Matius 26:6-13
Tahun 2007 saya menjadi pengurus pelayanan mahasiswa di kampus. Posisi
ketua membuat saya menjadi sedemikian sibuk. Suatu ketika, saya bersama
teman-teman pengurus sedang mempersiapkan beberapa program sehingga saya benar-benar
banyak aktivitas. Akibatnya saya tidak lagi memprioritaskan untuk mengikuti
kelompok kecil. Saya merasa saya benar dan kelihatan sedemikian rohani ketika
saya di hubungi abang rohani saya untuk Kelompok kecil dan saya mengatakan saya
tidak ikut karena ada kegiatan. Lalu tiba-tiba abang rohani saya berkata: “Kelompok
Kecil ini kebutuhanmu atau kebutuhanku?” Saya tidak bisa berkata apa-apa. Tiba-tiba
saya sangat sedih dan memutuskan meninggalkan kegiatan untuk mengikuti kelompok
kecil. Selama kelompok saya akhirnya menyadari bahwa saya sudah sangat aktif
dan kelihatan sangat rohani tetapi saya sesungguhnya sudah kehilangan kasih
yang seharusnya menggerakkan saya melayani. Saya sudah merasa beres ketika
melakukan banyak hal-hal rohani tetapi saya sendiri tidak lagi menikmati
persekutuan dengan Tuhan. Tuhan mau saya diam dan mendengarkan Dia, Tuhan mau
kita sungguh-sungguh menyatakan kasih dengan-Nya dan kasih itulah yang akan
menggerakkan kita untuk melayani-Nya.
Sama halnya ketika murid-murid melihat seorang perempuan mengurapi
Yesus dengan minyak wangi yang sangat mahal. Murid-murid berkata itu sebuah
pemborosan, lebih baik munyak itu di ual dan diberikan kepada orang miskin. Murid-murid
kelihatan sangat rohani tetapi Yesus berkata sebaliknya bahwa perempuan itu
tidak salah. Perempuan itu telah melakukan apa yang terindah (beautiful thing).
Perempuan itu digerakkan oleh kasihnya kepada Yesus dan pengakuannya bahwa
Yesus adalah Raja (cat: Minyak urapan dalam perjanjian lama diberikan kepada
raja). Ketika perempuan itu mau menunjukkan kasihnya yang besar kepada Yesus
maka dia memberi apa yang terbaik dari dalam dirinya kepada Yesus. Dan kasih
itu yang akan menggerakkan kasih yang besar kepada banyak orang lebih lama lagi
karena Yesus berkata bahwa setiap kali injil diberitakan maka perempuan itu
akan disebut.
Yesus menafsir perbuatan perempuan itu sebagai persiapan kematiannya. Konteks
ini terletak setelah Yesus memberitahu tentang kematiannya dan sebelum Yesus
akan ditangkap. Jadi perempuan itu bagian dari rencana Allah sedang murid-murid
menafsir sendiri perbuatan perempuan itu tanpa mengerti rencana Allah.
Apakah belakangan ini kita banyak melakukan aktivitas? Mari saat ini
kita coba refleksikan apakah kita masih digerakkan oleh kasih yang besar kepada
Yesus? Atau apakah berbagai aktivitas kita telah menggeser hal yang utama yaitu
bersekutu dan mendengarkan Tuhan? Jangan kiranya kita melakukan banyak
aktivitas pelayanan tetapi sesungguhnya kita hanya tinggal melakukan apa yang
kita pikirkan bukan lagi apa yang Tuhan gerakkan untuk kita kerjakan. Pemikiran
kita yang penuh konsep teologi dan kematangan dalam merencanakan serta menyusun
strategi pelayanan dapat membuat kita tidak lagi melakukan sesuatu dengan
dorongan Kasih Kepada Yesus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar