Jumat, 27 April 2012

Lebih Dari Sekedar Sensasi


Lukas 9:57-62

Saya pernah beribadah di salah satu gereja. Suasana ibadah dari awal sampai akhir sangat menggunggah. Ketika penyembahan, dukungan musik dan kemampuan pembawa ibadah membuat setiap orang yang beribadah kelihatan begitu menikmati hadirat Tuhan. Di akhir pemberitaan firman, hamba Tuhan memberi penantangan untuk menerima Tuhan.  Sepulang ibadah saya merenungkan, seandainya setiap orang yang mengambil keputusan dalam ibadah itu sungguh-sungguh menjadi pengikut Yesus maka dari minggu ke minggu akan semakin banyak orang yang hidup di dalam Tuhan. Tetapi aku menyadari, bukankah dalam ibadah itu orang-orang yang sama yang tiap minggu mengangkat tangan menerima Yesus.

Dalam Lukas 9:57-62 menceritakan bagaimana seseorang yang sangat tergugah melihat Yesus memutuskan untuk mengikut Yesus, tetapi Yesus tahu motivasi orang itu sehingga Yesus menegornya. Orang itu sebenarnya mau mengikut Yesus untuk dirinya sendiri, untuk kepentingannya. Ada lagi seorang yang diajak Yesus tetapi penuh keraguan, akhirnya Yesus menegurnya karena orang itu tidak punya prioritas. Mengikut Yesus sama porsinya dengan urusan-urusan yang lain di dunia ini. Ada lagi yang mau mengikut Yesus tetapi tidak sepenuh hati. Yesus menegurnya dengan keras karena orang itu tidak sepenuh nya ingin mengikut Yesus.

Mengikut Yesus tidak sekedar nikmatnya sebuah sensasi ibadah baik secara pribadi maupun secara komunal. Ada banyak orang yang akhirnya menerima Yesus dalam sebuah kebaktian kebangunan rohani yang sangat menggugah. Perikop ini jelas menyatakan bagi kita. Mengikut Yesus adalah dengan motivasi meyerahkan hidup kepada-Nya, menjadikan Dia yang terutama dalam hidup kita dan dengan sepenuh hati berkomitmen mengikuti-Nya.

Menjadi murid Yesus bukan perkara seberapa sering kita tergugah dalam peribadahan 
tetapi seberapa banyak hidup kita diubah dari sehari-ke sehari semakin serupa dengan Dia

Kamis, 26 April 2012

Tidak Sekedar Bercermin


Yakobus 1: 19-27
Pernahkah kita mendengarkan khotbah atau membaca firman Tuhan, lantas tiba-tiba kita teringat pada seseorang dan langsung berfikir,”seandainya dia mendengar firman ini” artinya kita merasa firman itu lebih tepat atau cocok sekali dengan orang tersebut. Jika kita terdorong oleh kasih kita pada orang tersebut, maka hal ini baik tetapi kita jika kita terdorong hanya untuk menegur orang dan mengamat-amati kesalahannya, ini tidak baik.

Yakobus mengingatkan, agar kita cepat untuk mendengar tetapi lambat untuk berbicara. Firman Tuhan yang dijadikan hanya sebagai pengetahuan akan cendrung untuk menjadikannya seagai senjata untuk menegur orang lain. Yakobus mengingatkan bahwa Firman Tuhan bukan sekedar di dengar tetapi dilakukan. Firman Tuhan haruslah lebih dahulu mengubahkan hidup kita. Mengetahui banyak firman tidak sama dengan hidup di dalam firman Tuhan.

 Yakobus mengingatkan agar kita mengekang lidah dan tidak hidup dalam amarah. Mengapakah Yakobus menghubungkan pengekangan lidah dan amarah dengan melakukan firman. Jika kita mengetahui banyak firman Tuhan dan tidak melakukannya kita akan merasa bahwa kita telah hidup dalam firman sehingga kita akan dengan mudah melihat kesalahan-kesalahan orang lain lantas menjadi marah. Dan hal yang sangat buruk ketika firman Tuhan kita jadikan hanya untuk menegur orang lain. Jadi Yakobus mengingatkan agar Firman Tuhan bukan hanya cerin sesaat bagi kita tetapi menjadi Firman yang hidup yang mengubahkan dan memerdekakan kita.

Kita perlu mengingat, Firman Tuhan yang kita terima dan kita lakukan juga tidak berarti hanya kita yang memahaminya tetapi Firman Tuhan terbuka bagi orang lain. Jadi kita hanya dapat share tentang pemahaman kita pada orang lain jadi kita saling memperkaya dalam memahami kebenaran Firman Tuhan.

Mari bertekun dalam mempelajari Firman dan melakukannya.

Selasa, 24 April 2012

3 Pelajaran Hikmat Hari Ini


Amsal 4:1-7

Pernahkah anda melewati hari anda tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Bahkan semua rencana pagi anda tak satupun yang terlaksana. Anda hanya menghabiskan waktu sepanjang hari dengan rasa gelisah, tidak nyaman atau bahkan mengikuti suasana hati dengan bermalas-malasan memuaskan perasaan-perasaan dengan musik atau bacaan. Jika semua ini adalah waktu yang dikhususkan untuk istirahat maka akan mendatangkan semangat baru untuk esok hari tetapi bagaimana jika waktu itu berlalu justru kita menjadi tambah lelah bahkan membuat ita menjadi panik keesokan harinya? Dalam hal inilah kita memerlukan hikmat untuk memberi pengertian akan setiap pilihan yang kita ambil. Hikmat tidak menjamin kita untuk selalu mampu memilih secara tepat tetapi hikmat akan menolong kita mempunyai pengertian untuk mengisi waktu secara tepat.

Pernahkah anda mengikuti sebuah kegiatan hanya karena disebabkan rasa segan kepada teman yang mengajak kita? Sehingga anda hanya menghabiskan waktu dengan hal-hal yang sama sekali tidak anda nikmati bahkan seandainya anda menilainya maka anda akan berkata “sungguh aku telah menghabiskan waktuku secara sia-sia”. Dalam hal inilah diperlukan hikmat. Hikmat tidak tidak menjamin kita untuk selalu memutuskan sesuatu secara tepat tetapi hikmat akan memberi kita pengertian yang benar untuk memutuskan sesuatu yang akan kita lakukan. Hikmat memberi pengertian yang melahirkan keberanian untuk menolak sesuatu yang tidak berkenan bagi kita.

Pernahkah anda menyesali sesuatu yang sudah anda lakukan? Setidaknya jika dapat mengulang maka anda tidak akan melakukannya? Inilah yang menjadi perbedaan kita dengan makhluk lain ciptaan Tuhan. Menyesal adalah langkah awal sebuah perbaikan. Karenanya diperlukan hikmat untuk dapat beroleh pengertian. Hikmat tidak menjamin kita untuk tidak pernah jatuh tetapi hikmat memberi kita pengertian untuk jalan yang lebih baik.

Penulis amsal berpesan betapa pentingnya kita mencari hikmat dan memegangnya. Karena hanya dengan begitulah kita akan beroleh pengertia akan setiap apa yang kita lakukan (hidup). Ketika kita melakukan sesuatu tanpa pengertian maka tidak lain berarti kita hanya dikendalikan oleh hasrat atau nafsu. Kalau begitu apakah bedanya kita dengan hewan yang melakukan sesuatu berdasarkan hasrat dan nafsu (naluri)?

Senin, 23 April 2012

Menegur Secara Tepat


1 Tesalonika 5:12-14
Dalam sebuah persekutuan, perkumpulan atau gereja, selalu ada 2 ekstrim sikap orang-orang yang ada di dalamnya. Ada sebahagian orang yang merasa bahwa orang Kristen harus penuh kasih dan berdamai dengan semua orang. Sepintas lalu kalimat ini tentu mengandung kebenaran. Tetapi, akhirnya orang-orang ini menjadi orang yang cendrung kompromi dan sulit menegur. Mereka adalah ornag-orang yang tidak mau terusik dalam kenyamanannya. Mereka menganggap orang yang selalu menegur adalah orang yang kasar. Sebaliknya bagi sebahagian orang, orang Kristen itu harus berani menegur kesalahan orang lain. Kasih tidak berkompromi dan kasih tidak membiarkan orang lain dalam kesalahan. Tetapi akhirnya orang-orang ini justru penuh dengan semagat kritik dan lupa engevaluasi diri.

Paulus di akhir suratnya kepada jemaat Tesalonika berpesan agar kita menegor orang yang tidak tertib hidupnya (ay 14) tetapi kita tidak boleh lupa bahwa bagian ini di awali ayat sebelumnya (ay 12-13) yang menegaskan bahwa kita harus menghormati para pemimpin yang menegur kita dan menjunung mereka di dalam kasih. Selain itu ada penekanan ke dua yaitu agar kita berdamai seorang dengan yang lain. Jadi kita memang harus menegur orang yang tidak tertib hidupnya, tetapi kita harus memastikan 2 hal yaitu kita harus menjadi orang yang siap menerima teguran dari para pemimpin rohani kita dan kita harus berdamai seorang dengan yang lain.

Dengan demikian menegur bukan atas dorongan sentimen pribadi atau karena rasa tidak suka tetapi demi menjaga ketertiban hidup dalam persekutuan. Bagian ini juga berkata agar kita menegur orang yang tidak tertib hidupnya jadi kita langsung menyampaikan teguran kepada pribadi sehingga kita tetap dapat berdamai dengan semua orang. Menegur tidak sama dengan membukakan kesalahan seseorang pada khalayak umum. Dengan begitu, nyatalah bahwa kita adalah murid dan kita telah dipersatukan dalam kasih Yesus.

Sabtu, 21 April 2012

Artikel: KASIH SEJATI



Pendahuluan
Bulan ini bukan bulan Februari yang identik dengan bulan kasih sayang tetapi perbincangan akan Cinta akan tetap mengundang reaksi setiap kali kita membicarakannya. Apakah anda sedang menjalin hubungan berpacaran dengan seseorang? Atau mungkin anda baru putus dari pacar anda? Atau juga anda adalah orang yang sedang  menikmati masa-masa single tanpa hubungan berpacaran? Atau mengkin anda adalah orang yang sedang menanti-nanti atau mencari pasangan? Mari meluangkan waktu sejenak untuk membaca artikel ini. Mungkin anda tidak mendapat solusi tentnag masalah yang sedang anda alami tetapi artikel ini akan memberi satu pemahaman baru sebelum kita melanjutkan penantian, pencarian bahkan hubungan yang sedang kita jalani. Artikel ini akan berbicara tentang cinta kasih, Cinta dan Berpacaran, Cinta dan Seks dan akhirnya saya akan mencoba menguraikan tentang kasih sejati menurut pandangan Alkitab.

Cinta: Sebuah Pencarian
Kapan pertama kali kita jatuh cinta? Kapan pertama kali kita merasakan perasaan spesial kepada seseorang? Sejak kita merasakannya maka kita terus melakukan pencarian. Kita melakukan pencarian sejak memasuki remaja, tepatnya saat tubuh kita mulai menghasilkan hormon-hormon yang membuat kita bertumbuh secara sekunder. Pencarian ini sesungguhnya merupakan pencarian identitas. Sebuah pencarian akan jati diri. Sebuah pencarian pengertian akan keberadaan diri. Dengan demikian perasaan-perasaan yang muncul itu merupakan sebuah langkah-langkah pencarian pengertian akan cinta.

Dalam masa-masa pencarian ini kita mulai berani menjalin hubungan dengan secara khusus dengan seseorang tetapi kita sesungguhnya kita sedang terus mencari akan arti perasaan-perasaan diri sehingga hubungan berpacaran dalam masa-masa ini merupakan sebuah hubungan yang hanya dilandasi oleh penasaran diri. Oleh karena itu dalam keadaan diri yang sangat labil ini maka kita cendrung terjebak untuk mencari fantasi-fantasi dalam berpacaran bahkan tidak jarang kita mengikuti nafsu untuk mengeksplorasi rasa penasaran diri terhadap sentuhan-sentuhan fisik.

Cinta: Sebuah Kehausan
Melewati masa-masa pencarian kita memasuki fase dimana kita mulai merasa haus akan cinta. Rasa haus ini merupakan sebuah hasrat yang disebabkan oleh pertumbuhan yang tidak sehat. Kita tidak terpenuhi kebutuhan kasih sayang dari orang tua, dari saudara, dari adik/abang/kakak, dari orang-orang yang kita harapkan sehingga kita terus menerus merasa adanya kekosongan dalam diri.
Kekosongan dalam diri inilah yang coba kita isi dengan menjalin hubungan khusus dengan seseorang atau berpacaran. Beberapa kondisi yang kita alami yang biasanya memacu kita untuk pada akhirnya menjalin hubungan pacara yaitu:

1.     Kondisi keluarga yang tidak bahagia
2.       Rusaknya hubungan dengan Anggota keluarga
3.       Pengalaman pahit dengan seseorang semasa kecil seperti pernah merasakan pelecehan
4.       Keluarga yang terlalu mengikat

Dalam masa-masa haus ini sesungguhnya kita tidak menemukan kasih yang sejati. Kita hanay mencoba mengalihkan rasa kesepian diri dengan hubungan khusus. Tetapi semakin kita menjalin hubungan kita tidak pernah merasakan adanya kasih yang sejati karena yang ada kita justru tetap haus dan terus merasa kering. Hubungan yang terjalin pada akhirnya hanyalah hubungan yang rapuh.

Dalam masa seperti ini seringkali kita merasa bahwa dengan melakukan hubungan fisik sebagai wujud dari ungkapan kasih yang sejati sehingga tidak jarang kita melakukan sentuhan-sentuhan fisik atau mengizinkan diri kita untuk disentuh secara fisik. Tetapi apakah hubungan yang kita lakukan memuaskan kita? Tentu yang ada luka hati. Semakin seseorang dekat secara fisik dan intim dengan pasangannya(pacaranya) maka dia akan lebih sensitif dan mudah terluka. Orang yang berpacaran yang disertai dengan kedekatan fisik hanya akan memunculkan 2 kemungkinan yaitu menikah atau putus. Menikah ketika hubungan yang dijalin diikuti oleh komitmen yang kuat tetapi berpisah jika sebaliknya. Hal ini disebabkan orang yang intim secara fisik seringkali bisa tiba-tiba menjadi begitu muak.

Jangan sekali-kali percaya bahwa sentuhan fisik atau keintiman merupakan ungkapan dari rasa kasih yang sesungguhnya karena sekali kita memulai dengan kedekatan fisik maka kita akan terus menerus terikat. Dan ingatlah bahwa hubungan fisik tidak pernah cukup atau bertahan tetapi akan terus meningkat menginginkan lebih jauh dan lebih jauh.

Jika demikian maka hubungan berpacaran yang sedang kita jalin hanya akan menyisahkan luka-luka batin. Kegagalan dalam berpacaran karena kita tidak menemukan kasih yang sejati itu. Dampak yang timbul justru adalah:

1.       Kita kehilangan kehormatan
2.       Kita kehilangan keseimbangan dan rasa percaya diri
3.       Kita mengalami trauma terhadap hubungan-hubungan yang pernah kita jalin
4.       Kita dapat mengalami kemungkinan dis orientasi sex
5.       Kita menjadi sangat rapuh dan merasa tidak berdaya
6.       Kita tidak dapat fokus dan menjadi snagat terikat dengan hubungan-hubungan yang kita jalin

Kalau demikian hubungan berpacaran yang kita jalin hanya akan menyisahkan penyesalan diri. Lalu dimana gairah hidup yang ditawarkan oleh kehidupan masa muda yang penuh romantisme? Sejak awal saya hanya membukakan hal-hal yang tidak menyentuh pada janji-janji romantisme dari hubungan berpacaran yang diimpikan oleh setiap orang. Semua itu hanya indah justru dalam masa penantian karena ketika kita telah melangkah di dalamnya yang terjadi adalah hal-hal yang telah kita bicarakan. Mengapa?? Jawabnya kemabali kepada tujuan pembahasan kita hari ini yaitu kita menjalin hubungan sebelum menemukan kasih yang sejati.

Cinta : Sebuah Penantian
Cinta yang sejati adalah cinta yang mengandung komitmen. Kmitmen untuk menjaga hubungan, komitemen memelihara hubungan hingga ke jenjang pernikahan, komitmen untuk menjaga kekudusan hubungan hingga ke pernikahan. Cinta sejati merupakan cinta yang menerima kita apa adanya bukan menerima kita seperti yang dia mau karena itu cinta sejati mengandung pengorbanan.
Kasih sejati tidak egois karenanya kasih sejati bukanlah kasih dari seseorang yang melihat keuntungan-keuntungan dari hubungan yang sedang dijalani seperti misalkan seseorang menjadi lebih semangat, lebih termotivasi, lebih baik hidupnya. Kasih yang demikian akan cepat berakhir ketika dia mendapat seseorang yang lebih baik  dan membuat hidupnya lebih baik.
Sebuah mitos: Jangan pernah menjalin hubungan dengan berpikir untuk membawa seseorang menjadi lebih baik. Sebaiknya kita bersahabat saja jika kita hanya mau mengubahkan seseorang karena sesuai dengan hukum alam maka lebih mudah seseorang yang berada di atas tertarik ke bawah daripada seseorang yang di bawah tertarik ke atas. Karena perubahan yang benar adalah perubahan yang lahir dari dalam diri seseorang bukan karena orang lain.

Kasih Sejati: Sebuah Penggenapan.
Kita akan mengerti kasih sejati jika kita telah menerimanya. Kasih sejati digenapi dalam diri Yesus Kristus. Hanya ketika kita menerima kasih Kristus maka kita akan mengerti kasih sejati.  Bagaimanakah kasih Alalh akan kita? Saat ini kita akan mempelajari sebuah cerita dari kehidupan seorang Nabi dalam perjanjian baru.
Hosea merupakan nabi dalam perjanjian lama yang dipilih Tuhan untuk menyatakan firmannya. Selain dalam bentuk kata-kata Hosea juga harus hidup sebagai perumpamaan. Jadi Alalh memerintahkan Hosea untuk mengambil seorang perempuan sundal (Pelacur) sebagai istrinya. Hal ini untuk menggambarkan kehidupan bangsa Israel dihadapan Allah. Bangsa Israel telah berpaling setia dari Allah dan menyembah ilah-ilah atau berhala. Bangsa israel tidak lagi menghiraukan Allah. Kehidupan yang demikian merupakan gambaran dari pelacuran. Allah sanagt  jijik dengan dosa sebab ia kudus. Allah tidak ingin umat pilihan-Nya itu nazis tetapi bangsa israel telah menajiskan diri dengan menyembah berhala dan tidak lagi mentaati firman Allah, dengan demikian bangsa Israel tak ubahnya seorang pelacur dihadapan Allah.

Sebagaimana Hosea harus mengasihi istrinya itu maka demikianlah Allah mengasihi umat pilihan-Nya itu. Allah tetap menyatakan kasihnya kepada umat pilihan-Nya itu. Allah tidak membiarkan bangsa israel tetap dalam perbudakan dosa. Allah masih memberi Firman-Nya melalui nabi-nabi. Allah mengasihi Bangsa Israel tanpa syarat.

Tetapi apa hendak dikata, setelah lahir dua anak bagi Hosea, dasar perempuan sundal maka perempuan itu kembali bersundal. Dan saat seperti itu Allah memerintahkan agar Hosea kembali membeli istrinya dari rumah persundalan dan membawanya kembali ke rumahnya. Seberapa jijikkah Hosea? Demikianlah bangsa Israel kembali berpaling setia dari Allah dan tidak taat setelah Allah menyatakan kemurahan-Nya. Tetapi Allah kembali menunjukkan kasih setia-Nya dan kembali memanggil umat pilahan-Nya itu.
Gambaran itu merupakan gambaran kita saat ini. Kita yang hidup dalam ketidak kudusan, keberdosaan, kecuekan terhadapa Allah dan ketidak sungguhan kita pada Allah telah membuat kita sama seperti seorang perempuan sundal di hadapan Allah. Tetapi Allah yang penuh kasih itu telah menyatakan kasihnya tanpa memandang kita. Ia telah mengaruaniakan Yesus Kristus sebagai penggenapan dari kasih yang sejati dengan berkorban di Salib untuk menebus kita dari perbudakan dosa. Sekali lagi, Tuhan memanggil kita dalam kasih-Nya yang sejati itu.

Penutup
Tuhan mau mengisi kekosongan hati kita akan kasih sejati itu dengan kasih-Nya, Dia mau kita datang padanya. Ia mau kita meresponi kasih-Nya itu. Pakah kita mau mengasihi Dia dengan segenap hati kita, dengan segenap jiwa kita dan dengan segenap akal budi kita? Ia mau kita mengasihi dia lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun. Hanya dengan demikian kita akan mengerti kasih sejati. Kasih yang akan memberi pengertian dan kepuasan akan kemuliaan. Kasih yang tidak membuat kita menjadi rendah diri tetapi kasih yang memerdekakan.

Jika demikian maka datanglah kepadanya dan terimalah kasih dari pada-Nya kasih yang memberi pengampunan dan keselamatan. Bukalah hatimu dan terimalah Yesus secara pribadi sebagai penggenapan akan kasih Allah. Karena barangsiapa memiliki anak maka ia memiliki hidup , barangsiapa tidak memiliki anak, ia tidak memiliki hidup.

Kasih Yang sejati hanya akan kita temui di dalam Dia yang telah membuktikannya 
bukan dari orang-orang yang hanya sekedar memberi janji.


Jumat, 20 April 2012

Pertemuan Paling Istimewa


Yohanes 1:35-42

Suatu hari aku mendengar seorang adik ngobrol dengan seorang kakak yang bekerja di dinas tenaga kerja. Lalu ada satu hal yang menarik perhatianku ketika adik itu merasa sangat heran ketika kakak itu mengatakan bahwa dia sudah sering bertemu dengan menteri tenaga kerja. Begitulah bagi sebahagian orang, bertemu dengan para pejabat atau mungkin juga artis atau publik figur adalah sesuatu yang membanggakan. Mengapa ada kebanggaan bertemu dengan publik figur? Itu dikarenakan kita bertemu dengan orang yang populer atau kita anggap sebagai orang besar.

Bagi Yohanes, tidak ada yang lebih besar dari Mesias yaitu Yesus. Ketika Yohanes melihat Yesus maka dia mengenalkan-Nya pada muridnya. Yohanes tidak merasa rugi kalau akhirnya muridnya mengikut Yesus karena Yohanes mengenal siapa Yesus. Ketika murid Yohanes (Andreas) mendengar perkataan Yohanes maka diapun mengikut Yesus bahkan mengajak saudaranya. Pengalaman bertemu Yesus dan kesempatan untuk mengenal-Nya secara pribadi adalah pengalaman terbesar dalam kehidupan Andreas. Yesus menyambut Andreas dan mengajaknya bahkan saudaranya Simon di sebut Yesus sebagai Petrus. Yesus mengenal siapa saja yang mau datang kepada-Nya. Hal yang paling membahagiakan murid adalah ketika mereka dikenal Yesus secara pribadi.

Pertanyaan bagi kita, apakah kita telah mengenal Yesus secara pribadi? Dan apakah kita dikenal Yesus secara pribadi? Hanya yang memiliki-Nya yang dikenal-Nya, jadi datanglah pada Yesus dan milikilah Dia di dalam diri kita. Ketika itu mata kita akan terbuka dan kita akan mengenal Dia. Pengalaman ini akan menjadi pengalaman terbesar dalam hidup kita dan seperti Andreas maka kebahagiaan kita adalah ketika kita bisa membawa orang lain mengalami pengalaman yang sudah lebih dulu kita alami yakni bertemu Yesus secara pribadi.

Kamis, 19 April 2012

Melawan Arus Kefasikan


Hosea 10:9-15

Selama memasuki minggu ini, kita banyak mendapat berita kecurangan UN. Ketika kecurangan dilakukan secara massal dan di skenario oleh pihak-pihak pelaksana pendidikan itu sendiri maka kecurangan menjadi sebentuk ekspresi dari kepedulian guru pada siswa. Para orangtua menjadi merasa sangat ditolong oleh guru-guru yang mau membantu anaknya. Akhirnya siswa merasa bahwa kecurangan hanya sebentuk usaha untuk menyelamatkan diri. Memang usaha, tetapi usaha dalam bentuk kebohongan, kefasikan dan kecurangan sama sekali ditolak oleh Allah.

Hosea  10:9-15 menuiskan bagaimana Allah mengecam bangsa Israel yang akhirnya berpaling dari Allah dan hidup menurutnya sendiri. Ketika kita tidak lagi takut akan Allah, maka standar hidup kita adalah diri kita sendiri. Perikop ini lebih kepada seruan bagi bangsa Israel untuk berbalik kepada Allah. Ada sebuah pernyataan kasih Allah atas bangsa itu (ay 11). Tetapi ketika bangsa itu tidak berbalik maka perikop ini juga menyatakan murka Allah (ay 14-15).

Allah menolak segala bentuk kefasikan bahkan walau kelihatan menjadi jalan keluar bagi kita, kita harus lebih mengasihi Allah. Takut akan Allah berarti meletakkan standar hidup seturut kebenaran Allah. Dengan demikian kita tidak akan hidup dalam keabu-abuan atau sikap pragmatis individualis yang hanya mementingkan kebaikan sesaat. Hidup dalam standar Allah akan memampukan kita menolak segala bentuk kecurangan dan menilai pertimbangan-pertimbangan manusia yang sangat relatif.
Hanya ketika kita kembali kepada standar firman Allah
Kita akan menolak segala bentuk kefasikan
Sekalipun kelihatan mendatangkan kesenangan
Atau jalan keluar dan pertolongan
Sebab aku lebih suka menyenagkan-Nya
dan beroleh sukacita kekal di dalam Dia

Rabu, 18 April 2012

Kasih, Pengampunan dan Komiten


Lukas 7:36-50
Mungkin kita sering mendengar kalimat-kalimat : ‘dikasih hati minta jantung’, ‘makin dibaiki makin melonjak’, ‘kalau dibaiki jadi tidak hormat’. Seorang guru menjadi kehilangan kasihnya dan kehangatan hanya untuk menjaga wibawa dengan menjaga jarak dengan siswanya. Kita sudah terpola bahwa seorang anak yang dibaiki akan meremehkan kita. Kalau prinsip-prinsip ini adalah prinsip Tuhan, apa jadinya kita? Kita tidak akan beroleh pengampunan.

Lukas 7:36-50 menunjukkan hal yang sebaliknya. Dalam perikop ini yang berlaku adalah hukum kasih. Siapa yang lebih banyak diampuni maka dia akan lebih banyak mengasihi. Seorang perempuan yang dikenal sebagai perempuan pendosa mencuci kaki Yesus dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya dan meminyakinya dengan minyak yang sangat mahal. Yesus berkata bahwa perempuan itu telah melakukan banyak kasih. Perempuan itu sungguh-sungguh merasakan ketidaklayakan dihadapan Yesus karenanya dia sangat mengasihi Yesus sebagai pribadi yang memberi pengampunan baginya.

Ketika kita menghayati akan besarnya pengampunan Allah secara cuma-cuma bagi kita apakah kita masih akan berbalik pada dosa pelanggaran kita. Paulus mengingatkan, jangan kiranya kita menyalah artikan kemerdekaan kita. Kita dimerdekakan dari dosa bukan dimerdekakan melakukan dosa.

Semakin kurenungkan arti pengampunan Tuhanku 
semakin aku mengasihi-Nya dan semakin aku berkomitmen untuk setia kepada-Nya. 
Kesetiaan kasih kepada Tuhanku melahirkan komitmen untuk hidup kudus dan taat. 

Kamis, 12 April 2012

Tidak Sekedar MenggugahTapi Memberi Hidup


Mazmur 119:145-150

Teks ini merupakan bagian dari perikop panjang Mazmur 119 yakni sebuah Mazmur sekaligus pasal terpanjang dalam Alkitab. Mazmur ini merupakan sebuah nyanyian Daud yang menggambarkan bagaimana Daud merasakan hanya Firman Tuhanlah yang menjadi penuntun hidupnya dan yang menghidupkannya. Secara khusus bagian ini menggambarkan bagaimana pemazmur merasakan hanya Firman Tuhanlah yang akan menolongnya di kala dia mendapat kesesakan karenanya dia senantiasa merindukan Firman Tuhan. Kerinduan itu ditunjukkan dengan merenungkan Firman Tuhan ketika pagi-pagi buta.

Dimanakah kita mencari jawaban ketika kita mengalami pergumulan? Firman Tuhan tidak terbatas menolong dan mengajar kita. Bukannya Firman kurang berkuasa sehingga kita tidak mendapat jawaban tetapi seringkali kita yang tidak memiliki kerinduan hati untuk datang dan mau dibentuk oleh Firman Tuhan. Kita datang membaca Firman dengan satu agenda atau karena ingin mendapat sesuatu sehingga ketika Firman yang kita baca tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan dan kitapikirkan, kita merasa kita tidak mendapat apa-apa akhirnya kita tidak mendapat kebenaran dalam Firman yang mampu memerdekakan kita. Bahkan, kita hanya membaca Firman ketika perlu saja.

Mazmur ini mengajarkan pada kita agar kita senantiasa memiliki kehidupan persekutuan dengan Firman Tuhan bukan kapan kita merasa perlu tetapi karena kita mengakui bahwa hanya Firman adalah cara Tuhan untuk menuntun kita sehingga dengan hati yang rindu kita senantiasa membaca Firman Tuhan secara teratur.

Motivator-motivator dan cerita-cerita inspirasi hanya mampu menggungah, 
Tetapi Firman Tuhan yang memiliki kuasa memberi hidup dan memerdekakan.

Rabu, 11 April 2012

Belajar Menyisihkan Sedikit Demi Sedikit


1 Korintus 16:1-4


Semasa saya kuliah, pernah suatu ketika salah seorang adik PA say menceritakan bahwa dia sedang kesulitan ekonomi. Waktu itu kami bercerita hingga tengah malam. Akhirnya aku hanya bisa mendengarnya dan pulang dengan sangat berat karena tidak dapat menolongnya. Keesokan harinya seorang sahabat saya datang ke rumah dan kami ngobrol seputar pelayanan yang sedang kami kerjakan hingga aku membukakan kondisi adik saya itu. Lalu teman saya mengeluarkan amplop dari tasnya dan berkata bahwa dia telah menyisihkan sebahagian uangnya dan berdoa pada Tuhan agar Tuhan menunjukkan siapa yang tepat menggunakan uang itu. Saya malu pada diri saya dan akhirnya saya belajar dari sahabat saya itu bagaimana pentingnya menyisihkan uang sehingga ketika ada yang sangat membutuhkan saya dapat menolong. Seringkali saya terhalang membantu orang lain karena saya tidak pernah mempersiapkannya.

Paulus di akhir suratnya kepada jemaan Korintus menuliskan agar jemaat tidak mengumpulkan persembahan misi mereka secara mendadak ketika Paulus akan datang atau ketika mereka akan memberikannya tetapi Paulus menekankan agar jemaat menyisihkan persembahan jauh-jauh hari dan terencana. Menolong orang lain atau memberipersembahan misi secara spontan memang kadangkala akan lebih kelihatan menggugah dan kurang perhitungan. Perikop ini justru mengajarkan agar kita melakukannya secara terencana. Hal ini akan menolong kita belajar mencukupkan diri. Karena seringkali kita selalu merasa kurang sehingga kita tidak pernah menolong orang yang membutuhkan.

Mari menyisihkan sebahagian dari apa yang kita dapatkan 
walau sedikit tetapi kita sedang belajar kemurahan.

Selasa, 10 April 2012

Bercanda Dengan Benar


Amsal 15: 1-4


Pagi ini sembari memasak, saya dan seorang kakak ngobrol dan bercanda. Sesekali secara refleks kami menggunakan istilah yang sering terdengar di TV dari seorang pembawa acara bincang-bincang sore di salah satu TV swasta. Beberapa kalimatnya yang kedengaran asyk adalah “masalah buat lo” dan “derita lo”. Kalimat-kalimat ini diucapkan sembari tertawa sehingga kedengaran hanya lelucon. Tapi tiba-tiba saya sadar, benarkah kalimat-kalimat itu kita ucapkan pada sesama? Lalu saya menyimpulkan, canda tidak harus merendahkan orang lain dan tidak menghargai orang lain. Selain gosip maka dosa lidah yang sering muncul adalah dalam canda. Dalam canda kita dapat akhirnya mengeluarkan kata-kata yang sudah merendahkan orang lain dan tidak menghormati orang lain.

Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan kata penulis amsal, bahkan ia akan kedengaran lembut dan seperti pohon kehidupan. Sebaliknya mulut orang bebal akan mendatangkan amarah karena hanya mengeluarkan kebodohan dan cendrung melukai hati orang lain.

Perkataan lemah lembut dengan jelas di paralelkan dengan pengetahuan dan pohon kehidupan dalam amsal ini, jadi perkataan lembut tidak identik dengan lemah, pelan atau enak terdengar. Dalam bahasa batak terdapat istilah “lamot-lamot songon begu” artinya ada orang yang berbicara dengan sangat halus tetapi tidak tulus dan mengandung kesombongan yang merendahkan orang lain. Jadi perkataan yang lemah lembut harus paralel dengan mengandung pengetahuan yang berarti kata-kata kita tidak kosong dan sia-sia serta paralel dengan pohon kehidupan yang berarti sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, mengarhargai dan menghormati orang lain.

Dalam canda memang akan kedengaran tidak menyakitkan tetapi jangan supaya kita kedengaran lucu kita akhirnya telah mengeluarkan kata-kata yang kosong, merendahkan orang lain dan menjadi sebuah kebodohan. Canda paling primitif adalah kata-kata yang mengandung seksualitas kemudian perendahan penampilan fisik seseorang dan kemudian menyinggung seseorang atau golongan tertentu.

Canda yang benar adalah perkataan yang merangsang pendengar untuk berpikir dan akhirnya mengerti letak kelucuannya dan tertawa dengan demikian canda kita adalah canda yang mendidik.

Minggu, 08 April 2012

Refleksi Hari Ini: Kebangkitan dan Keutuhan Hidup Kita


Markus 16:1-8


Sejak pukul 4 dini hari tadi, jalanan di depan rumah telah ramai. Orang-orang telah pergi beribadah dalam rangka peringatan kebangkitan Yesus. Bahkan beberapa gereja beribadah di pekuburan untuk lebih memaknai arti kebangkitan. Saya sendiri mencoba merefleksikan arti kebangkitan Yesus dalam Markus 16:1-8. Dalam ketiga injil terdapat beberapa kesamaan yakni para perempuan yang membawa minyak ke kuburan, adanya malaikat yang memberitahu kebangkitan Yesus dan pesan untuk menyampaikan kabar itu kepada murid yang lain dan juga tentu tema sentral bahwa Yesus telah bangkit.

Saya mengulang kembali bahwa Yesus telah bangkit. Ia bangkit dalam tubuh bukan dalam roh. Para murid tidak lagi melihat ada tubuh jasmani Yesus tetapi Yesus bangkit dan hidup dalam tubuh kebangkitannya. Karenanya saya mencoba merefleksikan lebih jauh bahwa Yesus hidup dalam tubuh artinya kita harus melepaskan pemikiran dan sikap dikotomi antara jasmani dan rohani. Dalam kebangkitan Yesus adanya integrasi kehidupan jasmani dan rohani. Jadi semangat kebangkitan Yesus adalah hidup dalam keutuhan. Bukan ketika peringatan kebangkitan Yesus kita menjadi sedemikian khusuk dan penuh penyembahan tetapi lantas ketika kita telah kembali kepada rutinitas keseharian dan pekerjaan kita sama sekali tidak lagi menghayati arti hidup dalam Tuhan.

Peringatan akan kebangkitan Yesus mestinya membawa semangat hidup yang terintegrasi antara teologi dan etika. Semangat misi kita bukan hanya perkara keselamatan jiwa tetapi hidup yang dibangkitkan di dalam Yesus Kristus dengan demikian tidak ada lagi orang-orang Kristen yang ketika beribadah sedemikian kudus tetapi dalam keseharian menjadi sama dengan dunia ini.

Secara tegas bahkan markus menyimpulkan bahwa Yesus melalui murid-murid-Nya memberitakan berita yang kudus dan keselamatan yang kekal. Jadi Yesus sendirilah yang sedang mengerjakan misi Allah bagi dunia melalui murid-murid-Nya. Yesus yang hidup dalam tubuh itulah yang sedang hidup membangun kerajaan-Nya melalui kita. Jadi tidak ada lagi keterpisahan antara kita mengerjakan misi seperti melayani dan beribadah di satu sisi dan kita yang perlu hidup di dunia di sisi lain. Ada sebuah kesatuan iman dan tindakan. Kita di pilih menjadi umat kepunyaan-Nya untuk membawa jalan Tuhan dalam hidup kita dan manusia agar semua bangsa beroleh berkat Allah.

Sabtu, 07 April 2012

Refleksi Hari Ini: Penanda Utama


1 Korintus 13:4-7

Sepanjang hari kemarin, umat Kristiani memperingati hari kematian Yesus dengan sangat khusuk. Beberapa gereja memanfaatkan momen ini untuk melakukan kebaktian kebangunan rohani. Sepanjang dinding FB tentu begitu banyak ekspresi dan ucapan peringatan kematian Yesus di kayu salib. Begitu banyaknya dan pada dasarnya semua mengakui kasih Kristus yang sedemikian besar. Tentu kita semua setuju akan kasih Yesus sebagai kasih terbesar di dalam dunia. Banyak yang menyatakan rasa syukur atas kasih Yesus yang mendatangkan keselamatan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Tetapi kemudian saya mulai berpikir sedemikian tampak sangat rohanilah orang-orang Kristen dalam ibadah maupun dalam ekspresi peringatan kematian Yesus, lantas apa dampaknya dan apakah itu melahirkan komitmen yang semakin dalam untuk mengasihi Tuhan.

Paulus dalam 1 korintus 13:4-7 menuliskan apa itu kasih. Bagian ini terletak dalam konteks panjang. Paulus telah lebih dulu membahas kekayaan gereja yang penuh dengan karunia-karunia dan apa tujuannya karunia jemaat dalam gereja (12:1-31). Setelah bagian ini nantinya Paulus akan membahas lebih terperinci karunia-karunia sebagai pemberian Tuhan bagi gereja (14:1-25). Gereja dapat menjadi sedemikian berkembang oleh kekayaan karunia yang ada dalam gereja itu tetapi seperti jemaat di korintus kekayaan karunia dalam gereja dapat pula memecah jemaat dan cendrung membuat gereja sombong. Karena itu Paulus memberi sebuah reffrein di antara pembahasan kekayaan gereja ini (13:1-13). Paulus berkata jika ia tidak memiliki kasih maka sama sekali ia tidak berguna. Apakah penanda utama gereja adalah kasih.

Dalam bagian ini Paulus menyatakan arti kasih itu sendiri. Dalam pengertian kasih yang dipaparkan ini maka kasih itu adalah Yesus sendiri. Hanya ketika kita ada di dalam Kristus maka kita dapat mampu sabar sebagaimana Yesus sabar atas keadaan manusia, di dalam Yesus kita akan mampu mengakui kelebihan orang lain bukan mencemburuinya dan tidak melebih-lebihkan karunia dalam diri atau menyombongkannya. Kasih di dalam Yesus akan mendorong kita untuk teratur bukan melakukan yang tidak sopan, mengutamakan orang lain bukan mencari keuntungan diri. Kasih di dalam Yesus memapukan kita menahan diri dan tidak merasa berhak marah atau sakit hati sehingga kita senantiasa dapat mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain karena kita menyadari kita telah menerima pengampunan dari Yesus secara cuma-Cuma.  Kasih di dalam Kristus akan membuat kita berduka atas setiap ketidakadilan dan tidak akan mau mendukung bahkan melakukan ketidakadilan tetapi dengan menegakkan kebenaran dan kasih mendorong kita untuk banyak menolong dengan demikian kita bisa banyak menutupi kekurangan orang-orang di sekitar kita, kasih kita di dalam Yesus memampukan kita melihat kebenaran hingga kita dapat berharap atas kasih yang menyentuh banyak orang. Dengan demikian kita dapat sabar menanggung segala sesuatu sebagaimana Yesus telah melakukannya.

Gereja dapat melakukan perayaan dengan berbagai kekayaan karunia yan dimilikinya atau setiap orang Kristen dapat merayakan dan megekspresikan Kasih Yesus di Golgota tetapi semua itu dapat berlalu dan tidak mempengaruhi apa pun dalam diri kita karena kita hanya merefleksikan, menghayati dan merayakannya tanpa diikuti menerima kasih itu dan menyatakannya bagi banyak orang.

Biarlah peringatan kematian dan kebangkitan Yesus bukan hanya perayaan kasih terbesar  di kayu salib tetapi menjadi penanda utama dalam hidup kita bahawa kita semakin hidup di dalam kasih itu. Dengan demikian kita dapat berkata tetapi jika aku tidak memiliki kasih aku sama sekali tidak berguna.

Jumat, 06 April 2012

Refleksi Hari Ini: Kasih Yang Memulihkan


Yohanes 15:1-16
Pada bagian pertama perikop ini yaitu ayat 1-8 merupakan sebuah pengandaian langsung oleh Yesus bahwa Dia adalah pokok anggur yang benar dan murid adalah ranting-rantingnya. Bagian ini menunjukkan sebuah hubungan organis antara Yesus dan murid. Ada sebuah persekutuan. Hubungan organis ini menurut Yesus adalah tinggal di dalam Dia. Yesus mengulang sampai beberapa kali agar murid-murid tinggal di dalam Dia karena hanya tinggal di dalam Yesus murid akan tumbuh dan berbuah banyak.

Bagian kedua perikop ini yaitu ayat 9-10 menjelaskan pernyataan tinggal di dalam Yesus. Yesus berkata, sama seperti Yesus mengasihi Bapa, demikianlah Yesus telah megasihi murid-murid-Nya, maka murid harus tinggal di dalam Yesus. Jadi, tinggal di dalam Yesus berarti tinggal di dalam Kasih-Nya.

Bagian ketiga perikop ini yaitu ayat 11-16 menjelaskan arti dari tinggal di dalam Kasih Yesus. Yesus berkata bahwa tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya dan Yesus berkata dengan jelas bahwa murid-murid adalah sahabat-Nya. Jadi tinggal di dalam kasih Yesus berarti tinggal di dalam kasih pengorbanan Yesus yang membawa keselamatan. Dan bukan murid yang memilih Yesus tetapi Yesuslah yang memilih murid. Jadi Yesuslah yang memilih murid sebagai sahabat yang menerima kasih pengorbanan-Nya yang menyelamatkan untuk dapat bersekutu kembali dengan Allah agar murid-murid berbuah banyak. Buah itu adalah kasih kepada sesama. Sebagai perintah Yesus berkata agar murid saling mengasihi.

Kita bersyukur untuk kasih Yesus yang membawa keselamatn manusia. Apakah kita telah menikmati kasih-Nya itu secara pribadi dan telah mengalami pemulihan hubungan dengan Allah? Hanya ketika datang kepada Yesus dan menerima-Nya secara pribadi maka kita akan dipulihkan di dalam kasih-Nya dan kita kembali mengalami persekutuan dengan Dia seperti ranting yang di cangkokkan kepada batang yakni Yesus sebagai pokok anggur yang benar.

Hari ini, sebagai orang Kristen kita pasti mengikuti berbagai ibadah peringatan kematian Yesus. Semua itu tidak akan berarti dan tidak menghasilkan buah jika kita belum menerima kasih Yesus yang berkorban itu secara pribadi dan jika kita belum mengizinkan kasih-Nya itu memulihkan hubungan kita dengan Allah, kita hanya ranting-ranting yang tidak terhubung dengan Allah. Mungkin kita menangis, tersentuh atau terharu saat mengikuti ibadah tetapi itu hanya sementara. Karena itu, mari memeriksa diri kita. Mari menerima Yesus secara pribadi dan izinkan kasih-Nya memulihkan kita dengan demikian kita kembali dicangkokan kepada pokok kebenaran yaitu Yesus sendiri, sehingga Jumat agung bukan hanya rutinitas tahunan tetapi sebuah peringatan pemulihan hubungan kita dengan Allah melalui darah Yesus . Hanya dengan demikian juga kita dapat berbuah yakni membagikan kasih yang kita terima kepada sesama kita.

Kamis, 05 April 2012

Refleksi Hari Ini: Digerakkan Oleh Kasih


Matius 26:6-13


Tahun 2007 saya menjadi pengurus pelayanan mahasiswa di kampus. Posisi ketua membuat saya menjadi sedemikian sibuk. Suatu ketika, saya bersama teman-teman pengurus sedang mempersiapkan beberapa program sehingga saya benar-benar banyak aktivitas. Akibatnya saya tidak lagi memprioritaskan untuk mengikuti kelompok kecil. Saya merasa saya benar dan kelihatan sedemikian rohani ketika saya di hubungi abang rohani saya untuk Kelompok kecil dan saya mengatakan saya tidak ikut karena ada kegiatan. Lalu tiba-tiba abang rohani saya berkata: “Kelompok Kecil ini kebutuhanmu atau kebutuhanku?” Saya tidak bisa berkata apa-apa. Tiba-tiba saya sangat sedih dan memutuskan meninggalkan kegiatan untuk mengikuti kelompok kecil. Selama kelompok saya akhirnya menyadari bahwa saya sudah sangat aktif dan kelihatan sangat rohani tetapi saya sesungguhnya sudah kehilangan kasih yang seharusnya menggerakkan saya melayani. Saya sudah merasa beres ketika melakukan banyak hal-hal rohani tetapi saya sendiri tidak lagi menikmati persekutuan dengan Tuhan. Tuhan mau saya diam dan mendengarkan Dia, Tuhan mau kita sungguh-sungguh menyatakan kasih dengan-Nya dan kasih itulah yang akan menggerakkan kita untuk melayani-Nya.

Sama halnya ketika murid-murid melihat seorang perempuan mengurapi Yesus dengan minyak wangi yang sangat mahal. Murid-murid berkata itu sebuah pemborosan, lebih baik munyak itu di ual dan diberikan kepada orang miskin. Murid-murid kelihatan sangat rohani tetapi Yesus berkata sebaliknya bahwa perempuan itu tidak salah. Perempuan itu telah melakukan apa yang terindah (beautiful thing). Perempuan itu digerakkan oleh kasihnya kepada Yesus dan pengakuannya bahwa Yesus adalah Raja (cat: Minyak urapan dalam perjanjian lama diberikan kepada raja). Ketika perempuan itu mau menunjukkan kasihnya yang besar kepada Yesus maka dia memberi apa yang terbaik dari dalam dirinya kepada Yesus. Dan kasih itu yang akan menggerakkan kasih yang besar kepada banyak orang lebih lama lagi karena Yesus berkata bahwa setiap kali injil diberitakan maka perempuan itu akan disebut.

Yesus menafsir perbuatan perempuan itu sebagai persiapan kematiannya. Konteks ini terletak setelah Yesus memberitahu tentang kematiannya dan sebelum Yesus akan ditangkap. Jadi perempuan itu bagian dari rencana Allah sedang murid-murid menafsir sendiri perbuatan perempuan itu tanpa mengerti rencana Allah.

Apakah belakangan ini kita banyak melakukan aktivitas? Mari saat ini kita coba refleksikan apakah kita masih digerakkan oleh kasih yang besar kepada Yesus? Atau apakah berbagai aktivitas kita telah menggeser hal yang utama yaitu bersekutu dan mendengarkan Tuhan? Jangan kiranya kita melakukan banyak aktivitas pelayanan tetapi sesungguhnya kita hanya tinggal melakukan apa yang kita pikirkan bukan lagi apa yang Tuhan gerakkan untuk kita kerjakan. Pemikiran kita yang penuh konsep teologi dan kematangan dalam merencanakan serta menyusun strategi pelayanan dapat membuat kita tidak lagi melakukan sesuatu dengan dorongan Kasih Kepada Yesus.

Rabu, 04 April 2012

Refleksi Hari Ini: Berjaga-jaga dan Menang Setiap Hari


1 Petrus 5: 8-11


Tahun 2003 saya masuk kuliah. Ketika itu warung internet di daerah saya kuliah masih tempat primadona karena para dosen mulai memanfaatkan dunia internet untuk berbagai tugas. Karenanya mahasiswa kerapkali harus ke warung internet. Ketika itu juga sebagai orang yang baru datang ke kota dan mengenal internet, ada sebuah kebebasan yang sangat menggoda untuk menjelajah di dunia internet. Maka saya bersama teman-teman saya mahasiswa baru seringkali ke warnet bersama dan sebagai orang muda maka tak jarang teman-teman membuka situs-situs yang menyediakan video-video porno. Hal itu serasa wajar di antara kami. Sampai ketika saya mulai dibina dalam pelayanan mahasiswa saya akhirnya bertobat dan menerima Yesus. Saya di bina oleh seorang abang rohani.

Sejak saya di bina oleh abang rohani saya, dia selalu bertanya apakah ada tugas yang harus di cari di internet dan dia selalu menawarkan diri untuk menemani saya. Akhirnya saya mengerti bahwa ketika saya ke warung internet bersamananya maka saya terbebas dari godaan dosa dunia internet. Tuhan memperlengkapi saya melalui abang rohani saya untuk berkemenangan. Petrus berkata agar kita senantiasa berjaga-jaga karena iblis senantiasa berjalan berkeliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang untuk ditelannya. Godaan untuk jatuh ke dalam dosa ada disekitar kita. Bahkan kejatuhan kita dalam dosa sangat tidak kentara. Godaan itu ada bersama kita setiap saat karenanya kita harus melawannya dengan iman yang teguh.

Kita tidak dapat berpikir bahwa kita tidak akan jatuh. Kejatuhan kita seringkali di awali dari kelalaian kita dalam hal-hal sederhana. Karena itu Petrus menasihatkan kita harus melawan dengan iman. Menahan diri dan siap menderita. Penderitaan dalam konteks perikop ini (1 Petrus 5:8-11) merupakan penderitaan berupa penganiayaan bagi orang-orang yang berpegang pada iman kepada Yesus. Saat ini, mungkin kita tidak sampai menderita aniaya tetapi kita harus siap menahan diri dari kesenangan-kesenangan dunia yang dinikmati orang-orang di sekitar kita. Maka Allah yang telah memanggil kita ke dalam kemuliaan-Nya dalam Yesus akan memperlengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita melalui caranya sendiri. Saya menerimanaya ketika itu melalui abang rohani saya dan saat ini seringkali melalui persekutuan pribadi saya.

Jangan menganggap remeh kesendirian dan pelanggaran-pelanggaran kecil segeralah bangkit dan bertekun dalam firman agar kita mampu bertahan melawan godaan-godaan yang lebih besar. Karena kejatuhan kita yang terbesar pasti diawali kejatuhan kita dalam perkara-perkara kecil hingga kita tidak lagi peka akan dosa sebaliknya kemengan kita yang besar selalu di awali kedisiplinan-kedisiplinan kita dari hal-hal sederhana.

Allah memperlengkapi, menguatkan dan meneguhkan kita melalui disiplin-disiplin rohani kita sehari-hari.

Selasa, 03 April 2012

Refleksi Hari Ini: Taat Penuhi Rencana-Nya


Matius 1:18-25
 Tentu masih segar dalam ingatan kita ketika rapat paripurna DPR untuk mensahkan RAPBN-P beberapa hari lalu. Tiba-tiba beberapa fraksi di DPR dengan keras mengklaim bahwa suara mereka adalah suara rakyat maka mereka menolak kenaikan BBM seperti yang diserukan oleh rakyat yang berdemonstrasi di luar gedung dan beberapa daerah. Tetapi sesungguhnya mereka hanya sedang memikirkan nama baik partainya dan tidak sungguh-sungguh memikirkan rakyat. Mereka mengatasnamakan rakyat tetapi sesungguhnya mereka hanya sedang menjaga popularitas, nama baik dan golongannya. Mereka cendrung mengutamakan kepentingan diri dari kepentingan orang banyak.

Ketika Yusuf tahu bahwa Maria tunangannya mengandung maka dia berencana untuk membatalkan pertunangannya dengan alasan untuk menjaga nama baik maria. Sepintas hal ini dapat diterima karena jika perkawinan mereka batal maka orang akan tahu bahwa maria mengandung bukan karena telah berzinah dengan Yusuf. Tetapi kalau kita perhatikan lebih jauh sebenarnya Yusuf bukan hanya memikirkan maria tetapi juga menjaga nama baiknya di hadapan orang-orang. Yusuf memikirkan nama baiknya di hadapan orang banyak tetapi Tuhan tidak mengizinkan hal itu terjadi. Tuhan melalui malaikat-Nya menyatakan apa sesungguhnya misi Tuhan. Ini bukan tentang nama Yusuf dan Maria tetapi Nama bayi yang dikandung oleh maria yaitu Yesus karena Dialah yang akan meghapus dosa orang banyak.

 Yusuf akhirnya menerima rencana Tuhan walau hal itu akan mendatangkan berbagai prasangka dan pandangan buruk dari banyak orang. Bagi Yusuf dan Maria akhirnya yang terpenting adalah menggenapi rencana Tuhan untuk keselamatan orang banyak walau harus menjalani jalan yang sepi. Hidup  bagi Yusuf dan Maria bukan lagi mencari popularitas, menjaga nama baik dihadapan manusia tetapi ketaatan pada rencana Tuhan demi mewujudkan misi Allah bagi dunia.
Biar sepi jalan kutempuh
Susah dan berat kutanggung atasku
Asal kutaat pada Tuhanku
Sukacitaku Kau sertaiku (RDS)