Pendahuluan
Bulan ini bukan bulan Februari yang
identik dengan bulan kasih sayang tetapi perbincangan akan Cinta akan tetap
mengundang reaksi setiap kali kita membicarakannya. Apakah anda sedang menjalin
hubungan berpacaran dengan seseorang? Atau mungkin anda baru putus dari pacar
anda? Atau juga anda adalah orang yang sedang
menikmati masa-masa single tanpa hubungan berpacaran? Atau mengkin anda
adalah orang yang sedang menanti-nanti atau mencari pasangan? Mari meluangkan
waktu sejenak untuk membaca artikel ini. Mungkin anda tidak mendapat solusi
tentnag masalah yang sedang anda alami tetapi artikel ini akan memberi satu
pemahaman baru sebelum kita melanjutkan penantian, pencarian bahkan hubungan
yang sedang kita jalani. Artikel ini akan berbicara tentang cinta kasih, Cinta
dan Berpacaran, Cinta dan Seks dan akhirnya saya akan mencoba menguraikan
tentang kasih sejati menurut pandangan Alkitab.
Cinta: Sebuah Pencarian
Kapan pertama kali kita jatuh cinta?
Kapan pertama kali kita merasakan perasaan spesial kepada seseorang? Sejak kita
merasakannya maka kita terus melakukan pencarian. Kita melakukan pencarian
sejak memasuki remaja, tepatnya saat tubuh kita mulai menghasilkan
hormon-hormon yang membuat kita bertumbuh secara sekunder. Pencarian ini
sesungguhnya merupakan pencarian identitas. Sebuah pencarian akan jati diri.
Sebuah pencarian pengertian akan keberadaan diri. Dengan demikian
perasaan-perasaan yang muncul itu merupakan sebuah langkah-langkah pencarian
pengertian akan cinta.
Dalam masa-masa pencarian ini kita
mulai berani menjalin hubungan dengan secara khusus dengan seseorang tetapi
kita sesungguhnya kita sedang terus mencari akan arti perasaan-perasaan diri
sehingga hubungan berpacaran dalam masa-masa ini merupakan sebuah hubungan yang
hanya dilandasi oleh penasaran diri. Oleh karena itu dalam keadaan diri yang
sangat labil ini maka kita cendrung terjebak untuk mencari fantasi-fantasi
dalam berpacaran bahkan tidak jarang kita mengikuti nafsu untuk mengeksplorasi
rasa penasaran diri terhadap sentuhan-sentuhan fisik.
Cinta: Sebuah Kehausan
Melewati masa-masa pencarian kita
memasuki fase dimana kita mulai merasa haus akan cinta. Rasa haus ini merupakan
sebuah hasrat yang disebabkan oleh pertumbuhan yang tidak sehat. Kita tidak
terpenuhi kebutuhan kasih sayang dari orang tua, dari saudara, dari adik/abang/kakak,
dari orang-orang yang kita harapkan sehingga kita terus menerus merasa adanya
kekosongan dalam diri.
Kekosongan dalam diri inilah yang
coba kita isi dengan menjalin hubungan khusus dengan seseorang atau berpacaran.
Beberapa kondisi yang kita alami yang biasanya memacu kita untuk pada akhirnya
menjalin hubungan pacara yaitu:
1. Kondisi keluarga yang
tidak bahagia
2.
Rusaknya hubungan dengan
Anggota keluarga
3.
Pengalaman pahit dengan
seseorang semasa kecil seperti pernah merasakan pelecehan
4.
Keluarga yang terlalu
mengikat
Dalam masa-masa haus ini
sesungguhnya kita tidak menemukan kasih yang sejati. Kita hanay mencoba
mengalihkan rasa kesepian diri dengan hubungan khusus. Tetapi semakin kita
menjalin hubungan kita tidak pernah merasakan adanya kasih yang sejati karena
yang ada kita justru tetap haus dan terus merasa kering. Hubungan yang terjalin
pada akhirnya hanyalah hubungan yang rapuh.
Dalam masa seperti ini seringkali
kita merasa bahwa dengan melakukan hubungan fisik sebagai wujud dari ungkapan
kasih yang sejati sehingga tidak jarang kita melakukan sentuhan-sentuhan fisik
atau mengizinkan diri kita untuk disentuh secara fisik. Tetapi apakah hubungan
yang kita lakukan memuaskan kita? Tentu yang ada luka hati. Semakin seseorang
dekat secara fisik dan intim dengan pasangannya(pacaranya) maka dia akan lebih
sensitif dan mudah terluka. Orang yang berpacaran yang disertai dengan
kedekatan fisik hanya akan memunculkan 2 kemungkinan yaitu menikah atau putus.
Menikah ketika hubungan yang dijalin diikuti oleh komitmen yang kuat tetapi
berpisah jika sebaliknya. Hal ini disebabkan orang yang intim secara fisik
seringkali bisa tiba-tiba menjadi begitu muak.
Jangan sekali-kali percaya bahwa
sentuhan fisik atau keintiman merupakan ungkapan dari rasa kasih yang
sesungguhnya karena sekali kita memulai dengan kedekatan fisik maka kita akan
terus menerus terikat. Dan ingatlah bahwa hubungan fisik tidak pernah cukup
atau bertahan tetapi akan terus meningkat menginginkan lebih jauh dan lebih
jauh.
Jika demikian maka hubungan berpacaran
yang sedang kita jalin hanya akan menyisahkan luka-luka batin. Kegagalan dalam
berpacaran karena kita tidak menemukan kasih yang sejati itu. Dampak yang
timbul justru adalah:
1.
Kita kehilangan
kehormatan
2.
Kita kehilangan
keseimbangan dan rasa percaya diri
3.
Kita mengalami trauma
terhadap hubungan-hubungan yang pernah kita jalin
4.
Kita dapat mengalami
kemungkinan dis orientasi sex
5.
Kita menjadi sangat
rapuh dan merasa tidak berdaya
6.
Kita tidak dapat fokus
dan menjadi snagat terikat dengan hubungan-hubungan yang kita jalin
Kalau demikian hubungan berpacaran
yang kita jalin hanya akan menyisahkan penyesalan diri. Lalu dimana gairah
hidup yang ditawarkan oleh kehidupan masa muda yang penuh romantisme? Sejak
awal saya hanya membukakan hal-hal yang tidak menyentuh pada janji-janji
romantisme dari hubungan berpacaran yang diimpikan oleh setiap orang. Semua itu
hanya indah justru dalam masa penantian karena ketika kita telah melangkah di
dalamnya yang terjadi adalah hal-hal yang telah kita bicarakan. Mengapa?? Jawabnya
kemabali kepada tujuan pembahasan kita hari ini yaitu kita menjalin hubungan
sebelum menemukan kasih yang sejati.
Cinta : Sebuah Penantian
Cinta yang sejati adalah cinta yang
mengandung komitmen. Kmitmen untuk menjaga hubungan, komitemen memelihara
hubungan hingga ke jenjang pernikahan, komitmen untuk menjaga kekudusan
hubungan hingga ke pernikahan. Cinta sejati merupakan cinta yang menerima kita
apa adanya bukan menerima kita seperti yang dia mau karena itu cinta sejati
mengandung pengorbanan.
Kasih sejati tidak egois karenanya
kasih sejati bukanlah kasih dari seseorang yang melihat keuntungan-keuntungan
dari hubungan yang sedang dijalani seperti misalkan seseorang menjadi lebih
semangat, lebih termotivasi, lebih baik hidupnya. Kasih yang demikian akan cepat
berakhir ketika dia mendapat seseorang yang lebih baik dan membuat hidupnya lebih baik.
Sebuah mitos: Jangan pernah menjalin
hubungan dengan berpikir untuk membawa seseorang menjadi lebih baik. Sebaiknya
kita bersahabat saja jika kita hanya mau mengubahkan seseorang karena sesuai
dengan hukum alam maka lebih mudah seseorang yang berada di atas tertarik ke
bawah daripada seseorang yang di bawah tertarik ke atas. Karena perubahan yang
benar adalah perubahan yang lahir dari dalam diri seseorang bukan karena orang
lain.
Kasih Sejati: Sebuah Penggenapan.
Kita akan mengerti kasih sejati jika
kita telah menerimanya. Kasih sejati digenapi dalam diri Yesus Kristus. Hanya
ketika kita menerima kasih Kristus maka kita akan mengerti kasih sejati. Bagaimanakah kasih Alalh akan kita? Saat ini
kita akan mempelajari sebuah cerita dari kehidupan seorang Nabi dalam
perjanjian baru.
Hosea merupakan nabi dalam
perjanjian lama yang dipilih Tuhan untuk menyatakan firmannya. Selain dalam
bentuk kata-kata Hosea juga harus hidup sebagai perumpamaan. Jadi Alalh
memerintahkan Hosea untuk mengambil seorang perempuan sundal (Pelacur) sebagai
istrinya. Hal ini untuk menggambarkan kehidupan bangsa Israel dihadapan Allah.
Bangsa Israel telah berpaling setia dari Allah dan menyembah ilah-ilah atau
berhala. Bangsa israel tidak lagi menghiraukan Allah. Kehidupan yang demikian
merupakan gambaran dari pelacuran. Allah sanagt
jijik dengan dosa sebab ia kudus. Allah tidak ingin umat pilihan-Nya itu
nazis tetapi bangsa israel telah menajiskan diri dengan menyembah berhala dan
tidak lagi mentaati firman Allah, dengan demikian bangsa Israel tak ubahnya
seorang pelacur dihadapan Allah.
Sebagaimana Hosea harus mengasihi
istrinya itu maka demikianlah Allah mengasihi umat pilihan-Nya itu. Allah tetap
menyatakan kasihnya kepada umat pilihan-Nya itu. Allah tidak membiarkan bangsa
israel tetap dalam perbudakan dosa. Allah masih memberi Firman-Nya melalui
nabi-nabi. Allah mengasihi Bangsa Israel tanpa syarat.
Tetapi apa hendak dikata, setelah
lahir dua anak bagi Hosea, dasar perempuan sundal maka perempuan itu kembali
bersundal. Dan saat seperti itu Allah memerintahkan agar Hosea kembali membeli
istrinya dari rumah persundalan dan membawanya kembali ke rumahnya. Seberapa
jijikkah Hosea? Demikianlah bangsa Israel kembali berpaling setia dari Allah
dan tidak taat setelah Allah menyatakan kemurahan-Nya. Tetapi Allah kembali
menunjukkan kasih setia-Nya dan kembali memanggil umat pilahan-Nya itu.
Gambaran itu merupakan gambaran kita
saat ini. Kita yang hidup dalam ketidak kudusan, keberdosaan, kecuekan
terhadapa Allah dan ketidak sungguhan kita pada Allah telah membuat kita sama
seperti seorang perempuan sundal di hadapan Allah. Tetapi Allah yang penuh
kasih itu telah menyatakan kasihnya tanpa memandang kita. Ia telah
mengaruaniakan Yesus Kristus sebagai penggenapan dari kasih yang sejati dengan
berkorban di Salib untuk menebus kita dari perbudakan dosa. Sekali lagi, Tuhan
memanggil kita dalam kasih-Nya yang sejati itu.
Penutup
Tuhan mau mengisi kekosongan hati
kita akan kasih sejati itu dengan kasih-Nya, Dia mau kita datang padanya. Ia
mau kita meresponi kasih-Nya itu. Pakah kita mau mengasihi Dia dengan segenap
hati kita, dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita? Ia mau
kita mengasihi dia lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun. Hanya
dengan demikian kita akan mengerti kasih sejati. Kasih yang akan memberi
pengertian dan kepuasan akan kemuliaan. Kasih yang tidak membuat kita menjadi
rendah diri tetapi kasih yang memerdekakan.
Jika demikian maka datanglah
kepadanya dan terimalah kasih dari pada-Nya kasih yang memberi pengampunan dan
keselamatan. Bukalah hatimu dan terimalah Yesus secara pribadi sebagai
penggenapan akan kasih Allah. Karena barangsiapa memiliki anak maka ia memiliki
hidup , barangsiapa tidak memiliki anak, ia tidak memiliki hidup.
Kasih Yang sejati hanya akan kita
temui di dalam Dia yang telah membuktikannya
bukan dari orang-orang yang hanya
sekedar memberi janji.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar