Matius 5:13-16
Tahun 2007 saya dipercayakan Tuhan untuk memimpin Unit Kegiatan
Mahasiswa Kristen Protestan di kampus dimana saya sedang kuliah. Ketika itu
setiap Unit Kegiatan Mahasiswa memiliki dana pembinaan yang dapat dicairkan
dengan mengadakan program. Saat itu Unit Kegiatan saya mengadakan sebuah
program yang menghabiskan dana 4,5 juta. Ketika saya dan teman-teman pengurus membuat
pertanggungjawaban untuk mencairkan dana maka pihak rektorat mencoba untuk
berbaik hati dan menawarkan agar sebaiknya dana 20 juta yang diperuntukkan
untuk dana pembinaan kami dicairkan saja sekaligus karena kami akan lebih
leluasa memakainya. Pada awalnya tawaran itu sangat menyenangkan tetapi kembali
saya bertanya bagaimana kami dapat mencairkan dana itu sekaligus? Maka mereka
berkata itu gampang, karena kami punya absen mahasiswa yang ikut kegiatan yang
baru kami laksanakan. Lalu mereka dengan terang-terangan berkata bahwa mereka
akan mengurus stempel rumah makan rekanan dan saya selaku ketua akan menaikkan
dana kegiatan sampai 20 juta. Bukankah itu kebohongan walau akan membantu unit
kegiatan kami. Lantas saya menolak dan mencoba menawarkan agar saya memasukkan
kegiatan lain yang juga kami laksanakan, mereka menolak karena akan sangat
merepotkan karena memang program yang kami ajukan hanya satu sedang waktu itu
sudah akhir tahun dan sebagaimana biasanya semua unit kegiatan akan
menghabiskan dana dengan cara bagaimana pun. Tidak heran kalau banyak mahasiswa
berlomba menjadi ketua unit kegiatan mahasiswa di kampus karena bisa jadi
memanfaatkannya menjadi sumber pemasukan. Karena saya tetap ngotot
mempertahankan laporan pertanggungjawaban saya maka sejak itu saya selalu
dijadikan contoh ketua yang tidak tahu mengelola keuangan saat
pertemuan-pertemuan resmi oraganisasi dan senat mahasiswa.
Sebagai apakah kita dikenal? Dalam matius 5:13-16 dikatakan dengan jelas identitas kita sebagai garam dan terang.
Tujuannya adalah ayat 16 agar oranglain melihat perbuatanmu yang baik dan
memuliakan Bapamu yang di sorga. Saya memang akhirnya hanya menjadi
bulan-bulanan pihak rektorat tetapi saya tidak bisa bayangkan jika saja saya
berkompromi dan memanipulasi data untuk mencairkan dana sesuka saya tidak
sesuai fakta, bukankah itu sama dengan garam yang tidak asin lagi? Dan tentu
tidak ada lagi bedanya dengan unit-unit yang lain. Lantas dimana identitas unit
yang saya pimpin sebagai unit yang masih memegang teguh Injil?
Identitas kita sebagai garam dan terang merupakan tanggngjawab pribadi
dan komunal sebagai orang percaya untuk menunjukkan kemurnian persekutuan tubuh
Kristus. Tidak ada kepribadian ganda dalam kehidupan orang percaya. Kepragmatisan
kita hanya untuk membuat kita lebih realistis
bukan semata-mata membuat kita berkepribadian ganda. Orang percaya
tidak dapat memanipulasi keadaan untuk di satu sisi kelihatan sebagai kristen
sejati dan di sisi lain kompromi dengan dunia ini. Sekali garam menjadi tawar
tidak ada yang dapat mengasinkannya, sekali kita menjadi ternag pasti terlihat
bagi semua orang bagai kota di atas bukit. Bukan berarti kita tidak akan pernah
gagal dan jatuh dalam dosa tetapi sebagai orang percaya tentu kita tidak
berencana bahkan menikmati lagi dosa secara sengaja.
Siapakah kita saat ini? Apakah kita memiliki identitas yang jelas atau
kita masih seorang yang memiliki banyak kepribadian. Dikenal sejati oleh
sebahagian orang tetapi di sisi lain kita justru orang yang menikmati dosa. Kita
yang dapat mengoreksinya. Mari hari ini kembali kepada identitas kita sebagai
garam dan terang, artinya mulailah hidup dari standart-standart Kebenaran
Firman Tuhan yang sederhana, mulai di kamar pribadi, kost/keluarga, teman-teman
dekat hingga ke jangkauan yang lebih luas.
Ketidaktaatan kita di kamar pribadi
akan segera merongrong perjuangan
kita yang berapi-api di masyarakat.(RDS)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar