1 Tesalonika
5:12-14
Dalam sebuah
persekutuan, perkumpulan atau gereja, selalu ada 2 ekstrim sikap orang-orang
yang ada di dalamnya. Ada sebahagian orang yang merasa bahwa orang Kristen
harus penuh kasih dan berdamai dengan semua orang. Sepintas lalu kalimat ini
tentu mengandung kebenaran. Tetapi, akhirnya orang-orang ini menjadi orang yang
cendrung kompromi dan sulit menegur. Mereka adalah ornag-orang yang tidak mau
terusik dalam kenyamanannya. Mereka menganggap orang yang selalu menegur adalah
orang yang kasar. Sebaliknya bagi sebahagian orang, orang Kristen itu harus
berani menegur kesalahan orang lain. Kasih tidak berkompromi dan kasih tidak
membiarkan orang lain dalam kesalahan. Tetapi akhirnya orang-orang ini justru
penuh dengan semagat kritik dan lupa engevaluasi diri.
Paulus di akhir
suratnya kepada jemaat Tesalonika berpesan agar kita menegor orang yang tidak
tertib hidupnya (ay 14) tetapi kita tidak boleh lupa bahwa bagian ini di awali
ayat sebelumnya (ay 12-13) yang menegaskan bahwa kita harus menghormati para
pemimpin yang menegur kita dan menjunung mereka di dalam kasih. Selain itu ada
penekanan ke dua yaitu agar kita berdamai seorang dengan yang lain. Jadi kita
memang harus menegur orang yang tidak tertib hidupnya, tetapi kita harus
memastikan 2 hal yaitu kita harus menjadi orang yang siap menerima teguran dari
para pemimpin rohani kita dan kita harus berdamai seorang dengan yang lain.
Dengan demikian
menegur bukan atas dorongan sentimen pribadi atau karena rasa tidak suka tetapi
demi menjaga ketertiban hidup dalam persekutuan. Bagian ini juga berkata agar
kita menegur orang yang tidak tertib hidupnya jadi kita langsung menyampaikan
teguran kepada pribadi sehingga kita tetap dapat berdamai dengan semua orang.
Menegur tidak sama dengan membukakan kesalahan seseorang pada khalayak umum. Dengan
begitu, nyatalah bahwa kita adalah murid dan kita telah dipersatukan dalam
kasih Yesus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar