Jumat, 25 Mei 2012

Kesombongan dan Kerendahan Hati


Salah satu bahaya seorang pemimpin adalah apabila ia jatuh kepada kesombongan. Manusia sangat rentan terhadap kesombongan. Hal ini dapat terjadi saat seseorang diberi kuasa, menyadari akan persepsi umum terhadapnya dan memegahkan keberhasila dirinya. Kesombongan hadir dalam diri seseorang karena merasa lebih dari yang lain. Kesombongan bukan dikarenakan keadaan atau realitas dirinya tetapi sikap merasa lebih dari yang lain. Oleh karena itu seorang yang sombong tidak akan senang melihat orang sombong yang lain. Seorang pemimpin adalah seorang yang superior tapi bukan dalam hal statusnya melainkan dalam hal fungsinya. Seorang pemimpin memang harus menyadari superiornya terhadap orang-orang yang dipimpinnya dalam hal menangkap visi, mengorganisasi dan memotivasi.
Bahaya dari kesombongan adalah kesombongan merupakan sikap dalam diri yang tersembunyi. Ia berasal dari dalam. Bahkan seornag tidak dapat berkata telah bebas dari kesombongan karena jika demikian itu merupakan kesombongan itu sendiri.

Satu-satunya sikap yang kita miliki tanpa pernah merasa memilikinya adalah kerendahan hati. Ketika kita mengakui bahwa kita rendah hati saat itu juga kita telah kehilangan kerendahan hati. Kerendahan hati merupakan sikap yang mengakui ketiadaan diri dihadapan Allah dan dalam Allah yang menjadi segala sesuatu kitaa menjadi sesuatu. Aku harus terus belajar merendahkan hati untuk dapat melihat perbuatan-perbuatan Tuhan dalam pelayanan yang sedang kukerjakan dan tidak sampai di sana, perlu kerendahan hati untuk dapat dipakai Tuhan secara leluasa. Kesombongan hanya akan menghambat pekerjaan Tuhan dalam diriku.
(Refleksi Dari Buku Kepemimpinan Kristen oleh Sendjaya)

Kamis, 17 Mei 2012

Menapaki Jalan Kepastian


Yohanes 13 : 36-14:7

Sekiranya anda akan mendaki sebuah gunung untuk pertama kali, tentu anda akan membutuhkan seornag Ranger yang dapat membimbing anda hingga ke puncak. Seorang kemudian datang dan mengenalkan diri sebagai seorang ranger. Dia telah mendapat pelatihan dari berbagai badan SAR dan sejenisnya bahkan dia seorang  sarjana geografi dari kampus ternama. Tetapi dia sama sekali belum pernah mendaki sampai ke puncak. Kemudian seorang lain datang. Dia tidak mendapat pelatihan apapun dan tanpa gelar pendidikan apapun tetapi dia berkata bahwa tinggal di puncak dan turun ke bawah untuk menolong siapa yang ingin naik ke atas. Dan dia telah membuat jalan setapak untuk dilalui. Siapakah yang akan anda percaya??? Apakah anda percaya pada orang yang belum pernah naik ke puncak atau orang yang memang tinggal di atas dan turun ke bawah menunjukkan jalan.

Yesus dengan pasti berkata bahwa Dialah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup. Dia datang dari Bapa dan Dia kembali kepada Bapa. Kita hanya dapat sampai kepada Bapa melalui Dia. Dia telah memberi jalan kepastian. Sehingga ketika kita percaya kepadanya maka kita sedang berjalan di jalan kepastian. Mengikut Yesus bukanlah meraba dan mencari jalan kepastian tetapi Mengikut Yesus adalah berjalan di jalan kepastian. Maka Yesus berkata :”janganlah gelisah hatimu, percayalah kepadaku”

Apakah kita masih ragu mempercayakan hidup kita kepada Yesus?? Hari ini kita memperingati hari kenaikan Yesus. Dalam perikop kita hari ini, di awali dengan pernyataan yang luar biasa dari Petrus bahwa dia akan mengikut Yesus bahkan akan memberikan nyawanya pada Yesus, tetpai Yesus justru membukakan bagaimana Petrus akan menyangkal Yesus. Namun demikian Yesus tidak reaktif dan menegur Petrus. Yesus berkata bahwa mengikut Yesus bukan soal proklamasi yang menggebu-gebu. Mengikut Yesus bukan soal emosional. Mengikut Yesus adalah mempercayakan hidup padanya dan mengenal Dia. Hanya ketika kita mengenal Yesus maka kita akan mengenal Bapa.

Pertanyaan Refleksi:
1.       Bagaimana anda mempercayakan hidup anda pada Yesus selama ini?
2.       Apa arti hari kenaikan bagi anda selama?
3.       Bagaimana perenungan hari ini menolong anda merubah pemahaman anda selama ini tentang hari kenaikan?
4.       Apakah ada hal yang Tuhan secara khusus hari ini?
5.       Apakah langkah konkrit dari perenungan anda hari ini?

Rabu, 16 Mei 2012

Ditegur, Menegur dan Saling Mendewasakan


Galatia 2:11-14

Ketika saya bertobat dan menerima Yesus, saya mulai mengikuti sebuah pembinaan dalam kelompok kecil. Saya masuk kedalam komunitas orang-orang percaya. Saya merasakan sebuah kekuatan persekutuan. Saya kembali dapat mempercayai orang lain. Bahkan saya sangat percaya pada orang-orang yang ada dalam persekutuan.  Aku melihat kesungguhan dan kehidupan yang apa adanya sehingga aku menaruh percaya pada mereka. Sampai suatu hari, dalam sebuah pertemuan, saya berbicara mengevaluasi kinerja pelayanan seorang saudara di dalam Tuhan. Tidak ada niatan apapun, bahkan saya benar-benar berbicara karena saya tahu kami adalah saudara. Tetapi di akhir acara, secara tiba-tiba dia berkata bahwa aku telah menghakiminya. Aku terkejut dan menjadi lemas. Sepanjang malam aku dilanda krisis. Semua kesanku dalam komunitas di defenisi ulang. Aku tidak dapat percaya bahwa ketulusanku disalah arti. Masihkah sesama orang percaya saling mencurigai? Ternyata tahapan ini merupakan tahapan pendewasaan dalam iman.

Petrus ditegur keras oleh Paulus. Persoalannya, Petrus bukan secara sengaja melakukan kemunafikan tetapi karena menjaga perasaan orang jahudi terhadap dia, akhirnya Petrus menjadi berdua muka dan itu sama dengan kemunafikan. Sebagai saudara seiman, Paulus tentu harus menegur Petrus. Paulus menegur Petrus sesuai dengan Firman Tuhan, bukan bermaksud menjatuhkan atau mempermalukan Petrus. Paulus sungguh-sungguh menegurnya di dalam Tuhan.  Dalam perikop ini, tidak diberitahukan bagaimana kelanjutan hubungan Petrus dan Paulus tetapi di kemudian hari, pelayanan Petrus akhirnya semakin terbuka dan dapat menerima orang-orang bukan Yahudi.

Untuk mendewasakan kita, kita perlu mendapat teguran dari saudara seiman dan dalam Tuhan kita harus menegur saudara kita untuk pertumbuhannya. Mungkin pada awalnya kita tidak siap dan seringkali hubungan menjadi tidak nyaman tetapi di dalam kasih Yesus yang mempersatukan kita, kita akan semakin bertumbuh dan saling mendewasakan.

Keesokan harinya, aku pergi ke sekretariat dan menjumpainya dan mengajaknya berbicara berdua. Aku meminta maaf kalau ternyata aku telah menyinggungnya dan aku memulihkan hubunganku dengannya. Dan aku tahu dia tetap menjadi saudaraku di dalam Yesus.

Selasa, 15 Mei 2012

Bukan Perasaan Semata


Mazmur 145
Belakangan ini lagu-lagu rohani banyak diciptakan. Dengan adanya siaran-siaran Kristen sertateknologi internet maka lagu-lagu rohani menjadi sangat mudah diakses. Tetapi kalau kita mengamati, kebanyakan lagu-lagu pujian itu merupakan ungkapan-ungkapan perasaan. Pujian hanya lahir dari perasaan pribadi bukan karena pengenalan akan Allah. Lirik-lirik yang selalu menjadikan aku sebagai subjek. Jadi aku memuji engkau sebab....Saat ini kita akn belajar salah satu lagu pujian Daud.

Mazmur ini merupakan mazmur pujian dari Daud. Mazmur ini dimulai secara pribadi dengan menggunakan subjek aku (ay 1-2) dan juga di tutup dengan ungkapan pribadi (ay 21). Secara keseluruhan Daud mengembangkan pujiannya melampaui pujian pribadi. Mazmur 145 dapat dibagi 3 yaitu pertama, pujian karena kebesaran Tuhan (1-7). Kebesaran Tuhan patut dipuji bukan karena kita sendiri merasakannya. Angkatan demi angkatan akan memuji kebesaran Tuhan. Pujian kita bukan hanya sesuatu yang kita rasakan tetapi Allah patut kita puji karena kebesaran-Nya. Jadi pujian kita bukanlah pujian yang kondisional.

Kedua, Kita memuji Tuhan sebab Dia memerintah dan keadilan dan kesetiaan-Nya ( 8-13). Tuhan patut kita puji dalam penghayatan akan kedaulatan-Nya bagi semua orang. Dia memerintah bukan hanya atas kita tetapi Ia memerintah dalam kasih setia dan keadilan. Sekali lagi, pujian kita bukanlah pujian kondisional tetapi Allah patut dipuji sebab dialah Allah yang memerintah.

Ketiga, kita memuji Tuhan sebab Dialah Allah yang nyata dan pribadi bagi orang-orang yang berseru padanya (14-21). Tuhan tidak pernah jauh. Tuhan tidak relatif. Satu-satunya yang memisahkan kita dari Allah adalah dosa pelanggaran kita. Tetapi itupun bukan berarti Tuhan menjauh. Kitalah yang sedang menjauh. Dalam pelanggaran dan dosa kita, kita sesungguhnya sedang menolak kuasa dan kedaulatan Allah dalam hidup kita. Tetapi Tuhan tetap dekat, itu sebab ketika kita berbalik maka Tuhan membuka tangan-Nya menerima kita dan kita diberi kekuatan untuk bangkit. Allah adalah Tuhan yang secara pribadi dapat dirasakan oleh orang-orang yang berseru pada-Nya. Oleh karena itu patutlah kita memuji Allah.

Sebagaimana mazmur ini diawali dan di akhiri oleh ungkapan pribadi sebagai pujian. Tetapi dalam pujian dan penyembahan kita, seharusnya melampaui kondisi hati dan perasaan kita. Kita memuji Allah sebab dia patut dipuji oleh umat sepanjang masa, kita memuji Dia sebab Dia berdaulat dalam pemerintahan-Nya dalam generasi ini, dan kita memuji Tuhan sebab Dia memang Allah yang hadir dalam hidup setiap orang percaya secara pribadi.

Sabtu, 05 Mei 2012

Doa vs Curhat


Matius 6:5-17
Roro berjalan dengan terburu-buru dan langsung masuk ke rumah Riri. Sesampainya dia melihat Riri lagi duduk sendiri. Roro duduk di samping Riri dan langsung mencurahkan semua kepenatan hatinya. Bukan sekali ini saja Roro melakukannya. Roro tidka perduli apa yang dirasakan oleh Riri, setiap kali dia ingin bercerita dia akan mencari Riri dan langsung menumpahkan semua kepenatan hatinya. Sebenarnya, ketika Roro bercerita, dia tidak tahu kondisi Riri yang juga ingin berbicara. Artinya Roro tidak mengenal Riri, dia hanya perlu didengar bukan dialog.

Seringkali dalam berdoa juga kita melakukan apa yang dilakukan oleh Roro. Ketika kita merasakan pergumulan, kita datang pada Tuhan dan membukakan secara panjang lebar kondisi kita seakan Tuhan tidak tahu kondisi kita. Kita menyampaikan semua keinginan kita seakan Tuhan alpa dari kehidupan kita dan tidak tahu kebutuhan kita. Bahkan ada sebahagian orang yang merasa kalau berdoa harus sampai menangis, berteriak atau semua isi hatinya ditumpahkan. Apakah doa adalah sebuah cara memuaskan kita secara psikologi.

Ketika kita berdoa, apakah kita sungguh-sungguh membutuhkan dialog dengan Tuhan atau sekedar curhat. Hanya orang yang curhat yang akan bertele-tele dan berkepanjangan sepuas hatinya. Doa adalah sarana bagi kita berdialog kepada Tuhan sang Khalik. Kita yang adalah ciptaan diperkenan datang berkomunikasi dengan Pencipta. Dalam Matius 6: 5-17 ada 2 hal yang diajarkan. Pertama, fokus doa kita adalah Tuhan bukan manusia(5-6). Jadi ketika berdoa kita seharusnya berfokus pada Tuhan bukan pada manusia. Kedua, Doa lahir berdasarkan pengenalan akan Allah (ay 7-17). Jadi berdoa bukan demi kepuasan hati kita tapi sebuah dialog oleh pengenalan akan Dia. Yesus dengan tegas mengingatkan agar kita tidak berdoa berkepanjangan dan bertele-tele seakan Tuhan tidak tahu apa yang kita butuhkan.

Kamis, 03 Mei 2012

Jangan berpikir Keluar Pelayanan Sejenak


Flipi 4:1-9
Pernahkah kita berpikir untuk sejenak tidak terlibat dalam pelayanan? Bagi alumni yang baru menyelesaikan study, mungkin selama ini merasa sudah terlalu banyak aktif di pelayanan kampus dan ketika alumni ingin lebih santai dahulu. Paling tidak beberapa orang mungkin berpikir jangan aktif dulu sebagai pelayan, panitia atau pengurus, ingin melakukan hal-hal yang menyenangkan lebih dulu. Kita perlu mengingat, semakin kita menjauh dari pelayanan semakin kita dekat dengan nilai dunia ini, semakin kita dekat dengan nilai dunia semakin kita kehilangan keseimbangan diri. Hidup kita pada akhirnya semakin diliputi oleh berbagai keinginan diri, target-target sebagaimana yang dunia inginkan. Ketika semua itu tidak terpenuhi, kita akan hidup dalam kekwatiran, kehilangan sukacita.

Dalam akhir suratnya kepada jemaat filipi (pasal 4), Paulus menyerukan agar jemaat berdiri teguh di dalam Tuhan. Paulus menyerukan agar jemaat dapat menjaga persekutuan diantara mereka dengan saling menguatkan dan menerima para orang-orang yang telah bekerja bagi Tuhan. Hal ini akan menolong kita untuk tetap kuat. Kita akan dikuatkan ketika kita dapat menjalin persekutuan dengan orang-orang kuat.

Setelah itu, Paulus berseru agar jemaat bersukacita, sukacita yang berasal dari Tuhan bukan dari pencapaian keinginan dunia ini. Bagimana kita dapat tetap bersukacita, Paulus berkata agar kita menyerahkan segala keinginan kita kepada Tuhan. Dengan demikian damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal pikiran akan menyertai kita. Apakah cukup dengan berdoa? Paulus menambahkan, setelah kita menyerahkan semua pada Tuhan, maka kita harus menjaga pikiran kita dan sikap perbuatan kita seturut dengan apa yang telah kita terima dalam Tuhan. Jadi,dengan jelas dapat kita lihat dalam ay 8-9 bahwa Paulus menyerukan agar jemaat tetap menjaga pikiran dan perbuatannya sebagaimanan mereka telah diajar di dalam Tuhan. Sekali lagi Paulus menekankan, maka damai sejahtera Allah akan menyertai kita. Karena itu kita, harus tetap kembali ke dalam persekutuan pelayanan dimana kita dapat bertumbuh.

Berpikir untuk sejenak tidak terlibat dipelayanan, 
sama artinya berpikir untuk sejenak mati suri.

Rabu, 02 Mei 2012

Mendengar Suara Roh Kudus


Yohanes 16:7-15
 3 hari lalu aku mengantarkan seorang kakak ke stasiun. Sesampai di stasiun, aku melihat seorang pedaang roti dari merek yang sangat terkenal sedang berhenti di gerbang. Karena penasaran, aku memutuskan untuk memebeli beberapa jenis. Dengan harga berkali lipat dari roti yang biasa kubeli pagi di depan rumah tetapi tidak karena memang aku selalu penasaran mengapa merek itu menjadi terkenal. Ketika pulang, saat melewati jalan kota, entah bagaimana, mataku langsung tertuju pada seseorang yang mengais sampah. Jantungku berdegup kencang, aku mengurangi kecepatan. Kepalaku berkelebat, ada suara di hatiku dengan keras minta aku berhenti . Ada banyak pertimbangan hingga beberapa ratus meter, akhirnya aku mengalahkan semua pertimbanganku. Aku berbalik arah dan berhenti tepat di depan pemuda yang mengais tempat sampah itu. Tentu dia sangat lapar, aku menyodorkan roti kepadanya, tersenyum dan akhirnya aku meninggalkannya dengan sukacita tak tergambarkan.

Dalam Yohanes 16: 7-15 Yesus menjanjikan Roh Kudus. Kita yang hidup di dalam Yesus memiliki roh Kudus yan akan menuntun, membimbing dan mengajar kita untuk hidup taat. Tapi seringkali kita lebih banyak pertimbangan dan lebih mendengarkan pikiran-pikiran sendiri sehingga seringkali kita mengabaikan suara Roh Kudus. Mari belajar untuk hidup mengikuti kegerakan Roh Kudus. Sekali kita mengabaikan suara Roh Kudus akan membuat kita semakin tidak peka sebaliknya ketaatan dalam hal-hal sederhana akan semakin membuat kita semakin peka pada pimpinan-Nya.

Tuhan, biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa memenuhi ruang hatiku
 sehingga dengan hati nurani yang murni
aku beroleh pengertian dan hikmat.

Selasa, 01 Mei 2012

Hidup Sebagai Manusia Kekal


Roma 12:1-2

Dalam sebuah ngobrol santai dengan seorang teman tentang kedisiplinan dalam menjaga kesehatan tubuh maka seseorang berkata begini: “kita sebagai anak Tuhan memang akan bersama Dia kelak dalam kerajaan-Nya, tetapi pertanyaannya, apakah kelak kita bisa terlambat makan?”. Kedengarannya memang seperti sebuah lelucon tetapi saya berpikir, kalau selama hidup di dunia sebagai anak Tuhan kita sulit menghilangkan kebiasaan kedagingan kita, apakah kita bisa tiba-tiba berubah menjadi orang yang sangat sempurna kelak di sorga.

Memang kita mengimani bahwa kita akan dibangkitkan dalam tubuh kebangkitan, tentulah disempurnakan di dalam Yesus. Tetapi bagi saya, ketika kita telah menerima Yesus, bukankah kita telah menjadi makhluk kekal saat ini, orang-orang yang telah menerima anugerah hidup kekal, lantas bagaimana cara hidup kita dalam menyongsong hidup kekal itu. Sebahagian mungkin akan berkata, bahwa kelak kita hanya akan tinggal menyembah Allah. Tetapi bukankah kita hidup dalam kebangkitan tubuh dan akan tinggal bersama allah di langit yang baru dan bumi yang baru. Jadi jelas, bahwa selama kita hidup di dunia kini mestinya menunjukkan kehidupan yang kekal dimana kita hidup dalam kedaulatan Allah yang memerintah. Paulus berkata bahwa harus mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup karenanya kita tidak bisa lagi serupa dengan dunia ini tetapi berubah oleh pembaharuan budi di dalam Yesus Kristus.

Mari mengoreksi, kebiasaan-kebiasaan atau sikap hidup kita, seharusnya dari waktu ke waktu kita semakin bernilai kekal. Mendisiplin diri untuk menjaga kesehatan adalah salah satu nilai kekal yang harus kita tingkatkan.

Ajar aku Tuhan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan manusia lamaku 
dan belajar hidup dalam nilai kekal seturut Firman-Mu