Jumat, 22 Juni 2012

Berbicara secara tepat pada waktu yang tepat


Matius 26:57-64
Ketika kita diperhadapkan dengan fitnah dan saksi-saksi dusta apa yang akan kita lakukan? Tidak sedikit bahkan hampir semua diantara kita akan menjawab dan melakukan pembelaan diri. Bahkan belakangan ini kita banyak menyaksikan para tersangka kasus korupsi melakukan pembelaan diri dengan memanipulasi fakta untuk sedapat mungkin meringankan hukuman atau bebas. Sehari-hari kita juga akan sangat rektif terhadap orang yang salah mengerti dengan kita. Kebebasan tak terbatas dalam mengutarakan pendapat di media atau jejaring sosial menunjukkannya. Lihat saja dalam jejaring-jejaring sosial, begitu banyaknya orang latah dalam membuat komentar atas sebuah pernyataan seseorang. Bahkan perang kata seakan tidak masalah di ruang publik. Berbicara menjadi sedemikian subjektif seolah tidak ada tanggungjawab moral dan etika bagi seseorang.

Setelah Yesus ditangkap, Dia dibawa ke hadapan imam besar Kayafas. Maka pada Yesus dihadapkan saksi-saksi dusta untuk mencari kesalahan Yesus agar dijatuhi hukuman mati. Tetapi Yesus tidak melakukan pembelaan diri. Dalam perikop yang kita baca dikatakan Yesus diam. Apakah Yesus tidak dapat membela diri? Bisa saja, tetapi Yesus tahu, bagimanapun ia membela diri, itu hanya akan membuat Imam Besar semakin emosional karena semua pembelaan diri Yesus menyangkut harga diri Kayafas sebagai imam besar. Hal ini nampak ketika dua orang bersaksi tentang pernyataan Yesus yang akan membangun bait Allah dalam tiga hari. Imam Besar itu memaksa Yesus berespon dan bertanya benarkah Yesus Mesias. Yesus menjawab bahwa kayafaslah yang mengetakannya dan bahkan orang-orang itu akan melihat Yesus dipermuliakan. Maka Kayafas menjadi sangat marah.

Yesus tahu siapa yang sedang dihadapi-Nya. Iman Besar dan ahli-ahli taurat telah mempunyai kesimpulan dalam diri mereka tentang Yesus. Jadi apapun pembelaan diri Yesus hanya akan menyulut emosi dan amarah mereka. Yesus tahu persis apa yang harus dikatakannya dan saat kapan. Kita adalah saksi Kristus dan harus menyaksikan Iman kita kepada banyak orang. Tetapi kita memerlukan hikmat dalam bersaksi. Kepekaan kita akan pimpinan Roh Kudus akan membuat kita peka kapan harus berbicara dan apa yang harus diucapkan. 

Ditengah derasnya arus informasi dan ketika kata-kata berubah menjadi bentuk digital dalam dunia maya kita di dorong untuk begitu rekatif dalam berkomentar. Kita tidak sempat diam dan berpikir secara dalam. Sehingga dalam percakapan kita sehari-hari kita terbawa untuk begitu reaktif. Menggunakan bahasa-bahasa  singkat atau kalimat-kalimat pendek yang cendrung refleks serta mudah terbawa emosi kepada sesuatu yang  mengusik perasaan. Secara praktis kita harus mengenal siapa lawan bicara kita dan kira-kira apa yang dia pikirkan dan apa reasinya terhadap kita. Jika misalkan kita sedang berbicara pada seorang yang sejak awal ingin mendebat kita dan menjatuhkan kita, sebaiknya kita minta Roh Kudus menolong kita menahan diri dan berhikmat mengalihkan pembicaraan pada hal-hal yang menyenangkan. Terkadang yang diperlukan orang lain bukan kata-kata tetapi ungkapan perhatian dan kasih melalui tindakan. Atau mungkin orang itu hanya perlu didengar lebih dahulu.

 Dari setiap kata-kata kita hendaknya terpancar siapa kita. sebagai orang yang telah hidup dalam Kristus , iman kita harus terpancara dari kata-kata kita saat berbicara baik langsung maupun dalam dunia maya. Hari ini kita belajar satu prinsip kebenaran Firman Tuhan,  kita harus tetap memohon hikmat dan pimpinan Roh Kudus menuntun kita untuk berbicara sehingga kita dapat berbicara atau memberi komentar dengan tepat dan waktu yang tepat.

Kesaksian kita adalah kesaksian Roh. 
Roh Kudus yang akan menuntun kita untuk bersaksi dan berkata-kata. 

Kamis, 21 Juni 2012

Muda dan Bijaksana



Amsal 2

Pernakah anda merasakan Tuhan berbicara begitu jelas pada anda ketika anda membaca Alkitab

Dalam amsal ini diberikan nasihat-nasihat bijak bagi seorang muda. Jika seorang muda sungguh-sungguh menerima hikmat (Firman Tuhan) maka ia akan beroleh pengertian tentang takut akan Tuhan. Dengan demikian ia akan memperoleh pengertian bagaimana hidup dalam kebenaran, keadilan dan kejujuran bahkan setiap jalan yang baik. Jadi pertama kita harus dengan sungguh-sungguh mempelajari firman dan menerimanya sebagai hikmat dari pada Allah dengan begitu kita akan beroleh pengertian bagimana seharusnya seorang percaya hidup dan kita akan beroleh  jalan yang harus kita tempuh.

Ketakutan akan masa depan dan ketidakpastian dalam rancangan masa depan serta keraguan dalam pengambilan keputusan disebabkan oleh pengenalan yang miskin akan Allah. Ketika kita bergaul karib dengan Tuhan maka kita akan semakin mengenal kehendak-Nya. Oleh sebab itu yang diperlukan adalah ketekunan mempelajari firman.

Mempelajari firman bukan sekedar membaca. Membaca Alkitab bukan untuk mengetahui isi ceritanya tetapi bagimana cerita dalam alkitab yang kita baca berbicara tentang kita. Kita menjadi bingung membedakan keputusan yang benar dan yang salah karena kita begitu miskin mengetahui prinsip-prinsip kebenaran dalam alkitab. Dalam membaca alkitab kita harus mampu menemukan prinsip-prinsip yang mau Tuhan sampikan bagi kita sehingga kita peka ketika mengahadapi sebuah situasi prinsip mana yang akan kita gunakan.

Ketika kita menghadapi situasi yang sulit dan menuntut kita untuk mengambil keputusan maka kita jangan menunggu ada sesuatu suara atau perasaan-perasaan tertentu menghinggapi kita. Pertama-tama, apa prinsip firman Tuhan berkaitan dengan situasi ini. kita dapat berdoa meminta Tuhan menunjukkannya. Ketika kita telah menemukannya dan belum yakin kita dapat mengkonfirmasi dengan pemimpin atau sahabat rohani kita. Kalau memang belum kita merasakan ada perasaan tertentu dan keadaan semakin mendukung itupun dapat sebagai konfirmasi. Jadi hikmat daripada Tuhan kita temukan dalam Kebenaran Firman yang dianugerahkan bagi kita dalam bentuk tulisan dan hikmat itu akan menuntun kita hidup.

Sebuah hal yang tidak lucu ketika seorang merasa tidak diperhatikan Tuhan tetapi dia sendiri tidak mempunyai kebiasaan membaca alkitab.


Jumat, 25 Mei 2012

Kesombongan dan Kerendahan Hati


Salah satu bahaya seorang pemimpin adalah apabila ia jatuh kepada kesombongan. Manusia sangat rentan terhadap kesombongan. Hal ini dapat terjadi saat seseorang diberi kuasa, menyadari akan persepsi umum terhadapnya dan memegahkan keberhasila dirinya. Kesombongan hadir dalam diri seseorang karena merasa lebih dari yang lain. Kesombongan bukan dikarenakan keadaan atau realitas dirinya tetapi sikap merasa lebih dari yang lain. Oleh karena itu seorang yang sombong tidak akan senang melihat orang sombong yang lain. Seorang pemimpin adalah seorang yang superior tapi bukan dalam hal statusnya melainkan dalam hal fungsinya. Seorang pemimpin memang harus menyadari superiornya terhadap orang-orang yang dipimpinnya dalam hal menangkap visi, mengorganisasi dan memotivasi.
Bahaya dari kesombongan adalah kesombongan merupakan sikap dalam diri yang tersembunyi. Ia berasal dari dalam. Bahkan seornag tidak dapat berkata telah bebas dari kesombongan karena jika demikian itu merupakan kesombongan itu sendiri.

Satu-satunya sikap yang kita miliki tanpa pernah merasa memilikinya adalah kerendahan hati. Ketika kita mengakui bahwa kita rendah hati saat itu juga kita telah kehilangan kerendahan hati. Kerendahan hati merupakan sikap yang mengakui ketiadaan diri dihadapan Allah dan dalam Allah yang menjadi segala sesuatu kitaa menjadi sesuatu. Aku harus terus belajar merendahkan hati untuk dapat melihat perbuatan-perbuatan Tuhan dalam pelayanan yang sedang kukerjakan dan tidak sampai di sana, perlu kerendahan hati untuk dapat dipakai Tuhan secara leluasa. Kesombongan hanya akan menghambat pekerjaan Tuhan dalam diriku.
(Refleksi Dari Buku Kepemimpinan Kristen oleh Sendjaya)

Kamis, 17 Mei 2012

Menapaki Jalan Kepastian


Yohanes 13 : 36-14:7

Sekiranya anda akan mendaki sebuah gunung untuk pertama kali, tentu anda akan membutuhkan seornag Ranger yang dapat membimbing anda hingga ke puncak. Seorang kemudian datang dan mengenalkan diri sebagai seorang ranger. Dia telah mendapat pelatihan dari berbagai badan SAR dan sejenisnya bahkan dia seorang  sarjana geografi dari kampus ternama. Tetapi dia sama sekali belum pernah mendaki sampai ke puncak. Kemudian seorang lain datang. Dia tidak mendapat pelatihan apapun dan tanpa gelar pendidikan apapun tetapi dia berkata bahwa tinggal di puncak dan turun ke bawah untuk menolong siapa yang ingin naik ke atas. Dan dia telah membuat jalan setapak untuk dilalui. Siapakah yang akan anda percaya??? Apakah anda percaya pada orang yang belum pernah naik ke puncak atau orang yang memang tinggal di atas dan turun ke bawah menunjukkan jalan.

Yesus dengan pasti berkata bahwa Dialah satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup. Dia datang dari Bapa dan Dia kembali kepada Bapa. Kita hanya dapat sampai kepada Bapa melalui Dia. Dia telah memberi jalan kepastian. Sehingga ketika kita percaya kepadanya maka kita sedang berjalan di jalan kepastian. Mengikut Yesus bukanlah meraba dan mencari jalan kepastian tetapi Mengikut Yesus adalah berjalan di jalan kepastian. Maka Yesus berkata :”janganlah gelisah hatimu, percayalah kepadaku”

Apakah kita masih ragu mempercayakan hidup kita kepada Yesus?? Hari ini kita memperingati hari kenaikan Yesus. Dalam perikop kita hari ini, di awali dengan pernyataan yang luar biasa dari Petrus bahwa dia akan mengikut Yesus bahkan akan memberikan nyawanya pada Yesus, tetpai Yesus justru membukakan bagaimana Petrus akan menyangkal Yesus. Namun demikian Yesus tidak reaktif dan menegur Petrus. Yesus berkata bahwa mengikut Yesus bukan soal proklamasi yang menggebu-gebu. Mengikut Yesus bukan soal emosional. Mengikut Yesus adalah mempercayakan hidup padanya dan mengenal Dia. Hanya ketika kita mengenal Yesus maka kita akan mengenal Bapa.

Pertanyaan Refleksi:
1.       Bagaimana anda mempercayakan hidup anda pada Yesus selama ini?
2.       Apa arti hari kenaikan bagi anda selama?
3.       Bagaimana perenungan hari ini menolong anda merubah pemahaman anda selama ini tentang hari kenaikan?
4.       Apakah ada hal yang Tuhan secara khusus hari ini?
5.       Apakah langkah konkrit dari perenungan anda hari ini?

Rabu, 16 Mei 2012

Ditegur, Menegur dan Saling Mendewasakan


Galatia 2:11-14

Ketika saya bertobat dan menerima Yesus, saya mulai mengikuti sebuah pembinaan dalam kelompok kecil. Saya masuk kedalam komunitas orang-orang percaya. Saya merasakan sebuah kekuatan persekutuan. Saya kembali dapat mempercayai orang lain. Bahkan saya sangat percaya pada orang-orang yang ada dalam persekutuan.  Aku melihat kesungguhan dan kehidupan yang apa adanya sehingga aku menaruh percaya pada mereka. Sampai suatu hari, dalam sebuah pertemuan, saya berbicara mengevaluasi kinerja pelayanan seorang saudara di dalam Tuhan. Tidak ada niatan apapun, bahkan saya benar-benar berbicara karena saya tahu kami adalah saudara. Tetapi di akhir acara, secara tiba-tiba dia berkata bahwa aku telah menghakiminya. Aku terkejut dan menjadi lemas. Sepanjang malam aku dilanda krisis. Semua kesanku dalam komunitas di defenisi ulang. Aku tidak dapat percaya bahwa ketulusanku disalah arti. Masihkah sesama orang percaya saling mencurigai? Ternyata tahapan ini merupakan tahapan pendewasaan dalam iman.

Petrus ditegur keras oleh Paulus. Persoalannya, Petrus bukan secara sengaja melakukan kemunafikan tetapi karena menjaga perasaan orang jahudi terhadap dia, akhirnya Petrus menjadi berdua muka dan itu sama dengan kemunafikan. Sebagai saudara seiman, Paulus tentu harus menegur Petrus. Paulus menegur Petrus sesuai dengan Firman Tuhan, bukan bermaksud menjatuhkan atau mempermalukan Petrus. Paulus sungguh-sungguh menegurnya di dalam Tuhan.  Dalam perikop ini, tidak diberitahukan bagaimana kelanjutan hubungan Petrus dan Paulus tetapi di kemudian hari, pelayanan Petrus akhirnya semakin terbuka dan dapat menerima orang-orang bukan Yahudi.

Untuk mendewasakan kita, kita perlu mendapat teguran dari saudara seiman dan dalam Tuhan kita harus menegur saudara kita untuk pertumbuhannya. Mungkin pada awalnya kita tidak siap dan seringkali hubungan menjadi tidak nyaman tetapi di dalam kasih Yesus yang mempersatukan kita, kita akan semakin bertumbuh dan saling mendewasakan.

Keesokan harinya, aku pergi ke sekretariat dan menjumpainya dan mengajaknya berbicara berdua. Aku meminta maaf kalau ternyata aku telah menyinggungnya dan aku memulihkan hubunganku dengannya. Dan aku tahu dia tetap menjadi saudaraku di dalam Yesus.

Selasa, 15 Mei 2012

Bukan Perasaan Semata


Mazmur 145
Belakangan ini lagu-lagu rohani banyak diciptakan. Dengan adanya siaran-siaran Kristen sertateknologi internet maka lagu-lagu rohani menjadi sangat mudah diakses. Tetapi kalau kita mengamati, kebanyakan lagu-lagu pujian itu merupakan ungkapan-ungkapan perasaan. Pujian hanya lahir dari perasaan pribadi bukan karena pengenalan akan Allah. Lirik-lirik yang selalu menjadikan aku sebagai subjek. Jadi aku memuji engkau sebab....Saat ini kita akn belajar salah satu lagu pujian Daud.

Mazmur ini merupakan mazmur pujian dari Daud. Mazmur ini dimulai secara pribadi dengan menggunakan subjek aku (ay 1-2) dan juga di tutup dengan ungkapan pribadi (ay 21). Secara keseluruhan Daud mengembangkan pujiannya melampaui pujian pribadi. Mazmur 145 dapat dibagi 3 yaitu pertama, pujian karena kebesaran Tuhan (1-7). Kebesaran Tuhan patut dipuji bukan karena kita sendiri merasakannya. Angkatan demi angkatan akan memuji kebesaran Tuhan. Pujian kita bukan hanya sesuatu yang kita rasakan tetapi Allah patut kita puji karena kebesaran-Nya. Jadi pujian kita bukanlah pujian yang kondisional.

Kedua, Kita memuji Tuhan sebab Dia memerintah dan keadilan dan kesetiaan-Nya ( 8-13). Tuhan patut kita puji dalam penghayatan akan kedaulatan-Nya bagi semua orang. Dia memerintah bukan hanya atas kita tetapi Ia memerintah dalam kasih setia dan keadilan. Sekali lagi, pujian kita bukanlah pujian kondisional tetapi Allah patut dipuji sebab dialah Allah yang memerintah.

Ketiga, kita memuji Tuhan sebab Dialah Allah yang nyata dan pribadi bagi orang-orang yang berseru padanya (14-21). Tuhan tidak pernah jauh. Tuhan tidak relatif. Satu-satunya yang memisahkan kita dari Allah adalah dosa pelanggaran kita. Tetapi itupun bukan berarti Tuhan menjauh. Kitalah yang sedang menjauh. Dalam pelanggaran dan dosa kita, kita sesungguhnya sedang menolak kuasa dan kedaulatan Allah dalam hidup kita. Tetapi Tuhan tetap dekat, itu sebab ketika kita berbalik maka Tuhan membuka tangan-Nya menerima kita dan kita diberi kekuatan untuk bangkit. Allah adalah Tuhan yang secara pribadi dapat dirasakan oleh orang-orang yang berseru pada-Nya. Oleh karena itu patutlah kita memuji Allah.

Sebagaimana mazmur ini diawali dan di akhiri oleh ungkapan pribadi sebagai pujian. Tetapi dalam pujian dan penyembahan kita, seharusnya melampaui kondisi hati dan perasaan kita. Kita memuji Allah sebab dia patut dipuji oleh umat sepanjang masa, kita memuji Dia sebab Dia berdaulat dalam pemerintahan-Nya dalam generasi ini, dan kita memuji Tuhan sebab Dia memang Allah yang hadir dalam hidup setiap orang percaya secara pribadi.

Sabtu, 05 Mei 2012

Doa vs Curhat


Matius 6:5-17
Roro berjalan dengan terburu-buru dan langsung masuk ke rumah Riri. Sesampainya dia melihat Riri lagi duduk sendiri. Roro duduk di samping Riri dan langsung mencurahkan semua kepenatan hatinya. Bukan sekali ini saja Roro melakukannya. Roro tidka perduli apa yang dirasakan oleh Riri, setiap kali dia ingin bercerita dia akan mencari Riri dan langsung menumpahkan semua kepenatan hatinya. Sebenarnya, ketika Roro bercerita, dia tidak tahu kondisi Riri yang juga ingin berbicara. Artinya Roro tidak mengenal Riri, dia hanya perlu didengar bukan dialog.

Seringkali dalam berdoa juga kita melakukan apa yang dilakukan oleh Roro. Ketika kita merasakan pergumulan, kita datang pada Tuhan dan membukakan secara panjang lebar kondisi kita seakan Tuhan tidak tahu kondisi kita. Kita menyampaikan semua keinginan kita seakan Tuhan alpa dari kehidupan kita dan tidak tahu kebutuhan kita. Bahkan ada sebahagian orang yang merasa kalau berdoa harus sampai menangis, berteriak atau semua isi hatinya ditumpahkan. Apakah doa adalah sebuah cara memuaskan kita secara psikologi.

Ketika kita berdoa, apakah kita sungguh-sungguh membutuhkan dialog dengan Tuhan atau sekedar curhat. Hanya orang yang curhat yang akan bertele-tele dan berkepanjangan sepuas hatinya. Doa adalah sarana bagi kita berdialog kepada Tuhan sang Khalik. Kita yang adalah ciptaan diperkenan datang berkomunikasi dengan Pencipta. Dalam Matius 6: 5-17 ada 2 hal yang diajarkan. Pertama, fokus doa kita adalah Tuhan bukan manusia(5-6). Jadi ketika berdoa kita seharusnya berfokus pada Tuhan bukan pada manusia. Kedua, Doa lahir berdasarkan pengenalan akan Allah (ay 7-17). Jadi berdoa bukan demi kepuasan hati kita tapi sebuah dialog oleh pengenalan akan Dia. Yesus dengan tegas mengingatkan agar kita tidak berdoa berkepanjangan dan bertele-tele seakan Tuhan tidak tahu apa yang kita butuhkan.

Kamis, 03 Mei 2012

Jangan berpikir Keluar Pelayanan Sejenak


Flipi 4:1-9
Pernahkah kita berpikir untuk sejenak tidak terlibat dalam pelayanan? Bagi alumni yang baru menyelesaikan study, mungkin selama ini merasa sudah terlalu banyak aktif di pelayanan kampus dan ketika alumni ingin lebih santai dahulu. Paling tidak beberapa orang mungkin berpikir jangan aktif dulu sebagai pelayan, panitia atau pengurus, ingin melakukan hal-hal yang menyenangkan lebih dulu. Kita perlu mengingat, semakin kita menjauh dari pelayanan semakin kita dekat dengan nilai dunia ini, semakin kita dekat dengan nilai dunia semakin kita kehilangan keseimbangan diri. Hidup kita pada akhirnya semakin diliputi oleh berbagai keinginan diri, target-target sebagaimana yang dunia inginkan. Ketika semua itu tidak terpenuhi, kita akan hidup dalam kekwatiran, kehilangan sukacita.

Dalam akhir suratnya kepada jemaat filipi (pasal 4), Paulus menyerukan agar jemaat berdiri teguh di dalam Tuhan. Paulus menyerukan agar jemaat dapat menjaga persekutuan diantara mereka dengan saling menguatkan dan menerima para orang-orang yang telah bekerja bagi Tuhan. Hal ini akan menolong kita untuk tetap kuat. Kita akan dikuatkan ketika kita dapat menjalin persekutuan dengan orang-orang kuat.

Setelah itu, Paulus berseru agar jemaat bersukacita, sukacita yang berasal dari Tuhan bukan dari pencapaian keinginan dunia ini. Bagimana kita dapat tetap bersukacita, Paulus berkata agar kita menyerahkan segala keinginan kita kepada Tuhan. Dengan demikian damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal pikiran akan menyertai kita. Apakah cukup dengan berdoa? Paulus menambahkan, setelah kita menyerahkan semua pada Tuhan, maka kita harus menjaga pikiran kita dan sikap perbuatan kita seturut dengan apa yang telah kita terima dalam Tuhan. Jadi,dengan jelas dapat kita lihat dalam ay 8-9 bahwa Paulus menyerukan agar jemaat tetap menjaga pikiran dan perbuatannya sebagaimanan mereka telah diajar di dalam Tuhan. Sekali lagi Paulus menekankan, maka damai sejahtera Allah akan menyertai kita. Karena itu kita, harus tetap kembali ke dalam persekutuan pelayanan dimana kita dapat bertumbuh.

Berpikir untuk sejenak tidak terlibat dipelayanan, 
sama artinya berpikir untuk sejenak mati suri.

Rabu, 02 Mei 2012

Mendengar Suara Roh Kudus


Yohanes 16:7-15
 3 hari lalu aku mengantarkan seorang kakak ke stasiun. Sesampai di stasiun, aku melihat seorang pedaang roti dari merek yang sangat terkenal sedang berhenti di gerbang. Karena penasaran, aku memutuskan untuk memebeli beberapa jenis. Dengan harga berkali lipat dari roti yang biasa kubeli pagi di depan rumah tetapi tidak karena memang aku selalu penasaran mengapa merek itu menjadi terkenal. Ketika pulang, saat melewati jalan kota, entah bagaimana, mataku langsung tertuju pada seseorang yang mengais sampah. Jantungku berdegup kencang, aku mengurangi kecepatan. Kepalaku berkelebat, ada suara di hatiku dengan keras minta aku berhenti . Ada banyak pertimbangan hingga beberapa ratus meter, akhirnya aku mengalahkan semua pertimbanganku. Aku berbalik arah dan berhenti tepat di depan pemuda yang mengais tempat sampah itu. Tentu dia sangat lapar, aku menyodorkan roti kepadanya, tersenyum dan akhirnya aku meninggalkannya dengan sukacita tak tergambarkan.

Dalam Yohanes 16: 7-15 Yesus menjanjikan Roh Kudus. Kita yang hidup di dalam Yesus memiliki roh Kudus yan akan menuntun, membimbing dan mengajar kita untuk hidup taat. Tapi seringkali kita lebih banyak pertimbangan dan lebih mendengarkan pikiran-pikiran sendiri sehingga seringkali kita mengabaikan suara Roh Kudus. Mari belajar untuk hidup mengikuti kegerakan Roh Kudus. Sekali kita mengabaikan suara Roh Kudus akan membuat kita semakin tidak peka sebaliknya ketaatan dalam hal-hal sederhana akan semakin membuat kita semakin peka pada pimpinan-Nya.

Tuhan, biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa memenuhi ruang hatiku
 sehingga dengan hati nurani yang murni
aku beroleh pengertian dan hikmat.

Selasa, 01 Mei 2012

Hidup Sebagai Manusia Kekal


Roma 12:1-2

Dalam sebuah ngobrol santai dengan seorang teman tentang kedisiplinan dalam menjaga kesehatan tubuh maka seseorang berkata begini: “kita sebagai anak Tuhan memang akan bersama Dia kelak dalam kerajaan-Nya, tetapi pertanyaannya, apakah kelak kita bisa terlambat makan?”. Kedengarannya memang seperti sebuah lelucon tetapi saya berpikir, kalau selama hidup di dunia sebagai anak Tuhan kita sulit menghilangkan kebiasaan kedagingan kita, apakah kita bisa tiba-tiba berubah menjadi orang yang sangat sempurna kelak di sorga.

Memang kita mengimani bahwa kita akan dibangkitkan dalam tubuh kebangkitan, tentulah disempurnakan di dalam Yesus. Tetapi bagi saya, ketika kita telah menerima Yesus, bukankah kita telah menjadi makhluk kekal saat ini, orang-orang yang telah menerima anugerah hidup kekal, lantas bagaimana cara hidup kita dalam menyongsong hidup kekal itu. Sebahagian mungkin akan berkata, bahwa kelak kita hanya akan tinggal menyembah Allah. Tetapi bukankah kita hidup dalam kebangkitan tubuh dan akan tinggal bersama allah di langit yang baru dan bumi yang baru. Jadi jelas, bahwa selama kita hidup di dunia kini mestinya menunjukkan kehidupan yang kekal dimana kita hidup dalam kedaulatan Allah yang memerintah. Paulus berkata bahwa harus mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup karenanya kita tidak bisa lagi serupa dengan dunia ini tetapi berubah oleh pembaharuan budi di dalam Yesus Kristus.

Mari mengoreksi, kebiasaan-kebiasaan atau sikap hidup kita, seharusnya dari waktu ke waktu kita semakin bernilai kekal. Mendisiplin diri untuk menjaga kesehatan adalah salah satu nilai kekal yang harus kita tingkatkan.

Ajar aku Tuhan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan manusia lamaku 
dan belajar hidup dalam nilai kekal seturut Firman-Mu

Jumat, 27 April 2012

Lebih Dari Sekedar Sensasi


Lukas 9:57-62

Saya pernah beribadah di salah satu gereja. Suasana ibadah dari awal sampai akhir sangat menggunggah. Ketika penyembahan, dukungan musik dan kemampuan pembawa ibadah membuat setiap orang yang beribadah kelihatan begitu menikmati hadirat Tuhan. Di akhir pemberitaan firman, hamba Tuhan memberi penantangan untuk menerima Tuhan.  Sepulang ibadah saya merenungkan, seandainya setiap orang yang mengambil keputusan dalam ibadah itu sungguh-sungguh menjadi pengikut Yesus maka dari minggu ke minggu akan semakin banyak orang yang hidup di dalam Tuhan. Tetapi aku menyadari, bukankah dalam ibadah itu orang-orang yang sama yang tiap minggu mengangkat tangan menerima Yesus.

Dalam Lukas 9:57-62 menceritakan bagaimana seseorang yang sangat tergugah melihat Yesus memutuskan untuk mengikut Yesus, tetapi Yesus tahu motivasi orang itu sehingga Yesus menegornya. Orang itu sebenarnya mau mengikut Yesus untuk dirinya sendiri, untuk kepentingannya. Ada lagi seorang yang diajak Yesus tetapi penuh keraguan, akhirnya Yesus menegurnya karena orang itu tidak punya prioritas. Mengikut Yesus sama porsinya dengan urusan-urusan yang lain di dunia ini. Ada lagi yang mau mengikut Yesus tetapi tidak sepenuh hati. Yesus menegurnya dengan keras karena orang itu tidak sepenuh nya ingin mengikut Yesus.

Mengikut Yesus tidak sekedar nikmatnya sebuah sensasi ibadah baik secara pribadi maupun secara komunal. Ada banyak orang yang akhirnya menerima Yesus dalam sebuah kebaktian kebangunan rohani yang sangat menggugah. Perikop ini jelas menyatakan bagi kita. Mengikut Yesus adalah dengan motivasi meyerahkan hidup kepada-Nya, menjadikan Dia yang terutama dalam hidup kita dan dengan sepenuh hati berkomitmen mengikuti-Nya.

Menjadi murid Yesus bukan perkara seberapa sering kita tergugah dalam peribadahan 
tetapi seberapa banyak hidup kita diubah dari sehari-ke sehari semakin serupa dengan Dia

Kamis, 26 April 2012

Tidak Sekedar Bercermin


Yakobus 1: 19-27
Pernahkah kita mendengarkan khotbah atau membaca firman Tuhan, lantas tiba-tiba kita teringat pada seseorang dan langsung berfikir,”seandainya dia mendengar firman ini” artinya kita merasa firman itu lebih tepat atau cocok sekali dengan orang tersebut. Jika kita terdorong oleh kasih kita pada orang tersebut, maka hal ini baik tetapi kita jika kita terdorong hanya untuk menegur orang dan mengamat-amati kesalahannya, ini tidak baik.

Yakobus mengingatkan, agar kita cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk berbicara. Firman Tuhan yang dijadikan hanya sebagai pengetahuan akan cendrung untuk menjadikannya seagai senjata untuk menegur orang lain. Yakobus mengingatkan bahwa Firman Tuhan bukan sekedar di dengar tetapi dilakukan. Firman Tuhan haruslah lebih dahulu mengubahkan hidup kita. Mengetahui banyak firman tidak sama dengan hidup di dalam firman Tuhan.

 Yakobus mengingatkan agar kita mengekang lidah dan tidak hidup dalam amarah. Mengapakah Yakobus menghubungkan pengekangan lidah dan amarah dengan melakukan firman. Jika kita mengetahui banyak firman Tuhan dan tidak melakukannya kita akan merasa bahwa kita telah hidup dalam firman sehingga kita akan dengan mudah melihat kesalahan-kesalahan orang lain lantas menjadi marah. Dan hal yang sangat buruk ketika firman Tuhan kita jadikan hanya untuk menegur orang lain. Jadi Yakobus mengingatkan agar Firman Tuhan bukan hanya cerin sesaat bagi kita tetapi menjadi Firman yang hidup yang mengubahkan dan memerdekakan kita.

Kita perlu mengingat, Firman Tuhan yang kita terima dan kita lakukan juga tidak berarti hanya kita yang memahaminya tetapi Firman Tuhan terbuka bagi orang lain. Jadi kita hanya dapat share tentang pemahaman kita pada orang lain jadi kita saling memperkaya dalam memahami kebenaran Firman Tuhan.

Mari bertekun dalam mempelajari Firman dan melakukannya.

Selasa, 24 April 2012

3 Pelajaran Hikmat Hari Ini


Amsal 4:1-7

Pernahkah anda melewati hari anda tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Bahkan semua rencana pagi anda tak satupun yang terlaksana. Anda hanya menghabiskan waktu sepanjang hari dengan rasa gelisah, tidak nyaman atau bahkan mengikuti suasana hati dengan bermalas-malasan memuaskan perasaan-perasaan dengan musik atau bacaan. Jika semua ini adalah waktu yang dikhususkan untuk istirahat maka akan mendatangkan semangat baru untuk esok hari tetapi bagaimana jika waktu itu berlalu justru kita menjadi tambah lelah bahkan membuat ita menjadi panik keesokan harinya? Dalam hal inilah kita memerlukan hikmat untuk memberi pengertian akan setiap pilihan yang kita ambil. Hikmat tidak menjamin kita untuk selalu mampu memilih secara tepat tetapi hikmat akan menolong kita mempunyai pengertian untuk mengisi waktu secara tepat.

Pernahkah anda mengikuti sebuah kegiatan hanya karena disebabkan rasa segan kepada teman yang mengajak kita? Sehingga anda hanya menghabiskan waktu dengan hal-hal yang sama sekali tidak anda nikmati bahkan seandainya anda menilainya maka anda akan berkata “sungguh aku telah menghabiskan waktuku secara sia-sia”. Dalam hal inilah diperlukan hikmat. Hikmat tidak tidak menjamin kita untuk selalu memutuskan sesuatu secara tepat tetapi hikmat akan memberi kita pengertian yang benar untuk memutuskan sesuatu yang akan kita lakukan. Hikmat memberi pengertian yang melahirkan keberanian untuk menolak sesuatu yang tidak berkenan bagi kita.

Pernahkah anda menyesali sesuatu yang sudah anda lakukan? Setidaknya jika dapat mengulang maka anda tidak akan melakukannya? Inilah yang menjadi perbedaan kita dengan makhluk lain ciptaan Tuhan. Menyesal adalah langkah awal sebuah perbaikan. Karenanya diperlukan hikmat untuk dapat beroleh pengertian. Hikmat tidak menjamin kita untuk tidak pernah jatuh tetapi hikmat memberi kita pengertian untuk jalan yang lebih baik.

Penulis amsal berpesan betapa pentingnya kita mencari hikmat dan memegangnya. Karena hanya dengan begitulah kita akan beroleh pengertia akan setiap apa yang kita lakukan (hidup). Ketika kita melakukan sesuatu tanpa pengertian maka tidak lain berarti kita hanya dikendalikan oleh hasrat atau nafsu. Kalau begitu apakah bedanya kita dengan hewan yang melakukan sesuatu berdasarkan hasrat dan nafsu (naluri)?

Senin, 23 April 2012

Menegur Secara Tepat


1 Tesalonika 5:12-14
Dalam sebuah persekutuan, perkumpulan atau gereja, selalu ada 2 ekstrim sikap orang-orang yang ada di dalamnya. Ada sebahagian orang yang merasa bahwa orang Kristen harus penuh kasih dan berdamai dengan semua orang. Sepintas lalu kalimat ini tentu mengandung kebenaran. Tetapi, akhirnya orang-orang ini menjadi orang yang cendrung kompromi dan sulit menegur. Mereka adalah ornag-orang yang tidak mau terusik dalam kenyamanannya. Mereka menganggap orang yang selalu menegur adalah orang yang kasar. Sebaliknya bagi sebahagian orang, orang Kristen itu harus berani menegur kesalahan orang lain. Kasih tidak berkompromi dan kasih tidak membiarkan orang lain dalam kesalahan. Tetapi akhirnya orang-orang ini justru penuh dengan semagat kritik dan lupa engevaluasi diri.

Paulus di akhir suratnya kepada jemaat Tesalonika berpesan agar kita menegor orang yang tidak tertib hidupnya (ay 14) tetapi kita tidak boleh lupa bahwa bagian ini di awali ayat sebelumnya (ay 12-13) yang menegaskan bahwa kita harus menghormati para pemimpin yang menegur kita dan menjunung mereka di dalam kasih. Selain itu ada penekanan ke dua yaitu agar kita berdamai seorang dengan yang lain. Jadi kita memang harus menegur orang yang tidak tertib hidupnya, tetapi kita harus memastikan 2 hal yaitu kita harus menjadi orang yang siap menerima teguran dari para pemimpin rohani kita dan kita harus berdamai seorang dengan yang lain.

Dengan demikian menegur bukan atas dorongan sentimen pribadi atau karena rasa tidak suka tetapi demi menjaga ketertiban hidup dalam persekutuan. Bagian ini juga berkata agar kita menegur orang yang tidak tertib hidupnya jadi kita langsung menyampaikan teguran kepada pribadi sehingga kita tetap dapat berdamai dengan semua orang. Menegur tidak sama dengan membukakan kesalahan seseorang pada khalayak umum. Dengan begitu, nyatalah bahwa kita adalah murid dan kita telah dipersatukan dalam kasih Yesus.

Sabtu, 21 April 2012

Artikel: KASIH SEJATI



Pendahuluan
Bulan ini bukan bulan Februari yang identik dengan bulan kasih sayang tetapi perbincangan akan Cinta akan tetap mengundang reaksi setiap kali kita membicarakannya. Apakah anda sedang menjalin hubungan berpacaran dengan seseorang? Atau mungkin anda baru putus dari pacar anda? Atau juga anda adalah orang yang sedang  menikmati masa-masa single tanpa hubungan berpacaran? Atau mengkin anda adalah orang yang sedang menanti-nanti atau mencari pasangan? Mari meluangkan waktu sejenak untuk membaca artikel ini. Mungkin anda tidak mendapat solusi tentnag masalah yang sedang anda alami tetapi artikel ini akan memberi satu pemahaman baru sebelum kita melanjutkan penantian, pencarian bahkan hubungan yang sedang kita jalani. Artikel ini akan berbicara tentang cinta kasih, Cinta dan Berpacaran, Cinta dan Seks dan akhirnya saya akan mencoba menguraikan tentang kasih sejati menurut pandangan Alkitab.

Cinta: Sebuah Pencarian
Kapan pertama kali kita jatuh cinta? Kapan pertama kali kita merasakan perasaan spesial kepada seseorang? Sejak kita merasakannya maka kita terus melakukan pencarian. Kita melakukan pencarian sejak memasuki remaja, tepatnya saat tubuh kita mulai menghasilkan hormon-hormon yang membuat kita bertumbuh secara sekunder. Pencarian ini sesungguhnya merupakan pencarian identitas. Sebuah pencarian akan jati diri. Sebuah pencarian pengertian akan keberadaan diri. Dengan demikian perasaan-perasaan yang muncul itu merupakan sebuah langkah-langkah pencarian pengertian akan cinta.

Dalam masa-masa pencarian ini kita mulai berani menjalin hubungan dengan secara khusus dengan seseorang tetapi kita sesungguhnya kita sedang terus mencari akan arti perasaan-perasaan diri sehingga hubungan berpacaran dalam masa-masa ini merupakan sebuah hubungan yang hanya dilandasi oleh penasaran diri. Oleh karena itu dalam keadaan diri yang sangat labil ini maka kita cendrung terjebak untuk mencari fantasi-fantasi dalam berpacaran bahkan tidak jarang kita mengikuti nafsu untuk mengeksplorasi rasa penasaran diri terhadap sentuhan-sentuhan fisik.

Cinta: Sebuah Kehausan
Melewati masa-masa pencarian kita memasuki fase dimana kita mulai merasa haus akan cinta. Rasa haus ini merupakan sebuah hasrat yang disebabkan oleh pertumbuhan yang tidak sehat. Kita tidak terpenuhi kebutuhan kasih sayang dari orang tua, dari saudara, dari adik/abang/kakak, dari orang-orang yang kita harapkan sehingga kita terus menerus merasa adanya kekosongan dalam diri.
Kekosongan dalam diri inilah yang coba kita isi dengan menjalin hubungan khusus dengan seseorang atau berpacaran. Beberapa kondisi yang kita alami yang biasanya memacu kita untuk pada akhirnya menjalin hubungan pacara yaitu:

1.     Kondisi keluarga yang tidak bahagia
2.       Rusaknya hubungan dengan Anggota keluarga
3.       Pengalaman pahit dengan seseorang semasa kecil seperti pernah merasakan pelecehan
4.       Keluarga yang terlalu mengikat

Dalam masa-masa haus ini sesungguhnya kita tidak menemukan kasih yang sejati. Kita hanay mencoba mengalihkan rasa kesepian diri dengan hubungan khusus. Tetapi semakin kita menjalin hubungan kita tidak pernah merasakan adanya kasih yang sejati karena yang ada kita justru tetap haus dan terus merasa kering. Hubungan yang terjalin pada akhirnya hanyalah hubungan yang rapuh.

Dalam masa seperti ini seringkali kita merasa bahwa dengan melakukan hubungan fisik sebagai wujud dari ungkapan kasih yang sejati sehingga tidak jarang kita melakukan sentuhan-sentuhan fisik atau mengizinkan diri kita untuk disentuh secara fisik. Tetapi apakah hubungan yang kita lakukan memuaskan kita? Tentu yang ada luka hati. Semakin seseorang dekat secara fisik dan intim dengan pasangannya(pacaranya) maka dia akan lebih sensitif dan mudah terluka. Orang yang berpacaran yang disertai dengan kedekatan fisik hanya akan memunculkan 2 kemungkinan yaitu menikah atau putus. Menikah ketika hubungan yang dijalin diikuti oleh komitmen yang kuat tetapi berpisah jika sebaliknya. Hal ini disebabkan orang yang intim secara fisik seringkali bisa tiba-tiba menjadi begitu muak.

Jangan sekali-kali percaya bahwa sentuhan fisik atau keintiman merupakan ungkapan dari rasa kasih yang sesungguhnya karena sekali kita memulai dengan kedekatan fisik maka kita akan terus menerus terikat. Dan ingatlah bahwa hubungan fisik tidak pernah cukup atau bertahan tetapi akan terus meningkat menginginkan lebih jauh dan lebih jauh.

Jika demikian maka hubungan berpacaran yang sedang kita jalin hanya akan menyisahkan luka-luka batin. Kegagalan dalam berpacaran karena kita tidak menemukan kasih yang sejati itu. Dampak yang timbul justru adalah:

1.       Kita kehilangan kehormatan
2.       Kita kehilangan keseimbangan dan rasa percaya diri
3.       Kita mengalami trauma terhadap hubungan-hubungan yang pernah kita jalin
4.       Kita dapat mengalami kemungkinan dis orientasi sex
5.       Kita menjadi sangat rapuh dan merasa tidak berdaya
6.       Kita tidak dapat fokus dan menjadi snagat terikat dengan hubungan-hubungan yang kita jalin

Kalau demikian hubungan berpacaran yang kita jalin hanya akan menyisahkan penyesalan diri. Lalu dimana gairah hidup yang ditawarkan oleh kehidupan masa muda yang penuh romantisme? Sejak awal saya hanya membukakan hal-hal yang tidak menyentuh pada janji-janji romantisme dari hubungan berpacaran yang diimpikan oleh setiap orang. Semua itu hanya indah justru dalam masa penantian karena ketika kita telah melangkah di dalamnya yang terjadi adalah hal-hal yang telah kita bicarakan. Mengapa?? Jawabnya kemabali kepada tujuan pembahasan kita hari ini yaitu kita menjalin hubungan sebelum menemukan kasih yang sejati.

Cinta : Sebuah Penantian
Cinta yang sejati adalah cinta yang mengandung komitmen. Kmitmen untuk menjaga hubungan, komitemen memelihara hubungan hingga ke jenjang pernikahan, komitmen untuk menjaga kekudusan hubungan hingga ke pernikahan. Cinta sejati merupakan cinta yang menerima kita apa adanya bukan menerima kita seperti yang dia mau karena itu cinta sejati mengandung pengorbanan.
Kasih sejati tidak egois karenanya kasih sejati bukanlah kasih dari seseorang yang melihat keuntungan-keuntungan dari hubungan yang sedang dijalani seperti misalkan seseorang menjadi lebih semangat, lebih termotivasi, lebih baik hidupnya. Kasih yang demikian akan cepat berakhir ketika dia mendapat seseorang yang lebih baik  dan membuat hidupnya lebih baik.
Sebuah mitos: Jangan pernah menjalin hubungan dengan berpikir untuk membawa seseorang menjadi lebih baik. Sebaiknya kita bersahabat saja jika kita hanya mau mengubahkan seseorang karena sesuai dengan hukum alam maka lebih mudah seseorang yang berada di atas tertarik ke bawah daripada seseorang yang di bawah tertarik ke atas. Karena perubahan yang benar adalah perubahan yang lahir dari dalam diri seseorang bukan karena orang lain.

Kasih Sejati: Sebuah Penggenapan.
Kita akan mengerti kasih sejati jika kita telah menerimanya. Kasih sejati digenapi dalam diri Yesus Kristus. Hanya ketika kita menerima kasih Kristus maka kita akan mengerti kasih sejati.  Bagaimanakah kasih Alalh akan kita? Saat ini kita akan mempelajari sebuah cerita dari kehidupan seorang Nabi dalam perjanjian baru.
Hosea merupakan nabi dalam perjanjian lama yang dipilih Tuhan untuk menyatakan firmannya. Selain dalam bentuk kata-kata Hosea juga harus hidup sebagai perumpamaan. Jadi Alalh memerintahkan Hosea untuk mengambil seorang perempuan sundal (Pelacur) sebagai istrinya. Hal ini untuk menggambarkan kehidupan bangsa Israel dihadapan Allah. Bangsa Israel telah berpaling setia dari Allah dan menyembah ilah-ilah atau berhala. Bangsa israel tidak lagi menghiraukan Allah. Kehidupan yang demikian merupakan gambaran dari pelacuran. Allah sanagt  jijik dengan dosa sebab ia kudus. Allah tidak ingin umat pilihan-Nya itu nazis tetapi bangsa israel telah menajiskan diri dengan menyembah berhala dan tidak lagi mentaati firman Allah, dengan demikian bangsa Israel tak ubahnya seorang pelacur dihadapan Allah.

Sebagaimana Hosea harus mengasihi istrinya itu maka demikianlah Allah mengasihi umat pilihan-Nya itu. Allah tetap menyatakan kasihnya kepada umat pilihan-Nya itu. Allah tidak membiarkan bangsa israel tetap dalam perbudakan dosa. Allah masih memberi Firman-Nya melalui nabi-nabi. Allah mengasihi Bangsa Israel tanpa syarat.

Tetapi apa hendak dikata, setelah lahir dua anak bagi Hosea, dasar perempuan sundal maka perempuan itu kembali bersundal. Dan saat seperti itu Allah memerintahkan agar Hosea kembali membeli istrinya dari rumah persundalan dan membawanya kembali ke rumahnya. Seberapa jijikkah Hosea? Demikianlah bangsa Israel kembali berpaling setia dari Allah dan tidak taat setelah Allah menyatakan kemurahan-Nya. Tetapi Allah kembali menunjukkan kasih setia-Nya dan kembali memanggil umat pilahan-Nya itu.
Gambaran itu merupakan gambaran kita saat ini. Kita yang hidup dalam ketidak kudusan, keberdosaan, kecuekan terhadapa Allah dan ketidak sungguhan kita pada Allah telah membuat kita sama seperti seorang perempuan sundal di hadapan Allah. Tetapi Allah yang penuh kasih itu telah menyatakan kasihnya tanpa memandang kita. Ia telah mengaruaniakan Yesus Kristus sebagai penggenapan dari kasih yang sejati dengan berkorban di Salib untuk menebus kita dari perbudakan dosa. Sekali lagi, Tuhan memanggil kita dalam kasih-Nya yang sejati itu.

Penutup
Tuhan mau mengisi kekosongan hati kita akan kasih sejati itu dengan kasih-Nya, Dia mau kita datang padanya. Ia mau kita meresponi kasih-Nya itu. Pakah kita mau mengasihi Dia dengan segenap hati kita, dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita? Ia mau kita mengasihi dia lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun. Hanya dengan demikian kita akan mengerti kasih sejati. Kasih yang akan memberi pengertian dan kepuasan akan kemuliaan. Kasih yang tidak membuat kita menjadi rendah diri tetapi kasih yang memerdekakan.

Jika demikian maka datanglah kepadanya dan terimalah kasih dari pada-Nya kasih yang memberi pengampunan dan keselamatan. Bukalah hatimu dan terimalah Yesus secara pribadi sebagai penggenapan akan kasih Allah. Karena barangsiapa memiliki anak maka ia memiliki hidup , barangsiapa tidak memiliki anak, ia tidak memiliki hidup.

Kasih Yang sejati hanya akan kita temui di dalam Dia yang telah membuktikannya 
bukan dari orang-orang yang hanya sekedar memberi janji.


Jumat, 20 April 2012

Pertemuan Paling Istimewa


Yohanes 1:35-42

Suatu hari aku mendengar seorang adik ngobrol dengan seorang kakak yang bekerja di dinas tenaga kerja. Lalu ada satu hal yang menarik perhatianku ketika adik itu merasa sangat heran ketika kakak itu mengatakan bahwa dia sudah sering bertemu dengan menteri tenaga kerja. Begitulah bagi sebahagian orang, bertemu dengan para pejabat atau mungkin juga artis atau publik figur adalah sesuatu yang membanggakan. Mengapa ada kebanggaan bertemu dengan publik figur? Itu dikarenakan kita bertemu dengan orang yang populer atau kita anggap sebagai orang besar.

Bagi Yohanes, tidak ada yang lebih besar dari Mesias yaitu Yesus. Ketika Yohanes melihat Yesus maka dia mengenalkan-Nya pada muridnya. Yohanes tidak merasa rugi kalau akhirnya muridnya mengikut Yesus karena Yohanes mengenal siapa Yesus. Ketika murid Yohanes (Andreas) mendengar perkataan Yohanes maka diapun mengikut Yesus bahkan mengajak saudaranya. Pengalaman bertemu Yesus dan kesempatan untuk mengenal-Nya secara pribadi adalah pengalaman terbesar dalam kehidupan Andreas. Yesus menyambut Andreas dan mengajaknya bahkan saudaranya Simon di sebut Yesus sebagai Petrus. Yesus mengenal siapa saja yang mau datang kepada-Nya. Hal yang paling membahagiakan murid adalah ketika mereka dikenal Yesus secara pribadi.

Pertanyaan bagi kita, apakah kita telah mengenal Yesus secara pribadi? Dan apakah kita dikenal Yesus secara pribadi? Hanya yang memiliki-Nya yang dikenal-Nya, jadi datanglah pada Yesus dan milikilah Dia di dalam diri kita. Ketika itu mata kita akan terbuka dan kita akan mengenal Dia. Pengalaman ini akan menjadi pengalaman terbesar dalam hidup kita dan seperti Andreas maka kebahagiaan kita adalah ketika kita bisa membawa orang lain mengalami pengalaman yang sudah lebih dulu kita alami yakni bertemu Yesus secara pribadi.