. Sesampainya dia melihat
Riri lagi duduk sendiri. Roro duduk di samping Riri dan langsung mencurahkan
semua kepenatan hatinya. Bukan sekali ini saja Roro melakukannya. Roro tidka
perduli apa yang dirasakan oleh Riri, setiap kali dia ingin bercerita dia akan
mencari Riri dan langsung menumpahkan semua kepenatan hatinya. Sebenarnya,
ketika Roro bercerita, dia tidak tahu kondisi Riri yang juga ingin berbicara.
Artinya Roro tidak mengenal Riri, dia hanya perlu didengar bukan dialog.
Seringkali dalam
berdoa juga kita melakukan apa yang dilakukan oleh Roro. Ketika kita merasakan
pergumulan, kita datang pada Tuhan dan membukakan secara panjang lebar kondisi
kita seakan Tuhan tidak tahu kondisi kita. Kita menyampaikan semua keinginan
kita seakan Tuhan alpa dari kehidupan kita dan tidak tahu kebutuhan kita. Bahkan
ada sebahagian orang yang merasa kalau berdoa harus sampai menangis, berteriak
atau semua isi hatinya ditumpahkan. Apakah doa adalah sebuah cara memuaskan
kita secara psikologi.
Ketika kita
berdoa, apakah kita sungguh-sungguh membutuhkan dialog dengan Tuhan atau
sekedar curhat. Hanya orang yang curhat yang akan bertele-tele dan
berkepanjangan sepuas hatinya. Doa adalah sarana bagi kita berdialog kepada
Tuhan sang Khalik. Kita yang adalah ciptaan diperkenan datang berkomunikasi
dengan Pencipta. Dalam Matius 6: 5-17 ada 2 hal yang diajarkan. Pertama, fokus
doa kita adalah Tuhan bukan manusia(5-6). Jadi ketika berdoa kita seharusnya
berfokus pada Tuhan bukan pada manusia. Kedua, Doa lahir berdasarkan pengenalan
akan Allah (ay 7-17). Jadi berdoa bukan demi kepuasan hati kita tapi sebuah
dialog oleh pengenalan akan Dia. Yesus dengan tegas mengingatkan agar kita
tidak berdoa berkepanjangan dan bertele-tele seakan Tuhan tidak tahu apa yang
kita butuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar