Sabtu, 31 Maret 2012

Refleksi Hari Ini: Saat Kesalahanku Tidak Lagi Diperhitungkan


Roma 5:1-11


Ketika masih kuliah, pernah suatu kali saya sedang masuk kelas Praktek Pengukuran Listrik. Saya tidak begitu serius melakukan praktek dan merasa sepele karena kelas tidak seperti yang saya perkirakan. Karena merasa praktek terlalu mudah maka ketika saya menggunakan sebuah alat ukur, tiba-tiba alat ukur yang saya gunakan berbunyi kencang dan mengeluarkan asap. Tepat ketika itu kepala bengkel melihat dan kemudian memanggil saya. Maka kepala bengkel itu memeriksa dan menyatakan alat itu terbakar karena saya salah menggunakan tombol. Saya harus bertanggungjawab menggantinya. Saya mencoba mencari alat itu di toko dan ternyata harganya sangat mahal yaitu hampir sejumlah uang bulanan saya 3 bulan ketika itu. Saya tidak sanggup tetapi saya tahu saya salah. Selama sebulan saya terus merasa bersalah ketika masuk bengkel dan tidak sanggup melihat kepala bengkel. Sampai suatu hari saya di panggil kepala peralatan lalu meminta alat ukur tersebut dan membawanya ke dalam. Setelah beberapa saat dia keluar dan menyerahkan alat itu. Dan dia sudah memperbaikinya. Saya  tidak bisa berkata apa-apa karena saya tahu besarnya kesalahan saya tetapi hari itu masalah terbesar saya telah diselesaikannya dengan kepala bengkel. Sejak itu sesederhana apapun praktek saya benar-benar hati-hati dan saya benar-benar berterimakasih kepada kepala peralatan yang telah memperbaiki alat ukur yang saya rusakkan.

Ketika kita tahu keberdosaan kita, kita tahu betapa besar harga yang harus kita bayar untuk keselamatan kita dan kita tahu kita tidak akan sanggup menyelematkan diri kita.

Harus sebaik apakah kita agar memperoleh kerajaan sorga? Firman Tuhan berkata harus sempurna. Maka melihat ketidakmampuan manusia untuk taat dan segala usaha manusia tidak akan sanggup menyelamatkan dirinya sendiri. Firman Tuhan dalam Roma 5:1-11 memberi suatu kabar baik bagi kita, bahwa Yesus Kristus yang memperdamaikan manusia dengan Allah. Bahkan Yesus mati ketika manusia masih berdosa. Manusia  dibenarkan dalam kematian Yesus. Pertanyaannya, apakah kita telah ikut diperdamaikan di dalam Yesus? Atau kita masih melihat diri kita sebagai orang yang harus dimurkai karena pelanggaran-pelanggaran kita.Hari ini mari datang kepada Kristus dan menerima pendamaian di dalam Dia. Menerima keselamatan sebagai anugerah yang disediakannya bagi orang-orang yang menerima-Nya.

Kita tahu seberapa besar harga darah Kristus yang memeperdamaikan kita denga Allah, maka selayaknyalah kita hidup takut dan hormat akan Dia dan tidak mengulangi kehidupan manusia lama kita.

Semakin kita menyadari keberdosaan kita 
semakin kita merasakan betapa besarnya anugerah di dalam Yesus Kristus yang kita terima. Semakin kita merasakan besarnya anugerah-Nya 
semakin kita mau hidup taat dan setia kepada-Nya.

Rabu, 28 Maret 2012

Refleksi Hari Ini: Apakah Kita Masih Bagian Kesia-siaan dan Rumput Kering


Yesaya 40:6-11

Ketika saya masih SMP, saya masuk  kegiatan pramuka. Sejak kelas satu saya berusaha aktif dengan harapan akan ikut kamp wilayah yang biasa diperuntukkan untuk senioran atau kelas tiga. Setiap anggota pramuka tentu mengharap untuk mengikuti kamp sebagai puncak dari keaktifan di kepramukaan. Sampai di kelas tiga, tibalah pengumuman peserta yang akan diberangkatkan kamp. Dengan sangat kecewa akhirnya aku mengetahui bahwa namaku tidak masuk daftar. Rasanya tidak ada artinya apa yang kulakukan selama 3 tahun. Bahkan aku berpikir sia-sialah selama 2 tahun aku ikut latihan, menghabiskan waktu sore dengan latihan tetapi aku ternyata sama saja dengan siswa yang tidak tergabung dengan pramuka, tidak pernah merasakan sebuah kamp.

Dalam Yesaya 40:6-8 dituliskan bahwa manusia hanyalah seperti rumput bahkan semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering dan bunga menjadi layu, tetapi Firman Allah tetap untuk selama-lamanya. Bagian ini mau mengajarkan bagi kita betapa sia-sianya hidup manusia tanpa Allah. Apakah artinya kehidupan manusia? Pada ayat 9-11 kita menemukan jawabannya. Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya dan siapa yang ada di dalam Firman maka ia akan menjadi kepunyaan-Nya. Ketika kita ada di dalam Tuhan maka kita tidak lagi sama dalam kesia-siaan manusia. Kita akan menjadi domba-domba yang digembalakan dan dikumpulkan Tuhan ke dalam kerajaan-Nya.

Sekeras apa kita berjuang dan mendapat banyak hal dalam kehidupan kita? Hari ini kita diingatkan, jika kelak kita tidak bersama Dia dalam kerajaan-Nya maka sia-sialah semua usaha kita dan kita hanya seperti rumput dan semua pencapaian prestasi, karir dan materi kita hanya seperti bunga rumput. Bagaimana agar kelak kita bersama dengan Dia dalam kerajaan-Nya? Bukan dengan usaha kita dan kekuatan kita memperolehnya. Yesaya berseru “Lihat, itu Allahmu” Kita hanya perlu datang kepada Tuhan. Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 5:12 berkata  barangsiapa memiliki anak, ia memiliki hidup, barangsiapa tidak memiliki anak, ia tidak memiliki hidup. Jelaslah bagi kita, hanya ketika kita ada di dalam Yesus maka kita telah berpindah dari kesia-siaan kepada hidup dan kita akan bersama Dia kelak dalam kerajaannya.

Tuhan, terimakasih karena Engkau telah mengangkat aku dari kesia-siaan dan  untuk kehidupan yang tidak akan layu yang Engkau berikan dalam anugerah-Mu. Ajar aku senantiasa memuliakan Engkau dalam seluruh hidupku yang telah Engkau tebus dalam Yesus Kristus.

Selasa, 27 Maret 2012

Refleksi Hari Ini: Mengampuni dan Taat


1 Yoh 2: 3-11


Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, 
dan di dalam dia tidak ada penyesatan.(1 Yoh 2:10)




Riri telah bertobat dan menerima Kristus secara pribadi. Dia mulai aktif di pelayanan kampus. Dia mulai aktif di bina dalam kelompok kecil. Dalam kelompok kecil dia mulai didorong untuk bersekutu dengan Tuhan. Tetapi semakin Riri mencoba menikmati hadirat Tuhan semakin terasa ada yang mengganjal dalam dirinya. Suatu saat pemimpin rohani Riri datang dan mengajak Riri sharing. Riri terkejut ketika pemimpinnya bertanya adakah yang masih belum diselesaikannya karena pemimpin rohaninya berkata ada yang menghambat pertumbuhan rohaninya. Akhirnya Riri tidak dapat lagi menyembunyikan hatinya dia mulai tersedu-sedu menceritakan kebenciannya pada ibunya yang meninggalkannya bersama adik-adiknya sejak 10 tahun lalu. Akhirnya pemimpinnya mengajaknya berdoa dan Riri akhirnya mengampuni ibunya. Sejak itu Riri dapat semakin bertumbuh dan lebih luar biasa dalam pelayanannya.

Yohanes menuliskan bahwa barangsiapa berkata bahwa ia telah hidup dalam terang tetapi masih membenci  saudaranya maka dia masih hidup dalam kegelapan. Dalam 1 Yohanes 2 :7-11 memberitahukan pada kita bahwa bagi anak-anak Tuhan tidak ada lagi kegelapan yang tersembunyi dalam dirinya. Seorang anak Tuhan telah hidup dalam terang dan kegelapan tidak lagi menguasainya. Ayat paralel  sebelumnya (ay 3-6) juga dituliskan bahwa tidak ada Tuhan tetapi tidak mau taat pada perintah Tuhan. Jadi seorang percaya akan semakin nyata dalam hal kasihnya pada semua orang dan semakin taat pada perintah Tuhan.

Tidak ada alasan bagi kita untuk mempertahankan rasa sakit hati kita.
 Hari ini, mari memperbaiki hubungan-hubungan yang retak
 sebagai wujud dari ketaatan kita pada Tuhan. 

Senin, 26 Maret 2012

Refleksi Hari Ini: Pengakuan Dari Otoritas Tertinggi


2 Kor 12:1-10 
Dalam sebuah perbincangan kemarin sore dengan teman-teman, kami teringat salah seorang teman yang bekerja di pemerintah kabupaten. Dia dipanggil bersama beberapa temannya untuk diwawancara langsung oleh bupati untuk diangkat menjadi pejabat di kedinasan. Sudah menjadi rahasia umum kalau ingin menjadi pejabat harus membayar sejumlah uang agar dapat menjadi pejabat, tetapi teman kami itu karena langsung dipilih oleh bupati maka dia bisa menjadi pejabat tanpa bayar sana-sini. Pengakuan sang pemegang otoritas itu memang penting. Bisa jadi bahkan dapat memberi kebanggaan tersendiri dan menjadi senjata kalau ada orang-orang yang meragukan kita.

Dalam 2 Korintus 12:1-10 Paulus menjawab jemaat korintus yang mulai meragukan bahkan tidak mengakui kerasulan Paulus. Bagi jeamaat waktu itu Rasul haruslah langsung murid yang dipilih Yesus. Paulus telah menjawabnya dari beberapa segi dan dalam perikop ini Paulus mencoba menekankan bahwa Paulus tidak pernah mau bermegah atas penglihatan-penglihatan yang pernah diterimanya bahakan cendrung tidak menggunakannya untuk mencari dukungan dan simpati. Paulus tidak ingin jemaat menghitung lebih dari apa yang dilihat dan di dengar dari Paulus. Paulus tetap setia pada berita Injil. Paulus bertekun dalam pengajaran. Paulus bisa saja menggunakan penglihatan-penglihatannya untuk menambah minat dan kepercayaan orang pada pemberitaanya tetapi Paulus sadar betul bahwa kuasa dari pemberitaanya justru dari Allah sendiri. Selanjutnya bahkan Paulus mengaku pada akhirnya menerima duri dalam daging yang diberikan Allah dalam dirinya untuk senantiasa memelihara kerendahan hatinya. Paulus menyadari justru dalam kelemahanlah Kuasa Allah nyata dalam kehidupannya.

Pengakuan Allah sebagai otoritas tertinggi bagi Paulus tidak lantas membuat Paulus menjadi salah arah dan menggunakannya untuk memperbesar dirinya. Paulus menerima dalam kelemahannya Kuasa Allah yang mencukupkannya dalam segala hal. Paulus tetap setia menjadi pemberita Injil dan menyerahkan pada Allah untuk menambahkan kuasa bagi pemberitaannya.

Allah memerlukan tangan kita untuk mengerjakan tugas kita 
dan Dialah yang menopangnya dengan kekuatan daripada-Nya

Minggu, 25 Maret 2012

Refleksi Hari Ini: Orang-orang Biasa Di antara Kita


1 Korintus 12: 12-27



Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok.
 Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh,
 tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.(1 Kor 12:18)



Dalam sebuah persekutuan sangat nyaman dekat dengan orang-orang yang aktif, ramah dan sangat perhatian. Pada umumnya, kita sangat bersimpati dengan orang-orang seperti ini. Bahkan kalau kita menjadi seorang yang aktif di persekutuan kita akan sangat dekat dengan sesama orang yang aktif di persekutuan. Tidak jarang kita justru mulai membicarakan orang-orang yang tidak mau terlibat dalam persekutuan yang semakin membuat mereka tidak nyaman dan bahkan tidak jarang akhirnya memutuskan keluar dari persekutuan itu. Adakah orang-orang biasa yang tampaknya tidak melakukan apa-apa dalam persekutuan kita? Benarkah mereka tidak melakukan apa-apa?

Dalam 1 korintus 12:12-27 Paulus dengan tegas mengatakan tidak ada orang yang kurang beararti. Perikop ini berbicara tentang jemaat Korintus yang mulai lebih menganggap lebih hebat karunia-karunia tertentu sehingga dalam jemaat ada orang-orang hebat dan ada orang yang biasa-biasa saja bahkan tidak diperhitungkan. Maka melalui surat ini Paulus dengan mengambil analogi yang sangat mudah dipahami menggambarkan bagaimana kita adalah satu tubuh dengan banyak anggota. Masing-masing anggota mempunyai peran masing-masing. Dengan sangat indah Paulus menuliskan tidak ada yang tidak Tuhan perhatikan. Maka kita pun harus melihat semua orang-orang percaya dalam sebuah persekutuan.

Kembali kepada awal perenungan kita, bagimana kita memandang orang yang biasa-biasa saja, orang yang tidak terlalu menonjol, orang yang tidak suka unjuk diri dalam persekutuan kita. Kita tidak perlu memaksa mereka seperti yang kita mau. Mari belajar untuk berkata,”Dia pun adalah bagian penting dalam persekutuan ini”

Belajar untuk tidak menuntut seseorang untuk berbuat 
tetapi melihat apa yang dia perbuat dalam keutuhan persekutuan kita. (RDS)

Sabtu, 24 Maret 2012

Dimana Kita Merasakan Kebaikan-Nya?


Bacaan Hari Ini: Mazmur 27


Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan
Di negeri orang-orang yang hidup(Maz 27:13)

Selama 4 hari sakit membuatku harus istirahat total di rumah. Saat-saat sedang demam, badan lemah dan nafas sesak, aku berdoa kepada Tuhan. Sempat terpikirkan olehku apakah jawaban terbaik untuk kesembuhan total adalah kembali pada Tuhan? Beginilah kiranya seringkali dialami orang-orang yang tertekan. Aku hanya sakit yang dapat sembuh ketika diobati tetapi bagaimana dengan orang-orang yang mengalami pergumulan berat, orang yang sedang dianiaya, orang yang sedang ditindas? Wajar kalau pada akhirnya mereka berpikhir bahwa jalan terbaik adalah kembali kepada Tuhan. Apakah itu memang jawaban?

Berbeda dengan Daud, ketika dia mengalami tekanan hidup yang sangat berat, saat musuh-musuhnya sedang menyerangnya, maka dia datang pada Tuhan. Dalam mazmur 27 terlihat bagaimana sikap Daud. Ay 1-3 Daud menunjukkan imannya akan jawaban Tuhan. Ay 4-6 Daud menunjukkan pilihannya untuk mengandalkan Tuhan. Ay 7-12 Daud menyampaikan permohonannya pada Tuhan. Ay 13-14 merupakan sebuah kesimpulan yang lahir atas iman yang benar.

Kalimat-kalimat daud yang merindukan untuk diam di rumah Tuhan bukan berarti ada satu sikap menyerah akan hidup ini. Justru dengan tegas dia berkata dia percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup. Kita dapat belajar bagaimanapun beratnya persoalan hidup dan setertekan apapun kita di dunia ini bukan berarti kita lantas langsung menyerah dan merasa jawaban terbaik adalah kembali pada rumah kekal di sorga. Kita di ajar bahwa Tuhan akan menyatakan kebaikannya justru sejak kita masih hidup di dunia ini. Hal ini akan mempengaruhi doa-doa kita.

Seberapa yakinkah kita akan setiap doa-doa yang kita sampaikan pada Tuhan? Apakah doa hanya sebentuk pelarian rohani bagi kita atau sekedar membari ketenangan pada kita? Melalui perikop ini kita belajar. Doa adalah senyata apa yang kita sampaikan kepada Tuhan dan pengharapan kita dimulai dari kita masih di dunia ini.

Ketika keadaan negeri ini semakin kacau dan seakan sulit melihat kebenaran 
maka sebagai orang percaya kita harus berdoa dan percaya 
bahwa kita akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang-orang yang hidup

Jumat, 23 Maret 2012

Refleksi Hari Ini: Satu Identitas Bukan Kepribadian Ganda


Matius 5:13-16
Tahun 2007 saya dipercayakan Tuhan untuk memimpin Unit Kegiatan Mahasiswa Kristen Protestan di kampus dimana saya sedang kuliah. Ketika itu setiap Unit Kegiatan Mahasiswa memiliki dana pembinaan yang dapat dicairkan dengan mengadakan program. Saat itu Unit Kegiatan saya mengadakan sebuah program yang menghabiskan dana 4,5 juta. Ketika saya dan teman-teman pengurus membuat pertanggungjawaban untuk mencairkan dana maka pihak rektorat mencoba untuk berbaik hati dan menawarkan agar sebaiknya dana 20 juta yang diperuntukkan untuk dana pembinaan kami dicairkan saja sekaligus karena kami akan lebih leluasa memakainya. Pada awalnya tawaran itu sangat menyenangkan tetapi kembali saya bertanya bagaimana kami dapat mencairkan dana itu sekaligus? Maka mereka berkata itu gampang, karena kami punya absen mahasiswa yang ikut kegiatan yang baru kami laksanakan. Lalu mereka dengan terang-terangan berkata bahwa mereka akan mengurus stempel rumah makan rekanan dan saya selaku ketua akan menaikkan dana kegiatan sampai 20 juta. Bukankah itu kebohongan walau akan membantu unit kegiatan kami. Lantas saya menolak dan mencoba menawarkan agar saya memasukkan kegiatan lain yang juga kami laksanakan, mereka menolak karena akan sangat merepotkan karena memang program yang kami ajukan hanya satu sedang waktu itu sudah akhir tahun dan sebagaimana biasanya semua unit kegiatan akan menghabiskan dana dengan cara bagaimana pun. Tidak heran kalau banyak mahasiswa berlomba menjadi ketua unit kegiatan mahasiswa di kampus karena bisa jadi memanfaatkannya menjadi sumber pemasukan. Karena saya tetap ngotot mempertahankan laporan pertanggungjawaban saya maka sejak itu saya selalu dijadikan contoh ketua yang tidak tahu mengelola keuangan saat pertemuan-pertemuan resmi oraganisasi dan senat mahasiswa.

Sebagai apakah kita dikenal? Dalam matius 5:13-16 dikatakan dengan  jelas identitas kita sebagai garam dan terang. Tujuannya adalah ayat 16 agar oranglain melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. Saya memang akhirnya hanya menjadi bulan-bulanan pihak rektorat tetapi saya tidak bisa bayangkan jika saja saya berkompromi dan memanipulasi data untuk mencairkan dana sesuka saya tidak sesuai fakta, bukankah itu sama dengan garam yang tidak asin lagi? Dan tentu tidak ada lagi bedanya dengan unit-unit yang lain. Lantas dimana identitas unit yang saya pimpin sebagai unit yang masih memegang teguh Injil?

Identitas kita sebagai garam dan terang merupakan tanggngjawab pribadi dan komunal sebagai orang percaya untuk menunjukkan kemurnian persekutuan tubuh Kristus. Tidak ada kepribadian ganda dalam kehidupan orang percaya. Kepragmatisan kita hanya untuk membuat kita lebih realistis
bukan semata-mata membuat kita berkepribadian ganda. Orang percaya tidak dapat memanipulasi keadaan untuk di satu sisi kelihatan sebagai kristen sejati dan di sisi lain kompromi dengan dunia ini. Sekali garam menjadi tawar tidak ada yang dapat mengasinkannya, sekali kita menjadi ternag pasti terlihat bagi semua orang bagai kota di atas bukit. Bukan berarti kita tidak akan pernah gagal dan jatuh dalam dosa tetapi sebagai orang percaya tentu kita tidak berencana bahkan menikmati lagi dosa  secara sengaja.

Siapakah kita saat ini? Apakah kita memiliki identitas yang jelas atau kita masih seorang yang memiliki banyak kepribadian. Dikenal sejati oleh sebahagian orang tetapi di sisi lain kita justru orang yang menikmati dosa. Kita yang dapat mengoreksinya. Mari hari ini kembali kepada identitas kita sebagai garam dan terang, artinya mulailah hidup dari standart-standart Kebenaran Firman Tuhan yang sederhana, mulai di kamar pribadi, kost/keluarga, teman-teman dekat hingga ke jangkauan yang lebih luas.

Ketidaktaatan kita di kamar pribadi 
akan segera merongrong perjuangan kita yang berapi-api di masyarakat.(RDS)

Kamis, 22 Maret 2012

Refleksi Hari Ini: Iman Manipulatif atau Kasih Karunia



Yakobus 4:1-10

Perikop ini di buka dengan pertanyaan: Darimanakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu. Hal ini memperkuat pernyataan Yakobus dalam pasal 1 ayat 14. Setiap kita setiap waktu harus menghadapi peperangan hawa nafsu dalam diri. Hawa nafsu dalam teks ini berarti hasrat untuk kesenangan diri. Hal inilah yang seringkali mengendalikan diri kita, keputusan-keputusan kita dan sikap perilaku kita. Kita dapat merasa masih benar hanya karena kita masih merasa nyaman. Tetapi Tuhan menginginkan kemurnian.

Dalam perikop ini kita belajar bagaimana Tuhan tidak menginginkan iman yang manipulatif. Iman manipulatif yaitu kita tetap masih merasa rohani karena kita masih melakukan hal-hal rohani tetapi keputusan-keputusan hidup dan nilai-nilai hidup kita sudah dikendalikan oleh hawa nafsu kita. Kita merasa telah dipulihkan dan diampuni hanya karena kita sudah kembali nyaman melakukan kegiatan-kegiatan rohani tanpa diikuti oleh komitmen untuk bangkit. Perikop ini melihat hal ini rentan dalam diri manusia maka Yakobus menasihatkan agar kita merendahkan hati dan datang pada Tuhan dan menerima kasih karunia. Kasih karunia bukan sikap nyaman tetapi pengampunan yang dari Allah sendiri bagi kita. Kasih karunia akan memampukan kita hidup benar dan meninggalkan dosa bukan memberi kenyamanan diri.

Mari mengevaluasi diri, apakah kita makin berdukacita atas dosa-dosa dan pelanggaran baik yang nampak atau yang tidak nampak? Apakah semakin hari kita semakin berkomitmen hidup kudus dan taat?

Kita sangat mudah terjebak ke dalam iman yang manipulatif, memanipulasi perasaan dan pikiran hingga kembali nyaman dan kita merasa kita telah diampuni. Perikop ini mengajarkan: Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa dan sucikanlah hatimu,hai kamu yang mendua hati. Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah ;hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. Dari sini dapat kita lihat bagaimana pertobatan atas dosa dan pengampunan justru bukan perkara sukacita tetapi dukacita. Allah menuntut kemurnian hati dan berbalik penuh pada Dia. Hanya dengan demikian kita dapat melihat Kasih Karunia.

Selasa, 20 Maret 2012

Ketakutan Terbesar Kita Ditakhlukan-Nya

1 Tesalonika 4:13-18

Apakah yang paling menakutkan bagi kita? Kegelapan, Penjahat, Hewan Buas atau Hantu? Dari semua ketakutan itu bolehkah kita simpulkan sesungguhnya di balik semua ketakutan itu hanya satu ketakutan kita yang utama yakni kematian. Kematian merupakan ketakutan terbesar dalam hidup manusia. Manusia melakukan segala hal untuk bertahan hidup tetapi bukankah kehidupan di dunia ini adalah fana dan Yesus menawarkan hidup yang kekal bagi manusia yang mau berbalik kepada Allah di dalam nama-Nya. Tetapi manusia justru memilih kefanaan dan tidak percaya kepada Yesus. Satu sisi manusia menginginkan kehidupan yang lebih lama tetapi ketika Yesus menawarkan kehidupan yang kekal manusia justru menolaknya.

Bagi kita yang percaya kepada Yesus dan memiliki-Nya dan kita adalah milik-Nya maka ada satu kepastian bagi kita bahwa kita telah memiliki hidup yang kekal. Maka bagaimana kita bersikap terhadap kematian? Sebagai orang yang sudah di dalam Yesus kita memiliki pengharapan akan kehidupan setelah kematian yang jauh lebih kekal. Hal inilah yang dinasihatkan oleh Paulus dalam 1 tesalonika 4:13-18. Dalam perikop ini ada dua kali di tekankan bahwa orang yang meninggal di dalam Yesus akan dikumpulkan bersama-sama dengan Allah. Adakah hidup yang lebih mendatangkan ketenangan selain dari hidup bersama-sama dengan Allah. Inilah kehidupan kekal itu bahwa kita hidup bersama-sama dengan Allah.

Sekuat apa kita mempertahankan hidup di dunia ini, bagaimanapun kita akan meninggalkannya, tetapi ketika kita datang kepada Kristus kita akan beroleh kekekalan yang tidak dapat layu.