Jumat, 23 Maret 2012

Refleksi Hari Ini: Satu Identitas Bukan Kepribadian Ganda


Matius 5:13-16
Tahun 2007 saya dipercayakan Tuhan untuk memimpin Unit Kegiatan Mahasiswa Kristen Protestan di kampus dimana saya sedang kuliah. Ketika itu setiap Unit Kegiatan Mahasiswa memiliki dana pembinaan yang dapat dicairkan dengan mengadakan program. Saat itu Unit Kegiatan saya mengadakan sebuah program yang menghabiskan dana 4,5 juta. Ketika saya dan teman-teman pengurus membuat pertanggungjawaban untuk mencairkan dana maka pihak rektorat mencoba untuk berbaik hati dan menawarkan agar sebaiknya dana 20 juta yang diperuntukkan untuk dana pembinaan kami dicairkan saja sekaligus karena kami akan lebih leluasa memakainya. Pada awalnya tawaran itu sangat menyenangkan tetapi kembali saya bertanya bagaimana kami dapat mencairkan dana itu sekaligus? Maka mereka berkata itu gampang, karena kami punya absen mahasiswa yang ikut kegiatan yang baru kami laksanakan. Lalu mereka dengan terang-terangan berkata bahwa mereka akan mengurus stempel rumah makan rekanan dan saya selaku ketua akan menaikkan dana kegiatan sampai 20 juta. Bukankah itu kebohongan walau akan membantu unit kegiatan kami. Lantas saya menolak dan mencoba menawarkan agar saya memasukkan kegiatan lain yang juga kami laksanakan, mereka menolak karena akan sangat merepotkan karena memang program yang kami ajukan hanya satu sedang waktu itu sudah akhir tahun dan sebagaimana biasanya semua unit kegiatan akan menghabiskan dana dengan cara bagaimana pun. Tidak heran kalau banyak mahasiswa berlomba menjadi ketua unit kegiatan mahasiswa di kampus karena bisa jadi memanfaatkannya menjadi sumber pemasukan. Karena saya tetap ngotot mempertahankan laporan pertanggungjawaban saya maka sejak itu saya selalu dijadikan contoh ketua yang tidak tahu mengelola keuangan saat pertemuan-pertemuan resmi oraganisasi dan senat mahasiswa.

Sebagai apakah kita dikenal? Dalam matius 5:13-16 dikatakan dengan  jelas identitas kita sebagai garam dan terang. Tujuannya adalah ayat 16 agar oranglain melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. Saya memang akhirnya hanya menjadi bulan-bulanan pihak rektorat tetapi saya tidak bisa bayangkan jika saja saya berkompromi dan memanipulasi data untuk mencairkan dana sesuka saya tidak sesuai fakta, bukankah itu sama dengan garam yang tidak asin lagi? Dan tentu tidak ada lagi bedanya dengan unit-unit yang lain. Lantas dimana identitas unit yang saya pimpin sebagai unit yang masih memegang teguh Injil?

Identitas kita sebagai garam dan terang merupakan tanggngjawab pribadi dan komunal sebagai orang percaya untuk menunjukkan kemurnian persekutuan tubuh Kristus. Tidak ada kepribadian ganda dalam kehidupan orang percaya. Kepragmatisan kita hanya untuk membuat kita lebih realistis
bukan semata-mata membuat kita berkepribadian ganda. Orang percaya tidak dapat memanipulasi keadaan untuk di satu sisi kelihatan sebagai kristen sejati dan di sisi lain kompromi dengan dunia ini. Sekali garam menjadi tawar tidak ada yang dapat mengasinkannya, sekali kita menjadi ternag pasti terlihat bagi semua orang bagai kota di atas bukit. Bukan berarti kita tidak akan pernah gagal dan jatuh dalam dosa tetapi sebagai orang percaya tentu kita tidak berencana bahkan menikmati lagi dosa  secara sengaja.

Siapakah kita saat ini? Apakah kita memiliki identitas yang jelas atau kita masih seorang yang memiliki banyak kepribadian. Dikenal sejati oleh sebahagian orang tetapi di sisi lain kita justru orang yang menikmati dosa. Kita yang dapat mengoreksinya. Mari hari ini kembali kepada identitas kita sebagai garam dan terang, artinya mulailah hidup dari standart-standart Kebenaran Firman Tuhan yang sederhana, mulai di kamar pribadi, kost/keluarga, teman-teman dekat hingga ke jangkauan yang lebih luas.

Ketidaktaatan kita di kamar pribadi 
akan segera merongrong perjuangan kita yang berapi-api di masyarakat.(RDS)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar