Sabtu, 21 April 2012

Artikel: KASIH SEJATI



Pendahuluan
Bulan ini bukan bulan Februari yang identik dengan bulan kasih sayang tetapi perbincangan akan Cinta akan tetap mengundang reaksi setiap kali kita membicarakannya. Apakah anda sedang menjalin hubungan berpacaran dengan seseorang? Atau mungkin anda baru putus dari pacar anda? Atau juga anda adalah orang yang sedang  menikmati masa-masa single tanpa hubungan berpacaran? Atau mengkin anda adalah orang yang sedang menanti-nanti atau mencari pasangan? Mari meluangkan waktu sejenak untuk membaca artikel ini. Mungkin anda tidak mendapat solusi tentnag masalah yang sedang anda alami tetapi artikel ini akan memberi satu pemahaman baru sebelum kita melanjutkan penantian, pencarian bahkan hubungan yang sedang kita jalani. Artikel ini akan berbicara tentang cinta kasih, Cinta dan Berpacaran, Cinta dan Seks dan akhirnya saya akan mencoba menguraikan tentang kasih sejati menurut pandangan Alkitab.

Cinta: Sebuah Pencarian
Kapan pertama kali kita jatuh cinta? Kapan pertama kali kita merasakan perasaan spesial kepada seseorang? Sejak kita merasakannya maka kita terus melakukan pencarian. Kita melakukan pencarian sejak memasuki remaja, tepatnya saat tubuh kita mulai menghasilkan hormon-hormon yang membuat kita bertumbuh secara sekunder. Pencarian ini sesungguhnya merupakan pencarian identitas. Sebuah pencarian akan jati diri. Sebuah pencarian pengertian akan keberadaan diri. Dengan demikian perasaan-perasaan yang muncul itu merupakan sebuah langkah-langkah pencarian pengertian akan cinta.

Dalam masa-masa pencarian ini kita mulai berani menjalin hubungan dengan secara khusus dengan seseorang tetapi kita sesungguhnya kita sedang terus mencari akan arti perasaan-perasaan diri sehingga hubungan berpacaran dalam masa-masa ini merupakan sebuah hubungan yang hanya dilandasi oleh penasaran diri. Oleh karena itu dalam keadaan diri yang sangat labil ini maka kita cendrung terjebak untuk mencari fantasi-fantasi dalam berpacaran bahkan tidak jarang kita mengikuti nafsu untuk mengeksplorasi rasa penasaran diri terhadap sentuhan-sentuhan fisik.

Cinta: Sebuah Kehausan
Melewati masa-masa pencarian kita memasuki fase dimana kita mulai merasa haus akan cinta. Rasa haus ini merupakan sebuah hasrat yang disebabkan oleh pertumbuhan yang tidak sehat. Kita tidak terpenuhi kebutuhan kasih sayang dari orang tua, dari saudara, dari adik/abang/kakak, dari orang-orang yang kita harapkan sehingga kita terus menerus merasa adanya kekosongan dalam diri.
Kekosongan dalam diri inilah yang coba kita isi dengan menjalin hubungan khusus dengan seseorang atau berpacaran. Beberapa kondisi yang kita alami yang biasanya memacu kita untuk pada akhirnya menjalin hubungan pacara yaitu:

1.     Kondisi keluarga yang tidak bahagia
2.       Rusaknya hubungan dengan Anggota keluarga
3.       Pengalaman pahit dengan seseorang semasa kecil seperti pernah merasakan pelecehan
4.       Keluarga yang terlalu mengikat

Dalam masa-masa haus ini sesungguhnya kita tidak menemukan kasih yang sejati. Kita hanay mencoba mengalihkan rasa kesepian diri dengan hubungan khusus. Tetapi semakin kita menjalin hubungan kita tidak pernah merasakan adanya kasih yang sejati karena yang ada kita justru tetap haus dan terus merasa kering. Hubungan yang terjalin pada akhirnya hanyalah hubungan yang rapuh.

Dalam masa seperti ini seringkali kita merasa bahwa dengan melakukan hubungan fisik sebagai wujud dari ungkapan kasih yang sejati sehingga tidak jarang kita melakukan sentuhan-sentuhan fisik atau mengizinkan diri kita untuk disentuh secara fisik. Tetapi apakah hubungan yang kita lakukan memuaskan kita? Tentu yang ada luka hati. Semakin seseorang dekat secara fisik dan intim dengan pasangannya(pacaranya) maka dia akan lebih sensitif dan mudah terluka. Orang yang berpacaran yang disertai dengan kedekatan fisik hanya akan memunculkan 2 kemungkinan yaitu menikah atau putus. Menikah ketika hubungan yang dijalin diikuti oleh komitmen yang kuat tetapi berpisah jika sebaliknya. Hal ini disebabkan orang yang intim secara fisik seringkali bisa tiba-tiba menjadi begitu muak.

Jangan sekali-kali percaya bahwa sentuhan fisik atau keintiman merupakan ungkapan dari rasa kasih yang sesungguhnya karena sekali kita memulai dengan kedekatan fisik maka kita akan terus menerus terikat. Dan ingatlah bahwa hubungan fisik tidak pernah cukup atau bertahan tetapi akan terus meningkat menginginkan lebih jauh dan lebih jauh.

Jika demikian maka hubungan berpacaran yang sedang kita jalin hanya akan menyisahkan luka-luka batin. Kegagalan dalam berpacaran karena kita tidak menemukan kasih yang sejati itu. Dampak yang timbul justru adalah:

1.       Kita kehilangan kehormatan
2.       Kita kehilangan keseimbangan dan rasa percaya diri
3.       Kita mengalami trauma terhadap hubungan-hubungan yang pernah kita jalin
4.       Kita dapat mengalami kemungkinan dis orientasi sex
5.       Kita menjadi sangat rapuh dan merasa tidak berdaya
6.       Kita tidak dapat fokus dan menjadi snagat terikat dengan hubungan-hubungan yang kita jalin

Kalau demikian hubungan berpacaran yang kita jalin hanya akan menyisahkan penyesalan diri. Lalu dimana gairah hidup yang ditawarkan oleh kehidupan masa muda yang penuh romantisme? Sejak awal saya hanya membukakan hal-hal yang tidak menyentuh pada janji-janji romantisme dari hubungan berpacaran yang diimpikan oleh setiap orang. Semua itu hanya indah justru dalam masa penantian karena ketika kita telah melangkah di dalamnya yang terjadi adalah hal-hal yang telah kita bicarakan. Mengapa?? Jawabnya kemabali kepada tujuan pembahasan kita hari ini yaitu kita menjalin hubungan sebelum menemukan kasih yang sejati.

Cinta : Sebuah Penantian
Cinta yang sejati adalah cinta yang mengandung komitmen. Kmitmen untuk menjaga hubungan, komitemen memelihara hubungan hingga ke jenjang pernikahan, komitmen untuk menjaga kekudusan hubungan hingga ke pernikahan. Cinta sejati merupakan cinta yang menerima kita apa adanya bukan menerima kita seperti yang dia mau karena itu cinta sejati mengandung pengorbanan.
Kasih sejati tidak egois karenanya kasih sejati bukanlah kasih dari seseorang yang melihat keuntungan-keuntungan dari hubungan yang sedang dijalani seperti misalkan seseorang menjadi lebih semangat, lebih termotivasi, lebih baik hidupnya. Kasih yang demikian akan cepat berakhir ketika dia mendapat seseorang yang lebih baik  dan membuat hidupnya lebih baik.
Sebuah mitos: Jangan pernah menjalin hubungan dengan berpikir untuk membawa seseorang menjadi lebih baik. Sebaiknya kita bersahabat saja jika kita hanya mau mengubahkan seseorang karena sesuai dengan hukum alam maka lebih mudah seseorang yang berada di atas tertarik ke bawah daripada seseorang yang di bawah tertarik ke atas. Karena perubahan yang benar adalah perubahan yang lahir dari dalam diri seseorang bukan karena orang lain.

Kasih Sejati: Sebuah Penggenapan.
Kita akan mengerti kasih sejati jika kita telah menerimanya. Kasih sejati digenapi dalam diri Yesus Kristus. Hanya ketika kita menerima kasih Kristus maka kita akan mengerti kasih sejati.  Bagaimanakah kasih Alalh akan kita? Saat ini kita akan mempelajari sebuah cerita dari kehidupan seorang Nabi dalam perjanjian baru.
Hosea merupakan nabi dalam perjanjian lama yang dipilih Tuhan untuk menyatakan firmannya. Selain dalam bentuk kata-kata Hosea juga harus hidup sebagai perumpamaan. Jadi Alalh memerintahkan Hosea untuk mengambil seorang perempuan sundal (Pelacur) sebagai istrinya. Hal ini untuk menggambarkan kehidupan bangsa Israel dihadapan Allah. Bangsa Israel telah berpaling setia dari Allah dan menyembah ilah-ilah atau berhala. Bangsa israel tidak lagi menghiraukan Allah. Kehidupan yang demikian merupakan gambaran dari pelacuran. Allah sanagt  jijik dengan dosa sebab ia kudus. Allah tidak ingin umat pilihan-Nya itu nazis tetapi bangsa israel telah menajiskan diri dengan menyembah berhala dan tidak lagi mentaati firman Allah, dengan demikian bangsa Israel tak ubahnya seorang pelacur dihadapan Allah.

Sebagaimana Hosea harus mengasihi istrinya itu maka demikianlah Allah mengasihi umat pilihan-Nya itu. Allah tetap menyatakan kasihnya kepada umat pilihan-Nya itu. Allah tidak membiarkan bangsa israel tetap dalam perbudakan dosa. Allah masih memberi Firman-Nya melalui nabi-nabi. Allah mengasihi Bangsa Israel tanpa syarat.

Tetapi apa hendak dikata, setelah lahir dua anak bagi Hosea, dasar perempuan sundal maka perempuan itu kembali bersundal. Dan saat seperti itu Allah memerintahkan agar Hosea kembali membeli istrinya dari rumah persundalan dan membawanya kembali ke rumahnya. Seberapa jijikkah Hosea? Demikianlah bangsa Israel kembali berpaling setia dari Allah dan tidak taat setelah Allah menyatakan kemurahan-Nya. Tetapi Allah kembali menunjukkan kasih setia-Nya dan kembali memanggil umat pilahan-Nya itu.
Gambaran itu merupakan gambaran kita saat ini. Kita yang hidup dalam ketidak kudusan, keberdosaan, kecuekan terhadapa Allah dan ketidak sungguhan kita pada Allah telah membuat kita sama seperti seorang perempuan sundal di hadapan Allah. Tetapi Allah yang penuh kasih itu telah menyatakan kasihnya tanpa memandang kita. Ia telah mengaruaniakan Yesus Kristus sebagai penggenapan dari kasih yang sejati dengan berkorban di Salib untuk menebus kita dari perbudakan dosa. Sekali lagi, Tuhan memanggil kita dalam kasih-Nya yang sejati itu.

Penutup
Tuhan mau mengisi kekosongan hati kita akan kasih sejati itu dengan kasih-Nya, Dia mau kita datang padanya. Ia mau kita meresponi kasih-Nya itu. Pakah kita mau mengasihi Dia dengan segenap hati kita, dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita? Ia mau kita mengasihi dia lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun. Hanya dengan demikian kita akan mengerti kasih sejati. Kasih yang akan memberi pengertian dan kepuasan akan kemuliaan. Kasih yang tidak membuat kita menjadi rendah diri tetapi kasih yang memerdekakan.

Jika demikian maka datanglah kepadanya dan terimalah kasih dari pada-Nya kasih yang memberi pengampunan dan keselamatan. Bukalah hatimu dan terimalah Yesus secara pribadi sebagai penggenapan akan kasih Allah. Karena barangsiapa memiliki anak maka ia memiliki hidup , barangsiapa tidak memiliki anak, ia tidak memiliki hidup.

Kasih Yang sejati hanya akan kita temui di dalam Dia yang telah membuktikannya 
bukan dari orang-orang yang hanya sekedar memberi janji.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar