Amsal 15: 1-4
Pagi ini sembari memasak, saya dan seorang kakak ngobrol dan bercanda.
Sesekali secara refleks kami menggunakan istilah yang sering terdengar di TV
dari seorang pembawa acara bincang-bincang sore di salah satu TV swasta. Beberapa
kalimatnya yang kedengaran asyk adalah “masalah buat lo” dan “derita lo”. Kalimat-kalimat
ini diucapkan sembari tertawa sehingga kedengaran hanya lelucon. Tapi tiba-tiba
saya sadar, benarkah kalimat-kalimat itu kita ucapkan pada sesama? Lalu saya
menyimpulkan, canda tidak harus merendahkan orang lain dan tidak menghargai
orang lain. Selain gosip maka dosa lidah yang sering muncul adalah dalam canda.
Dalam canda kita dapat akhirnya mengeluarkan kata-kata yang sudah merendahkan
orang lain dan tidak menghormati orang lain.
Lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan kata penulis amsal, bahkan
ia akan kedengaran lembut dan seperti pohon kehidupan. Sebaliknya mulut orang
bebal akan mendatangkan amarah karena hanya mengeluarkan kebodohan dan cendrung
melukai hati orang lain.
Perkataan lemah lembut dengan jelas di paralelkan dengan pengetahuan
dan pohon kehidupan dalam amsal ini, jadi perkataan lembut tidak identik dengan
lemah, pelan atau enak terdengar. Dalam bahasa batak terdapat istilah “lamot-lamot
songon begu” artinya ada orang yang berbicara dengan sangat halus tetapi tidak
tulus dan mengandung kesombongan yang merendahkan orang lain. Jadi perkataan
yang lemah lembut harus paralel dengan mengandung pengetahuan yang berarti
kata-kata kita tidak kosong dan sia-sia serta paralel dengan pohon kehidupan
yang berarti sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, mengarhargai dan menghormati
orang lain.
Dalam canda memang akan kedengaran tidak menyakitkan tetapi jangan
supaya kita kedengaran lucu kita akhirnya telah mengeluarkan kata-kata yang
kosong, merendahkan orang lain dan menjadi sebuah kebodohan. Canda paling
primitif adalah kata-kata yang mengandung seksualitas kemudian perendahan
penampilan fisik seseorang dan kemudian menyinggung seseorang atau golongan
tertentu.
Canda yang benar adalah perkataan yang merangsang pendengar untuk
berpikir dan akhirnya mengerti letak kelucuannya dan tertawa dengan demikian
canda kita adalah canda yang mendidik.
betul bg...
BalasHapusMakasih Udah Baca Renungan ini
BalasHapus