Kamis, 22 Maret 2012

Refleksi Hari Ini: Iman Manipulatif atau Kasih Karunia



Yakobus 4:1-10

Perikop ini di buka dengan pertanyaan: Darimanakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu. Hal ini memperkuat pernyataan Yakobus dalam pasal 1 ayat 14. Setiap kita setiap waktu harus menghadapi peperangan hawa nafsu dalam diri. Hawa nafsu dalam teks ini berarti hasrat untuk kesenangan diri. Hal inilah yang seringkali mengendalikan diri kita, keputusan-keputusan kita dan sikap perilaku kita. Kita dapat merasa masih benar hanya karena kita masih merasa nyaman. Tetapi Tuhan menginginkan kemurnian.

Dalam perikop ini kita belajar bagaimana Tuhan tidak menginginkan iman yang manipulatif. Iman manipulatif yaitu kita tetap masih merasa rohani karena kita masih melakukan hal-hal rohani tetapi keputusan-keputusan hidup dan nilai-nilai hidup kita sudah dikendalikan oleh hawa nafsu kita. Kita merasa telah dipulihkan dan diampuni hanya karena kita sudah kembali nyaman melakukan kegiatan-kegiatan rohani tanpa diikuti oleh komitmen untuk bangkit. Perikop ini melihat hal ini rentan dalam diri manusia maka Yakobus menasihatkan agar kita merendahkan hati dan datang pada Tuhan dan menerima kasih karunia. Kasih karunia bukan sikap nyaman tetapi pengampunan yang dari Allah sendiri bagi kita. Kasih karunia akan memampukan kita hidup benar dan meninggalkan dosa bukan memberi kenyamanan diri.

Mari mengevaluasi diri, apakah kita makin berdukacita atas dosa-dosa dan pelanggaran baik yang nampak atau yang tidak nampak? Apakah semakin hari kita semakin berkomitmen hidup kudus dan taat?

Kita sangat mudah terjebak ke dalam iman yang manipulatif, memanipulasi perasaan dan pikiran hingga kembali nyaman dan kita merasa kita telah diampuni. Perikop ini mengajarkan: Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa dan sucikanlah hatimu,hai kamu yang mendua hati. Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah ;hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. Dari sini dapat kita lihat bagaimana pertobatan atas dosa dan pengampunan justru bukan perkara sukacita tetapi dukacita. Allah menuntut kemurnian hati dan berbalik penuh pada Dia. Hanya dengan demikian kita dapat melihat Kasih Karunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar