Yakobus 4:1-10
Perikop ini di buka dengan pertanyaan: Darimanakah datangnya sengketa
dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang
saling berjuang di dalam tubuhmu. Hal ini memperkuat pernyataan Yakobus dalam
pasal 1 ayat 14. Setiap kita setiap waktu harus menghadapi peperangan hawa
nafsu dalam diri. Hawa nafsu dalam teks ini berarti hasrat untuk kesenangan
diri. Hal inilah yang seringkali mengendalikan diri kita, keputusan-keputusan
kita dan sikap perilaku kita. Kita dapat merasa masih benar hanya karena kita
masih merasa nyaman. Tetapi Tuhan menginginkan kemurnian.
Dalam perikop ini kita belajar bagaimana Tuhan tidak menginginkan iman
yang manipulatif. Iman manipulatif yaitu kita tetap masih merasa rohani karena
kita masih melakukan hal-hal rohani tetapi keputusan-keputusan hidup dan
nilai-nilai hidup kita sudah dikendalikan oleh hawa nafsu kita. Kita merasa
telah dipulihkan dan diampuni hanya karena kita sudah kembali nyaman melakukan
kegiatan-kegiatan rohani tanpa diikuti oleh komitmen untuk bangkit. Perikop ini
melihat hal ini rentan dalam diri manusia maka Yakobus menasihatkan agar kita
merendahkan hati dan datang pada Tuhan dan menerima kasih karunia. Kasih karunia
bukan sikap nyaman tetapi pengampunan yang dari Allah sendiri bagi kita. Kasih
karunia akan memampukan kita hidup benar dan meninggalkan dosa bukan memberi
kenyamanan diri.
Mari mengevaluasi diri, apakah kita makin berdukacita atas dosa-dosa
dan pelanggaran baik yang nampak atau yang tidak nampak? Apakah semakin hari
kita semakin berkomitmen hidup kudus dan taat?
Kita sangat mudah terjebak ke dalam iman yang manipulatif,
memanipulasi perasaan dan pikiran hingga kembali nyaman dan kita merasa kita
telah diampuni. Perikop ini mengajarkan: Tahirkanlah tanganmu, hai kamu
orang-orang berdosa dan sucikanlah hatimu,hai kamu yang mendua hati. Sadarilah
kemalanganmu, berdukacita dan merataplah ;hendaklah tertawamu kamu ganti dengan
ratap dan sukacitamu dengan dukacita. Dari sini dapat kita lihat bagaimana
pertobatan atas dosa dan pengampunan justru bukan perkara sukacita tetapi
dukacita. Allah menuntut kemurnian hati dan berbalik penuh pada Dia. Hanya dengan
demikian kita dapat melihat Kasih Karunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar