Lukas 9:57-62
Saya pernah
beribadah di salah satu gereja. Suasana ibadah dari awal sampai akhir sangat
menggunggah. Ketika penyembahan, dukungan musik dan kemampuan pembawa ibadah
membuat setiap orang yang beribadah kelihatan begitu menikmati hadirat Tuhan. Di
akhir pemberitaan firman, hamba Tuhan memberi penantangan untuk menerima Tuhan.
Sepulang ibadah saya merenungkan,
seandainya setiap orang yang mengambil keputusan dalam ibadah itu
sungguh-sungguh menjadi pengikut Yesus maka dari minggu ke minggu akan semakin
banyak orang yang hidup di dalam Tuhan. Tetapi aku menyadari, bukankah dalam
ibadah itu orang-orang yang sama yang tiap minggu mengangkat tangan menerima
Yesus.
Dalam Lukas
9:57-62 menceritakan bagaimana seseorang yang sangat tergugah melihat Yesus
memutuskan untuk mengikut Yesus, tetapi Yesus tahu motivasi orang itu sehingga
Yesus menegornya. Orang itu sebenarnya mau mengikut Yesus untuk dirinya
sendiri, untuk kepentingannya. Ada lagi seorang yang diajak Yesus tetapi penuh
keraguan, akhirnya Yesus menegurnya karena orang itu tidak punya prioritas. Mengikut
Yesus sama porsinya dengan urusan-urusan yang lain di dunia ini. Ada lagi yang
mau mengikut Yesus tetapi tidak sepenuh hati. Yesus menegurnya dengan keras
karena orang itu tidak sepenuh nya ingin mengikut Yesus.
Mengikut Yesus
tidak sekedar nikmatnya sebuah sensasi ibadah baik secara pribadi maupun secara
komunal. Ada banyak orang yang akhirnya menerima Yesus dalam sebuah kebaktian
kebangunan rohani yang sangat menggugah. Perikop ini jelas menyatakan bagi
kita. Mengikut Yesus adalah dengan motivasi meyerahkan hidup kepada-Nya,
menjadikan Dia yang terutama dalam hidup kita dan dengan sepenuh hati
berkomitmen mengikuti-Nya.
Menjadi murid
Yesus bukan perkara seberapa sering kita tergugah dalam peribadahan
tetapi seberapa
banyak hidup kita diubah dari sehari-ke sehari semakin serupa dengan Dia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar